Menghadang Laju Lonjakan Covid-19

Dibukanya kembali kegiatan usaha di sepanjang wilayah Jalur Pantura Jawa,dikhawatirkan menjadi titik-titik penyebaran baru Covid-19.

ALIH-alih mereda, kasus-kasus korban terpapar Covid-19 cenderung meningkat dari hari ke hari, sementara  virusnya sendiri yang semula cuma bisa menyebar melalui droplet, kini bisa lintas udara atau airborne.

Lojakan harian rata-rata di atas 1.000 kasus terjadi sejak Jumat lalu (3/7) hingga Jumat hari ini (10/7) yakni 1.385 kasus, 1.624, 1.607, 1.209, 1.268 dan 1.853, bahkan Kamis (9/7) mencapai rekor sebanyak 2.657 kasus.

Sementara pada Jumat sore (10/7), tercatat kenaikan 1.611 kasus menjadi 72.347 kasus, dengan total jumlah korban meninggal menjadi 3.469 orang dan yang dinyatakan sembuh 33.529 orang.

Mantan Wapres Jusuf Kalla mengakui, lonjakan kasus Covid-19 terjadi  mengikuti pola deret ukur, sedangkan penanganannya berjalan bagaikan deret hitung, alias terus tertinggal.

Kluster penyebaran Covid-19 di lingkungan asrama muncul lagi setelah 1.262 siswa Secapa TNI-AD di Bandung, Jawa Barat terpapar dan sebelumnya 300 siswa  Secapa Polisi di Sukabumi akhir Maret lalu serta tujuh santri Pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur.

Selain pasar-pasar, warung-warung dan angkutan umum terutama KRL di wilayah Jabodetabek, titik-titik baru sentra penyebaran Covid-19 juga sewaktu-waktu bisa muncul  di sepanjang wilayah Pantura Jawa menuju timur antara Semarang dan Surabaya.

Mungkin di sepanjang jalur Pantura barat dari Semarang menuju Cirebon sampai Jakarta lonjakan Covid-19 relatif kecil,mengingat banyak pelintas yang melalui jalan toll.

Longgarnya pengawasan pasca era PSBB di wilayah Jatim sejak medio  Juni lalu dibarengi dengan mulai mengeliatnya kegiatan ekonomi terutama bukanya kembali warung-warung di sepanjang wilayah pantura Jatim, membuat angka penyebaran Covid-19 melonjak.

Pengakuan Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) bahwa penyebaran virus SARS-CoV-2 pemicu Covid-19 juga bisa melalui partikel yang melayang di udara, tidak hanya melalui droplet, juga menambah ketidakpastian kapan pandemi Covid-19 berakhir.

Bukti tentang adanya transmisi virus corona bersifat airborne diakui sendiri oleh pimpinan teknis pencegahan dan pengendalian infeksi WHO Benedetta Allegranzi, walau pun kasus-kasusnya masih terbatas.

“Kemungkinan terjadi transmisi (corona virus) di lingkungan publik lewat udara, khususnya pada kondisi sangat spesifik, padat, tertutup dan berventilasi buruk, tapi bukti-bukti tersebut tidak bisa diabaikan, ” kata salah seorang petinggi WHO Bendetta Allegranzi (7/7).

Potensi outbreak Covid-19 semakin mencemaskan, jadi tidak ada alasan untuk mengendurkan protokol kesehatan, demi keselamatan diri, keluarga dan warga lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement