AGAKNYA merangkap, serba dua atau lebih itu sudah menjadi naluri manusia. Makanya ada partai tersinggung ketika OSO (Oesman Sapta Odang) Ketumnya dituduh banci oleh Ketua KPK Agus Rahardjo gara-gara rangkap jabatan. Bagaimana mungkin Ketum Parpol kok juga Ketua DPD. Tapi OSO memang layak tersinggung. Kenapa tega-teganya mencap banci? Wong dia tidak pernah keluyuran malam hari di Taman Lawang, Jl. Latuharhari, Jakarta.
Banci itu memang status sekaligus kelainan psikologis yang tidak nyaman. Wujudnya lelaki, tapi jiwanya wanita. Sebaliknya secara pisik dia wanita, tapi jiwanya lelaki. Pihak kelurahan pun sebetulnya agak bingung saat memberikan KTP, kolom jenis kalamin mau ditulis apa? Akhirnya terserah pada yang empunya saja. Jika pemohon merasa lelaki, silakan tulis lelaki. Jika pemohon merasa perempuan, ya tulis saja perempuan. Soalnya tak mungki Pak Lurah menuliskan kata: bencong, banci, atau wadam. Lagi pula mengaku berjenis kelamin apapun Pak Lurah pasti percaya saja, tak mungkin dia mengecek langsung ke lapangan.
Sesungguhnya yang disorot Ketua KPK itu bukan kebanciannya, melainkan masalah rangkap jabatannya itu. Sebab di mata komisi anti rasuah, sesungguhnya merangkap jabatan memiliki peluang korupsi kekuasaan yang ujung-ujungnya penyelewengan keuangan. Dalam konstitusi Indonesia, orang yang duduk di DPD itu memang orang yang merupakan utusan dari daerah, bukan orang politik. Yang dilakukan OSO, sudah Ketum Hanura kok masih mau juga jadi Ketua DPD.
Sudah, sudah, kolom ini bukan tempatnya bicara politik. Yang jelas, serba rangkap itu memang sudah menjadi naluri manusia. Contoh sederhana saja, dalam keseharian kita selalu pakai baju rangkap dua, yakni kaos lalu ditambah hem. Bahkan pakaian bawahan ada tiga. Yakni celana dalam, terus celana kolor. Itu di rumah. Jika bepergian, pasti tambah lagi celana panjang. Belum lagi yang pakai jubah, tentu lebih banyak lapisan yang membalut tubuhnya.
Soal asesoris rumah pun demikian. Ruang tamu sudah pakai ubin keramik atau marmer, masih dilapisi karpet. Sudah ada kaca dinding, masih juga diberi gordin. Atap demikian juga. Sudah ada genting, kenapa masih diberi plafon segala? Yang lucu adalah, rumah sudah pakai pagar, tapi masih dilapisi lagi plastik. Unik kan? Kita bangsa yang selalu menuntut transparansi, tapi pagar di rumah saja selalu ditambah lapisan plastik.
Soal rangkap jabatan yang bermuara ke sorotan pada OSO, itu memang sudah lumrah di Indonesia. Jadi Ketum Parpol masih juga merangkap jabatan Ketua MPR, atau mentri. Paling sering, sudah menjadi pejabat tinggi negara masih juga merangkap Ketua Organisasi Sosial, karenanya ada Wapres tapi juga Ketua DMI (Dewan Mesjid Indonesia). Level kecil pun ikut latah, jadi Ketua RW masih merangkap ketua arisan.
Paling mengasyikkan adalah, ketika orang rangkap dalam urusan perempuan. Istri satu saja tak pernah dimakan rayap, nambah satu lagi. Dalam Islam hal itu memang dibolehkan sepanjang mampu, artinya ya mampu materil tapi juga mampu onderdil. Bahkan ada yang punya pemahaman, beristri empat itu merupakan kewajiban. Maka dulu terpidana mati Amrozi pun dulu berujar, istriku sudah dua, kurang gua lagi. Bagaimana mau empat, dua bini saja pada “nganggur” di rumah, karena ditinggal di LP.
Tapi sesungguhnya berbini banyak itu ada juga baiknya. Meski sering bikin bersih kantong suami, tapi menjadikan lelaki bisa hidup lebih bersih. Bagaimana logikanya? Sebab lelaki berbini empat, akan menjadikan dia rajin mandi wajib. Hari ini menggilir istri pertama, mandi lagi. Giliran menggilir istri kedua, mandi lagi.Begitu seterusnya. Karena rajin mandi junub, bagaimana badan tidak menjadi lebih bersih? (Cantrik Metaram).





