MINGGU kemarin ramai diberitakan tentang Cak Budi yang membeli Toyota Fortuner dan HP iPhone 7 dengan menggunakan dana sosial yang berhasil dikumpulkannya. Juga tentang Said Iqbal presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), yang membangun rumah senilai Rp 4 miliar. Publik (netizen) mencurigai bahwa mereka tidak mampu menjaga amanah umat. Kasarnya, mereka cari untung dari kepercayaan yang dibebankan kepadanya.
Membaca berita semacam itu jika sumbernya dari internet yang tak jelas adminnya, apalagi dari medsos; memang bisa bikin panas hati dan kuping. Panas hati bagi mereka yang telah mengirim uang, karena dana kirimannya disalahgunakan. Panas kuping bagi sang penyelenggara, karena mendapat kecaman tajam dari netizen yang sebetulnya tidak tahu duduk masalah sebenarnya, karena mereka memang sekedar nimbrung. Padahal kejadian sebenarnya tidak mutlak seperti itu.
Ketika KSPI menggelar demo tradisionilnya setiap tanggal 1 Mei, massa buruh masuk Balaikota DKI. Lalu entah siapa yang mulai, tahu-tahu sejumlah karangan bunga untuk Ahok-Jarot dibakar massa. Said Iqbal sudah minta maaf atas pembakaran itu. Beberapa jam kemudian muncul gambar di medsos bahwa Said Iqbal sedang membangun rumah mewah seharga Rp 4 miliar di kawasan Kalisari, Pasar Rebo Jakarta Timur.
Opini yang hendak dibangun, Said Iqbal –yang digaji Rp 6 juta dari organisasi– membangun rumah dari iuran buruh, sementara buruhnya harus berjemur demo dan banyak yang tinggal di rumah kontrakan. Sayangnya Said Iqbal tak mau menjelaskan sumber dana pembangunan rumah tersebut, sehingga netizen pun semakin curiga bahwa Said Iqbal sengaja “memperalat” kaum buruh.
Tahun 1980-an seorang pemilik koran terbesar di Jakarta bermaksud membangun gedung untuk korannya di Jalan Pramuka, Jakarta. Tahu-tahu beliaunya diangkat jadi Menteri Penerangan. Langsung pembangunan kantor suratkabar beberapa lantai itu dibatalkan. Sang menteri khawatir jadi omongan publik, “Begitu jadi menteri langsung bangun gedung, duitnya dari manah tuh?” Jaman itu, dicurigai korupsi saja sudah takut. Sekarang, sudah ditangkap KPK pun masih bisa senyum-senyum.
Itu artinya Pak Menteri sangat sensitip pada emosi publik. Sedangkan sekarang ini, seperti Cak Budi penggalang dana kemanusiaan lewat rekening pribadi, telah kehilangan sensitivitasnya. Tanpa memberi tahu netizen, tahu-tahu sudah membeli mobil Toyota Fortuner dan iPhone 7 dari dana tersebut. Dia beralasan, semua itu untuk memperlancar tugas kemanusiaan itu, karena medannya sering tidak bersahabat.
Mestinya, sebelum beli barang-barang tersebut dia paparkan rencana pada netizen. Jika mereka setuju, baru beli. Jika ada penolakan, ya mending jangan. Yang dilakukan Cak Budi sekarang, ibarat memadamkan api yang sudah kadung membakar. Dia buru-buru jual Fortuner dan HP mewahnya itu. Dana yang lebih dari Rp 400 juta itu segera dimasukkan ke website kitabisa.com. Selesaikah sudah dia dari kecurigaan publik?
Tidak juga, karena netizen juga menuntut Cak Budi untuk menomboki penyusutan harga
Paling tidak, dia langsung dipanggil Mensos Khofifah Indarparawansa, dinasihati bla bla….. Menggalang dana untuk kegiataan sosial memang harus izin Kementrian Sosial, pengelolaan keuangannya juga harus transparan. Gara-gara cara kerja Cak Budi ini, orang jadi trauma membantu sesama umat lewat medsos. Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.
Membantu meringankan penderitaan umat itu memang pekerjaan mulia, meski penyelenggara takkan dapat sebutan: Yang Mulia. Tapi meski niatnya mulia, jika cara-caranya tidak benar, justru memancing kecurigaan. Lihat tuh “dompet peduli anu” yang sering ditemukan di lampu merah, suka dicurigai masuk kantong sendiri. Hadits Nabi mengingatkan: Apabila amanah disia-siakan maka tunggulah saat kehancurannya. (HR. Imam Bukhori). (Cantrik Metaram)





