JAKARTA, KBKNews.id – Prof Tjandra Yoga Aditama, Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), memberikan penjelasan medis terkait penyakit yang diderita Paus Fransiskus sebelum wafat, yaitu pneumonia ganda atau double pneumonia.
Menurut jandra, istilah tersebut sebenarnya tidak umum digunakan secara medis. Pneumonia ganda merujuk pada kondisi infeksi paru-paru yang menyerang kedua sisi paru, baik kiri maupun kanan. Dalam dunia medis, kondisi ini lebih dikenal dengan istilah pneumonia bilateral.
“Sebenarnya, istilah pneumonia ganda, atau double pneumonia bukanlah istilah yang terlalu lazim digunakan di dunia kedokteran,” katanya.
Pneumonia sendiri merupakan peradangan atau infeksi paru-paru yang umumnya disebabkan oleh bakteri atau virus, meskipun dalam beberapa kasus bisa juga disebabkan oleh jamur atau parasit.
“Kita juga tahu bahwa kita memang punya dua belah paru. Paru kiri terbagi lagi dalam dua bagian, atau istilah kedokterannya dua lobus, atas dan bawah, serta paru kanan terdiri dari tiga lobus, atas, tengah dan bawah, yang dipisahkan oleh sekat yang disebut fisura,” ujarnya.
Berdasarkan laporan Vatican News pada Februari lalu, diketahui Paus Fransiskus sempat mengalami gangguan pernapasan yang digambarkan menyerupai krisis asma, dan membutuhkan bantuan oksigen beraliran tinggi (high-flow oxygen).
Selain itu, pemeriksaan laboratorium menunjukkan Paus mengalami penurunan kadar trombosit (trombositopenia) serta anemia.
Media The Conversation menambahkan bahwa istilah pneumonia ganda juga bisa merujuk pada infeksi paru yang disebabkan oleh lebih dari satu jenis mikroorganisme atau infeksi polimikrobial.
“Kondisi ini dikenal sebagai infeksi polimikrobial, yang bisa melibatkan kombinasi bakteri, virus, jamur, atau organisme lainnya,” kata Tjandra.
Lebih lanjut, Prof Tjandra mengungkapkan bahwa Paus Fransiskus pernah menjalani operasi pengangkatan sebagian paru-parunya pada tahun 1957 akibat infeksi parah.
Berdasarkan laporan Vatican News tertanggal 18 Februari 2025, infeksi yang dialami Paus belakangan ini terjadi dalam konteks bronkiektasis dan bronkitis asmatik, yang memperparah kondisinya.





