spot_img

Menjual Ginjal Demi Nyaleg

ADA berita mengharukan dari Bondowoso Jatim, seorang Caleg DPRD dari PAN bernama Arfin Dewi Sudanto (40), tanpa malu-malu menawarkan ginjal dari pintu-ke pintu demi membiayai kampanye sebanyak Rp 300 juta. Untungnya, sampai ginjal-ginjal dia menawarkan itu barang, tak ada yang mau beli ginjal calon wakil rakyat itu. Padahal jika laku, si Caleg  belum tentu lolos ke DPRD, tetapi bakal kena sanksi hukum pidana dan agama.

Arfin menuding, dia sampai melakukan itu akibat buruknya demokrasi di Indonesia. Rakyat baru mau pilih semuanya mengacu pada NPWP alias Nomer Pira Wani Pira. Bahwa demokrasi di Indonesia buruk, memang tak bisa dibantah. Tetapi dari hal buruk itu kenapa Anda malah melu payu (ikut-ikutan). Jika tak bisa mengubah keaadan, ya sudah diam saja alias tak perlu ikut-ikutan Nyaleg. Jika Anda nyaleg dengan cara demikian, sama saja Anda semakin memperburuk demokrasi di Indonesia.

Terpilih menjadi seorang anggota DPRD Kabupaten/Kota merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Sebab kepercayaan sudah diwakilkan kepada yang terpilih untuk duduk di kursi DPRD. Sebagai seorang anggota dewan, tentunya diharapkan mampu mengemban tugas mulia dari masyarakat terutama dari Daerah Pemilihan (Dapil) masing-masing anggota.

Jika seorang Caleg sampai tanpa malu-malu mau menjual ginjalnya, kita tidak yakin bahwa dia akan mengemban tugas rakyat dapilnya secara amanah. Banyak pastinya, dia hanya akan memperbaiki nasibnya sendiri dulu, baru memikirkan rakyat Dapilnya. Sebab gaji DPRD di Indonesia itu kisaran Rp 35 juta sampai Rp 45 juta, yang dikumpulkan dari berbagai tunjangan. Sebulan dapat sebanyak itu kan lumayan, ketimbang kerja serabutan, atau  jadi agen pulsa bahkan gas melon.

Dasar hukum mengenai gaji anggota DPRD diatur dalam PP Nomor 18 Tahun 2017 tentang hak keuangan dan administrasi pimpinan dan anggota DPRD dan Permendagri Nomor 62 Tahun 2017 tentang Pengelompokan Kemampuan Keuangan Daerah Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Dana Operasional. Karena tergantung kemampuan setiap daerah, rata-rata sebegitulah gaji DPRD dari Aceh sampai Papua. Maka jangan ngiri dengan DPRD DKI yang bisa makan lobster bersama-sama, sebab gaji mereka sebulan Rp 139 juta. Maklum APBD Jakarta sampai Rp 81 triliun sementara Daerah di bawah Rp 10 triliun.

Ya semoga saja Arfin Bondowoso itu tak seburuk nasib Bandung Bondowoso yang gagal mempersunting Rara Jonggrang. Dia bisa lolos ke DPRD meski tanpa jual ginjal. Sebab jika sampai jual ginjal, baik lolos atau tidak ke DPRD tetap saja akan berurusan dengan polisi. Sebab hal ini telah diatur dalam Pasal 210 Ayat (2) UU Sistem Kesehatan. Pelaku perdagangan organ tubuh manusia dapat dikenai pidana penjara maksimal 15 tahun dan denda maksimal 1,5 miliar rupiah. Pidana tersebut dapat diperberat jika ada unsur kekerasan, penganiayaan, atau korban yang meninggal dunia.

Dalam Islam pun juga diharamkan jual beli ginjal itu. Fatwa MUI mengatakan, baru dibolehkan ketika proses transplatasi organ tubuh itu sifatnya hibah atau suka rela alias tanpa imbalan uang dengan jumlah tertentu. MUI juga membolehkan donor organ tubuh sepanjang disaksikan dua dokter ahli. Nah, Arfin Bondowoso perlu tahu hal ini karena dikhawatirkan dia masih bernafsu menjualnya meski masa coblosan tinggal sebulan.

Dalam kacamata Islam, orang sampai tega menjual ginjal sendiri, itu sama saja dia tak pandai bersyukur di muka bumi. Yang punya ginjal rusak (tak berfungsi) saja dibela-belain cuci darah setiap bulan. Kok ini ada orang kedua ginjalnya sehat-sehat, yang satu mau dijual demi modal nyaleg. Padahal manusia hidup dengan satu ginjal itu menjadi rawan penyakit. Ibarat mobil, dipaksakan bisa juga sih jalan dengan roda tiga, tetapi dijamin akan terseok-seok dan rawan nyemplung jurang. (Cantrik Metaram)

spot_img

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


spot_img

Latest Articles