Menilik Pesona Wisata Sejarah Melaka

JAKARTA (KBK) – Angin khas pesisir berhembus pelan dalam cerahnya pagi di Red Square, Kota Melaka, Malaysia. Ditemani sorot cahaya mentari yang baru meninggi salah satu dari segerombolan wisatawan tampak memanjangkan tongkat eksis seraya berdiri membelakangi jajaran bangunan merah. Sambil melemparkan senyum mereka larut berswafoto. Bagi kamu penikmati wisata sejarah, Kota Melaka sepertinya patut dimasukan kedalam daftar destinasi untuk plesiran.

Di kota berjuluk Bandaraya yang letaknya persis bersanding dengan Selat Malacca tersebut banyak bangunan peninggalan masa lampau hasil akulturasi budaya. Salah satunya adalah Christ Church Melaka atau yang lebih dikenal dengan gereja merah.

Christ Church Melaka merupakan sebuah gereja peninggalan Belanda yang didirikan tahun 1753. Selepas Malaysia merdeka bangunan yang telah dinobatkan UNESCO sebagai World Heritage di tahun 2008 itu pun tak berubah fungsi, tetap melayani jemaatnya tiap pekan. Di samping bangunan ikonik tersebut, berdiri Museum Belia Malaysia yang menyimpan beragam peninggalan sejarah Kota Melaka.

Hanya dengan merogoh kocek RM 3.00 para pelancong sudah bisa mendapatkan ilmu sarat sejarah kota Melaka mulai dari masa pendudukan Portugis, penjajahan Inggris hingga invasi Jepang ke Semenanjung Malaya. Di Museum bergaya art deco tersebut, para wisatawan juga dapat melihat beragam karya seni hasil pelukis asal negri jiran.

Di pelataran Red Square kegirangan wisatawan kian menjadi-jadi. Di setiap sudut halaman seluas 500 meter persegi itu wisatwan terus disibukan berswafoto. Bila ingin berkeliling kota sarat sejarah tersebut, wisatawan bisa menumpang becak yang telah dibalut oleh ratusan bunga dan boneka.

Dalam perjalanan menelusuri Kota Melaka setiap wisatawan dijamin tak bakal kesepian, karena selama berpusing-pusing sang driver bakal memutarkan lagu bervolume keras. Uniknya lagu-lagu yang didengarkan tak jarang merupakan lagu dangdut asal Indonesia. Untuk biaya sewa becak dikenakan RM 10.00 per satu kali putaran.

Setelah menelusuri Red Square saatnya bergeser posisi ke rumah klasik yang merupakan Galery Laksamana Cheng Ho yang posisinya tepat berada dibelakang Gereja Merah. Dari kejauhan bangunan bermaterial kayu tersebut tampak sangat terawat meski sudah berusia ratusan tahun. Dengan balutan warna biru merah rumah hasil akulturasi budaya melayu dan barat itu tak luput dari bidikan lensa wisatwan untuk berswafoto.

Naik sedikit ke atas bukit di depan Galery Laksamana Cheng Ho, berdiri gagah benteng A’Famousa peninggalan Portugis. Dari benteng yang berada di ketinggian 50 MDPL tersebut wisatawan dapat dengan leluasa memandangi puluhan kapal niaga yang lalu lalang di Selat Malacca.

Selain di A’Famousa wisatawan juga dapat melihat seisi Kota Melaka dengan mencoba wahana Menara Taming Sari. Cukup dengan RM 30.00 untuk dewasa dan RM 20.00 khusus anak-anak, wisatawan akan diajak naik sambil berputar hingga ketinggian 90 MDPL selama 30 menit. Bagi pegiat fotografi rasanya wajib mencicipi Menara Taming Sari.

Puas mengeksplore melalui darat dan udara, saatnya menjelajah Melaka menggunakan Melaka River Cruise. Dengan harga tiket RM 16.00 wisatawan akan diajak memelah sungai melaka sepanjang 9 kilometer selama 45 menit. Selama perjalanan wisatawan akan dimanjakan oleh deretan bangunan antik nan eksotis layaknya di Eropa. Cafe-cafe tepi sungai juga berdiri apik menyapa tiap pengunjung yang menumpang Melaka River Cruise.

Selain kaya wisata sejarah, Melaka juga memiliki surga kuliner yang berada di Jalan Jonker alias Jonker Walk. Di sana beragam jajanan dan makanan khas China, Melayu hingga Thailand dapat dengan mudah ditemui. Ada sate cumi, kue keria, teh tarik, barbeque daging sapi, sea food, aneka mie goreng dan lain sebagainya. Selama di Jonker Walk jangan takut makanan yang disajikan tak halal karena penjualnya akan mengingatkan tiap konsumen yang mendekat ke gerainya.

Dari Jakarta akses menuju Melaka cukup mudah. Pertama pesan penerbangan dengan tujuan Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA2), dari sana anda bisa meneruskan perjalanan menggunakan Bus jurusan Melaka Central yang tersedia di Bus Station KLIA2 dengan jadwal keberangkatan setiap satu jam sekali dengan harga tiket RM 24.00 per orang.

Setelah menempuh perjalanan via tol road selama 2,5 jam anda akan tiba di Melaka Central, sebuah terminal bus terpadu yang terletak di pinggiran Kota Melaka. Untuk mencapai penginapan, perjalanan bisa anda teruskan dengan mengorder taksi online. Menyoal harga penginapan tak perlu risau karena banyak penginapan tersedia dengan harga terjangkau, bila beruntung anda menginap di sebuah kamar berukuran 4 X 4 meter persegi seharga RM 60.00 per malam lengkap dengan fasilitas penunjang seperti kamar mandi, handuk dan sarapan.

Untuk sekedar berkeliling, setiap penginapan di Melaka juga menyediakan layanan rental sepeda dengan biaya sewa RM 10.00 yang bisa anda gunakan hingga chek out. Tertarik menghabiskan waktu liburan ke Melaka?

 

Advertisement