Menyambut Tahun Baru 2024

Malam Tahun Baru di Jalan Thamrin selalu disertai dengan pesta petasan. Ini tradisi sejak Gubernur Ali Sadikin.

TAHUN baru 2024 tinggal seminggu lagi, tapi kesibukannya sudah terasa sejak beberapa hari lalu. Soalnya oleh Pemerintah liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) dijadikan satu paket, sehingga lebih mudah mempersiapkan transportasinya agar rakyat bisa menikmati liburan dengan bahagia. Memang betul, sebagaimana libur Lebaran, rakyat tetap bahagia meski harus bermacet-macet di jalan tol dan arteri.

Liburan Nataru kali ini terasa lebih istimewa. Sebab di samping menjelang Pemilu dan Pilpres 2024, juga Covid-19 menggeliat lagi dan tentu saja mengancam para peserta liburan atau mudik pulang kampung. Jaga-jaga, pastikan sudah vaksin boster sehingga ketika selesai liburan Nataru kembali ke kota masing-masing dengan selamat. Jangan sampai malah kembali keribaan Allah terlalu cepat gara-gara diterkam Covid-19.

Dulu paling populer itu hanyalah liburan Lebaran. Jaman Bung Karno sampai Pak Harto di awal-awal Orde Baru juga seperti itu. Tetapi ketika ekonomi anak negeri mulai menggeliat, ditambah wabah leasing menjamur sejak tahun 1990-an, orang yang berpenghasilan pas-pasan pun punya mobil. Nah, sejak itulah orang mudik Lebaran tak hanya mengandalkan KA dan bis, tetapi juga pesawat dan mobil pribadi. Mereka di kampung pamer sebagai orang sukses di kota, padahal jika diperhatikan suara knalpot mobilnya malah berbunyi: dit dit dit……..kredit!

Makin ke sini, ketika pemerintah gemar mengeluarkan kebijakan libur bersama, Nataru mulai populer. Kini orang kota liburan bukan saja di masa Lebaran, tetapi juga seputar Natal dan Tahun Baru. Rejeki tambahan buat pelaku bisnis transportasi. Dan tentu saja pemerintah semakin sibuk mempersiapkan transportasi berikut kebijakannya. Hari-hari gini, jika dulu Menhub paling populer itu Rusmin Nuryadin, kini Budikarya Sumadi.

Di masa kecil penulis sampai ABG, liburan Natal dan Tahun Baru tidak nyambung sampai seminggu seperti sekarang. Libur Natal ya hanya tanggal 25 Desember saja, liburan Tahun Baru ya cukup 1 Januari. Karenanya Nataru di jaman itu belum ada gaungnya. Baru ketika tinggal di Jakarta tahun 1971, setiap malam tahun Baru Jl. Thamrin bunyi petasan bersahutan,  terdengar sampai radius 3 Km. Jaman itu Gubernur DKI-nya masih Ali Sadikin. Memang beliaulah yang menciptakan tradisi merconan di Jl. Thamrin di malam Tahun Baru.

Di Solo tahun 1972-1976, malam Tahun Baru ya biasa-biasa saja. Tak ada orang bakar petasan di Jl. Slamet Riyadi. Di Yogya tahun 1964-1970 juga sama saja, tak ada orang bakar petasan di malam Tahun Baru. Tapi Yogyakarta punya tradisi Malioboro Fair yang digelar setiap tahun. Penulis lupa, apakah itu berkaitan dengan hari lahir Kota Yogyakarta, atau Tahun Baru. Yang jelas sepanjang jalan Malioboro di depan Hotel Garuda sampai depan Gedung Agung banyak panggung hiburan.

Di kala penulis masih duduk di bangku SR, sekolah diliburkan. Tapi hari berikutnya, ada upacara di lapangan untuk merayakan datangnya Tahun Baru tersebut. Bukan dengan makan-makan, tetapi cukup menyanyikan lagu Tahun Yang Baru, yang ternyata produk sebelum tahun 1950. Penulis ingat betul lirik lagu awalnya:  Sambutlah tahun yang baru, dengan riang gembira. Marilah kita bersama-sama kita lebih giat bekerja. Tulus menyumbang tnaga dengan suka dan rela…… Yang memimpin murid nyanyi bersama itu namanya Pak Guru Sudono.

Saya mencari di Google termasuk Youtube, ternyata lagu tersebut tak diketemukan. Ada juga memang sejumlah lagu menyambut Tahun Baru, tetapi karya anak-anak atau komponis sekarang. Lebih bagus memang, tetapi bagi penulis tak ada sentuhan memory maupun nilai-nilai nostalgianya.

Penulis memang termasuk orang yang tak pernah memperhatikan dan mengistimewakan hari-hari ulang tahun. Jangankan menyambut Tahun Baru, ulang tahun sendiri tak pernah memperingati. Maklumlah orang kampung yang lahirnya di tampah, bukan  RS berkelas seperti RS Mitra Keluarga yang sekali persalinan bisa mencapai Rp 20 juta, apa lagi bila ada kelainan sehingga perlu tindakan operasi Yulius Caesar. (Cantrik Metaram).

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here