Mengenang Suryadharma Ali, Figur Politik Religius yang Penuh Warna

JAKARTA, KBKNews.id – Jakarta kembali diselimuti duka setelah beredar kabar wafatnya Suryadharma Ali, Menteri Agama RI periode 2009–2014. Informasi duka itu menyebar cepat melalui grup WhatsApp Kementerian Agama. Suryadharma Ali mengembuskan napas terakhirnya pada pukul 04.18 WIB di RS Mayapada, Jakarta.

Jenazahnya disemayamkan di kediaman keluarga di Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, dan dimakamkan setelah salat Zuhur di Pondok Pesantren Miftahul’Ulum, Cikarang Barat, Bekasi.

Riwayat Hidup dan Karier

Lahir pada 19 September 1956, Suryadharma Ali dikenal sebagai tokoh politik berpengaruh yang pernah mengemban sejumlah jabatan penting di pemerintahan dan partai. Ia menamatkan pendidikan sarjananya di IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada 1984.

Perjalanan kariernya dimulai di dunia korporasi sebagai Deputi Direktur di PT Hero Supermarket. Namun, sejak 2001 ia mulai aktif di dunia politik. Ia dipercaya menjadi Ketua Komisi V DPR RI hingga 2004, serta menjabat sebagai Bendahara Fraksi PPP di MPR RI (2004–2009).

Namanya semakin mencuat saat ia terpilih sebagai Ketua Umum PPP menggantikan Hamzah Haz pada 2007, dan kembali dipercaya memimpin partai untuk periode kedua hingga 2014.

Kemampuannya dalam memimpin membawanya dipercaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Menteri Negara Koperasi dan UKM (2004–2009), lalu dilanjutkan sebagai Menteri Agama (2009–2014) di Kabinet Indonesia Bersatu II.

Kasus Hukum

Namun, menjelang akhir masa jabatannya, Suryadharma Ali tersandung kasus dugaan korupsi dana haji. Ia ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan mengundurkan diri dari jabatan Menteri Agama pada 26 Mei 2014. Surat pengunduran diri resmi disampaikan kepada Presiden SBY dua hari kemudian.

Dalam proses hukum, ia didakwa merugikan keuangan negara. Jaksa menuntutnya membayar kerugian negara sebesar Rp2,23 miliar.

Pada akhirnya, ia divonis 6 tahun penjara, denda Rp300 juta subsider 3 bulan kurungan, serta diwajibkan mengganti kerugian negara sebesar Rp1,8 miliar subsider 2 tahun penjara karena terbukti bersalah dalam pengelolaan dana haji 2010–2013.

Setelah menjalani masa tahanan di Lapas Sukamiskin, Bandung, dan memperoleh remisi, ia bebas bersyarat pada 6 September 2022.

Kenangan dan Penghormatan

Meski sempat tersandung kasus, wafatnya Suryadharma Ali tetap membawa duka mendalam bagi banyak pihak. Menteri Agama Nasaruddin Umar, mengenang almarhum sebagai sosok yang berdedikasi dalam membangun tata kelola keagamaan di Indonesia.

Semasa menjabat, ia dinilai berperan penting dalam penguatan lembaga keagamaan, peningkatan kualitas pendidikan madrasah dan pesantren, serta mendorong reformasi birokrasi di Kementerian Agama.

Suryadharma juga dikenal sebagai tokoh yang mendorong digitalisasi layanan haji, yang menjadi dasar modernisasi pelayanan haji saat ini.

“Kiprah beliau dalam membangun dialog antarumat beragama juga patut dikenang sebagai bagian dari upaya menjaga kerukunan nasional,” ujar Nasaruddin.

Nasaruddin mengajak seluruh jajaran Kemenag untuk melaksanakan salat gaib dan mendoakan almarhum.

Wakil Presiden ke-13 Republik Indonesia, KH Ma’ruf Amin, turut menyampaikan rasa duka mendalam atas wafatnya Suryadharma Ali. Ia mengenang almarhum sebagai sosok pejuang sejak usia muda yang telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa dan negara, sehingga layak dijadikan panutan.

Dalam keterangannya di rumah duka, Ma’ruf Amin mengaku mengenal Suryadharma sejak kecil karena hubungan dekat dengan keluarganya.

Ia juga menyoroti pengabdian panjang Suryadharma dalam berbagai organisasi dan jabatan. Almarhum pernah aktif di PB PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), Nahdlatul Ulama (NU), dunia politik, serta pernah menjabat sebagai Menteri Koperasi dan Menteri Agama.

“Kontribusinya banyak, baik untuk masyarakat, bangsa, maupun negara,” tutur Ma’ruf, dikutip dari Antara.

Ia menambahkan, meskipun manusia tak luput dari kekurangan, kebaikan dan pengabdian Suryadharma jauh lebih besar dan patut diteladani.

“Beliau orang yang pantas untuk dihormati dan bisa diteladani. Tentu saja manusia bisa punya kekurangan, tapi kebaikannya lebih banyak dan patut dijadikan contoh,” ujarnya.

Ma’ruf juga mendoakan agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Sementara itu, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), juga turut menyampaikan belasungkawa. Ia mengenang Suryadharma sebagai pribadi yang baik semasa hidupnya.

“Kami pernah sama-sama menjadi menteri. Beliau adalah sosok yang baik dalam hidupnya,” kata JK.

JK juga menilai Suryadharma sebagai sosok yang telah mengabdikan diri bagi negara, masyarakat, dan partai politik. Ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama mendoakan almarhum.

“Sekali lagi, mari kita mendoakan beliau,” pungkasnya.

Ucapan belasungkawa juga datang dari Wakil Ketua Umum PP Muhammadiyah, Anwar Abbas, yang mengenal dekat Suryadharma sejak masa kuliah. Menurutnya, almarhum merupakan pribadi cerdas, aktif berorganisasi, dan memiliki jiwa kepemimpinan sejak muda.

“Suryadharma Ali adalah adik kelas saya, tapi kami tinggal di asrama yang sama,” kata Buya Anwar mengenang sahabatnya itu.

Baginya, Suryadharma sudah dikenal sebagai mahasiswa yang cemerlang dan memiliki kepedulian tinggi terhadap organisasi dan kepemimpinan. Maka tidak heran, Suryadharma dapat menempati posisi strategis di pemerintahan maupun di partai.

Sekretaris Jenderal PPP, Arwani Thomafi, turut menginstruksikan seluruh kader partai untuk melaksanakan salat gaib dan tahlil sebagai bentuk penghormatan.

Menurut Arwani, kontribusi dan pemikiran Suryadharma Ali akan selalu menjadi inspirasi dan warisan penting bagi generasi penerus.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here