Mengalap Hikmah dari Musibah

Salah satu masjid di Aceh yang roboh akibat gempa/ Merdeka.com

GEMPA yang mengguncang Kabupaten Pidie Jaya, Pidie dan Bireuen di Propinsi Aceh , Rabu (7/12) adalah musibah kesekian kalinya yang melanda wilayah paling ujung barat Indonesia itu pasca gempa besar berskala  9 SR disusul tsunami pada 26 Desember 2004.

Pada peristiwa gempa Rabu lalu sebagian bersar korban meninggal atau terluka akibat tertimpa reruntuhan bangunan, sedangkan pada bencana besar 12 tahun lalu yang merenggut lebih 200.000 nyawa, korban-korban berjatuhan akibat sapuan air laut berasal dari gelombang tsunami.

Posisi geografis Indonesia di wilayah rentan gempa tidak bisa dihindari  karena berlokasi di pertemuan tiga lempeng aktif dunia (Indo-Australia, Euro-Asia dan lempeng Pasifik di bagian timur) serta  di kawasan cincin api lingkar Pasifik dimana 142 gunung berapi aktif berada.

Perlunya kewaspadaan bukan tanpa alasan, karena seperti diingatkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB),  sekitar 40 persen atau l48,4 juta penduduk Indonesia tinggal di wilayah rawan bencana.

Seperti ditulis Kompas (8/12) musibah Pidie di sisi lain mengundang perdebatan, dan juga menghasilkan temuan baru mengenai sumber pemicu gempa.

Pengajar Jurusan Fisika Universitas Syiah Kuala, Aceh Nazli Ismail yang sedang meneliti zona sesar darat di Aceh juga ragu mengenai sumber pembangkit gempa Pidie.

Jika merujuk lokasi pusat atau epicenter gempa,  menurut dia, jaraknya paling dekat dengan patahan Samalanga-Sipopok, namun letaknya masih di luar jalur patahan tersebut sehingga tidak bisa dipastikan .

Pakar kegempaan lainnya, Irwan Meilano dari ITB juga mengakui bahwa pusat gempa Pidie berada di luar peta Bahaya gempa Bumi Nasional yang dimuat dalam Standar Nasional (NSI) 2010.

Domain para pakar lah untuk meneliti lebih jauh karakteristik gempa Pidie yang menyimpang dari kejadian-kejadian sebelumnya dimana gempa pada umumnya berasal dari sesar atau patahan tertentu.

 Akrab Bencana

Aceh memang termasuk wilayah yang akrab dengan musibah gempa mengingat lokasinya berada di lintas patahan kedua terpanjang di dunia yakni Sesar Raksasa Sumatera (Sumatera Great Fault Zone) yang membentang dari Teluk Semangka, Lampung  sampai P. Sabang dan Laut Andaman.

Gempa berkekuatan 6,5 SR meluluhlantakkan Kabupaten Pidie Raya, Pidie dan Bireuen, Rabu pukul 5.03 WIB sejauh ini menelan 103 korban jiwa, tujuh hilang dan menyebabkan  750 korban luka berat dan ringan.   Jumlah korban kemungkinan masih bertambah mengingat belum seluruh bangunan runtuh bisa dieksavasi.

Di Pidie tercatat dua korban tewas, 50 rumah dan dua ruko ambruk, sementara di Pidie Jaya 96 korban tewas, 127 luka berat dan 462 luka ringan, 268 rumah, 105 ruko dan 13 mesjid ambruk, sedangkan di di Bireuen dua korban tewas, delapan luka berat dan 127 luka ringan, 111 rumah, 22 ruko, tiga pondok pesantrean dan satu bangunan sekolah ambruk.

Pakar konstruksi Universitas Syiah Kuala, Aceh, Taufik Saidi menilai, rubuhnya sejumlah bangunan pada bencana gempa Rabu lalu perlu dijadikan pembelajaran. Ia meragukan kekuatan konstruksi bangunan-bangunan tersebut apakah sudah memenuhi standar konstruksi yang ditetapkan.

Selama ini, menurut dia, Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang dikeluarkan selain formalitas, juga hanya mengatur tata letak bangunan saja, tidak merinci ketentuan mengenai konstruksi, apalagi merujuk pada ketahanan terhadap gempa.                        “Pengawasan juga hampir tidak ada, “ tuturnya.

Survei mengenai kondisi tanah, desain dan konstruksi bangunan, juga penggunaan bahan-bahan sesuai standar yang ditetapkan, tentunya juga dapat mencegah jatuhnya korban.

“Memang, biasanya petugas, asal tandatangan saja. Tidak menyurvei IMB yang akan dikeluarkan, “ kata Dirjen Penyediaan Perumahan Rakyat Kementerian Pekerjaan Umum Syarif Burhanuddin M. Eng.

Sejauh ini di Indonesia memang belum ada pengembang yang diajukan ke pengadilan akibat kesalahan konstruksi sehingga menyebabkan bangunan yang dikerjakanya rusak atau rubuh akibat bencana alam.

Berbeda dengan di Jepang misalnya. Pemerintah Provinsi Miyagi divonis pengadilan untuk membayar ganti rugi sebesar 13,4 juta dolar AS kepada 13 keluarga korban tewas karena dianggap lalai menangani gempa dan tsunami di wilayah itu (pada 11 Maret 2011).

Hal serupa terjadi di Taiwan. Pengembang dan arsitek apartemen berlantai 17 di kota Tainan dijebloskan ke bui akibat robohnya bangunan tersebut sehingga menewaskan 43 penghuninya saat terjadi gempa pada 16 Februari lalu.

Pembelajaran dari musibah Pidie. Penelitian dan kesiapan terkait gempa dan bencana alam lainnya , tindakan mitigasi, penanggulangan dan rehabilitasi, perlu dilakukan seoptimal mungkin.   Investigasi pada pihak-pihak  atau instansi yang dianggap melalaikan tugasnya adalah bagian penting pula untuk mencegah terulangnya musibah serupa.

Hikmah bencana Pidie yang membangkitkan optimisme adalah semangat warga yang bahu-membahu membantu korban di lokasi kejadian, hadirnya para relawan  dan uluran tangan yang disampaikan warga di wilayah-wilayah Indonesia lainnya.

Tidak hanya warga atau pengusaha kaya saja yang menyumbang, tetapi juga masyarakat kelas “wong cilik” seperti pengojek atau pedagang kaki-lima, bahkan anak-anak yang merelakan uang jajan dan celengan mereka.

Terus waspada, awasi secara ketat setiap perizinan,  lakukan investigasi pasca musibah dan ambil hikmah di balik setiap bencana!

 

 

Advertisement