JIKA murid belajar melantai (dansah), itu masih bisa dimaklumi. Tapi jika murid melantai dalam arti belajar di lantai gara-gara ketiadaan bangku, ini sungguh memalukan. Kita merdeka sudah 77 tahun, masak iya sih masih ada SD Negeri bobrok didiamkan saja? Apakah ini bagian dari program Merdeka Belajar-nya Mendikbud & Ristek Nadiem Makarim; sehingga murid pun dimerdekakan belajar di lantai/ubin yang dingin itu?
Bebepa hari lalu diberitakan, SDN Ambon di Kecamatan Kasemen Kabupaten Serang, sejak 5 bulan murid kelas III-nya terpaksa belajar di lantai gara-gara meja dan bangkunya rusak. Padahal ini sekolah negeri lho! Masak pihak Pemda Serang tidak cepat tanggap? Jika murid belajar ngaji, itu sudah umum belajar di lantai, karena kiyai-kiyai kampung tak pernah menyediakan bangku-bangku untuk para muridnya.
Bisa dibayangkan, betapa repotnya para murid. Untuk menulis, menggambar dan menggaris, harus tiduran atau berbungkuk-bungkuk macam Gibran Cawapres Prabowo ketika bersalaman dengan para senior. Guru pun harus menunduk-nunduk memeriksa pekerjaan para siswa. Lama-lama bisa sakit pinggang. Benar-benar kodok kalung kupat, awak boyok sing gak kuwat (pinggang yang nggak tahan).
Beruntung setelah diberitakan gencar oleh berbagai media online, Pemda Serang kemarin mengirim 10 bangku baru. Karenanya 20 murid kelas III itu tak perlu lagi berbungkuk-bungkuk atau rebahahan ketika belajar. Kata Pemkab Serang, karena anggaran kecil bisa diambilkan dari dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Jika masalahnya sekecil ini, kenapa ketika KS SD setempat melapor ke Dinas Pendidikan tak segera ditangani? Harus menunggu diberitakan media?
Ternyata SDN Ambon di Serang tidak sendiri. Jika dilacak di Mbah Google, ombyokan sekolah negeri yang memaksa muridnya belajar di lantai. Misalnya di tahun 2017, SDN 68 Kecamatan Sosoh Buay Rayap, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, sebagian siswa didik di sekolah itu terpaksa menggunakan lantai dalam kegiatan belajar mengajar. Kata Kepseknya, pihaknya sudah melaporkan ke Dinas Pendidikan Pemkab OKU, tapi belum dipenuhi karena terjadi defisit APBD, sehingga baru tahun 2018 bisa dipenuhi.
Kemudian di tahun 2022, SDN Banjarsari, Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang (Jabar), juga tak memiliki bangku dan meja belajar sejak 2018. Sudah lama diusulkan, tapi tak kunjung dikirim. Kata pihak Dinas Pendidikan, pihak SDN Banjarsari tidak melengkapi persyaratan yang ditentukan dalam Dapodik (Data Pokok Pendidikan), sehingga dianggapnya SDN tersebut sudah memiliki perlengkapan untuk kegiatan belajar-mengajar.
Sekolah menyedihkan juga dirasakan oleh SDN Karyasakti, di Desa Salamnunggal, Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur. Ini sudah terjadi bertahun-tahun, tapi Pemkab Cianjur tak segera menindaklanjuti laporan pihak sekolah. Kasihan para murid, karena belajar sambil rebahan di lantai, sampai ada yang tertidur dibuai udara dinginnya daerah Cianjur. Tapi anehnya, penyanyi Alfian hanya betah Semalam di Cianjur.
Sejumlah siswa kelas IV SDN Cidokom 02 Rumpin Kabupaten Bogor malah belajar di lantai ruangan musala. Kondisi ini sudah berlangsung lebih dari dua tahun karena kekurangan ruangan kelas. Ini ironis sekali, Bogor yang hanya sepenggalah dari Jakarta, kok masih ditemukan sekolah semacam itu. Bagaimana kepedulian Pemda Bogor, kok bisa-bisanya membiarkan hal itu sampai terjadi sekian lama dan berlarut-larut.
Bila dilanjutkan masih banyak SDN-SDN yang kekurangan prasarana pendidikan. Mestinya, jika Dinas Pendidikan tak peduli, pihak sekolah bisa mengadu ke Komisi A di DPRD setempat. Mereka berhak menggebrak dan ngoprak-oprak Bupatinya, agar segera menangani ketimpangan ini. Kecuali DPRD-nya kurang menyadari dirinya sebagai wakil rakyat. Soalnya banyak sih oknum DPRD kerjanya malah hanya cari duit, kasak-kusuk ke sana kemari main proyek.
Indonesia ini sudah merdeka selama 77 tahun lamanya, anggaran pendikan juga sudah dipatok 20 persen dari APBN. Entah kenapa, anggaran sebanyak itu tidak bulat-bulat dikelola Kemendikbud & Ristek sebanyak 20 persen. Tahun 2021 misalnya, dari APBN Rp 550 triliun, yang dikelola oleh Nadiem Makarim “hanya” 14,8 persen atau sekitar Rp 81,5 triliun. Dengan dana sebanyak itu, masak tidak bisa mengcover gedung-gedung sekolah yang rusak prasarananya?
Melihat murid-murid SDN yang sekolah tidur-tiduran di lantai, sungguh mengharukan. Kira-kira tahu nggak ya Anwar Makarim? Kecuali memang program Merdeka Belajar itu boleh ditafsirkan lain, yakni para murid dimerdekakan untuk belajar di lantai, sambil tidur-tiduran sebebas-bebasnya. Asyik sekali bukan? (Cantrik Metaram)





