Tergerusnya Adab dan Etika

Adab atau etika harus ditekankan lagi dalam pendidikan anak sejak dini untuk menghindari perilaku lebih buruk di kemudian hari.

PREDIKAT sebagai sosok yang berperilaku ramah, bertutur kata baik dan sopan santun yang dulu disematkan pada bangsa Indonesia, di era now agaknya sudah banyak berubah terutama di kalangan kaum milenia.

Di ruang-ruang publik, etika, tata-krama atau dalam bahasa Jawa disebut unggah-ungguh sudah terdegradasi, berganti dengan sikap semaunya, egois, menang sendiri, suka-suka, “yang penting happy” .

Etika adalah kesepakatan atau konsensus yang mengikat komunitas terutama di ruang-ruang publik, sehingga jika dilanggar, akan merusak tatanan dan keharmonian dan kerukunan bersama.

Di kalangan suku Jawa misalnya, dulu banyak aturan lisan yang diterapkan oleh para ortu pada anak-anak, misalnya tidak menyelak saat ortu berbicara, tidak berbicara saat menyuap, bahkan berjalan pun, yang lebih muda harus agak di belakang, tidak sejajar.

Di negeri-negeri lain pun “Code of Conduct” atau etiket di ruang publik diatur, misalnya menahan daun pintu untuk orang lain di belakang kita yang akan meliwatinya atau bahkan cara memandang saat berpapasan dengan orang lain.

Bisa dibayangkan, di negeri ini, tak jarang, terutama remaja  yang tak saling kenal saling tatap saat berpapasan, bisa dianggap saling menantang, sehingga memicu duel, bahkan berujung nyawa melayang.

Sebaliknya, di negeri lain, di sekolah-sekolah sejak TK, diajarkan, tatapan pada orang yang tak dikenal saat berpapasan harus segera dialihkan, demi menghindari kesalah pahaman atau dianggap pelecehan.

Perilaku saling serobot, salip-menyalip, menang-menangan di jalan raya yang juga tidak jarang berujung kecelakaan, bahkan maut juga salah satu bentuk absennya etika di negeri ini.

Pudarnya etika, adab atau “unggah-ungguh” bisa jadi akibat kurangnya pendidikan di bangku sekolah atau kalau ada pun hanya diajarkan sambil lalu, juga di rumah-rumah yang berbeda beda adat-istiadat, level pendidikan dan ekonomi keluarga ditambah kerasnya persaingan dan sulitnya kehidupan.

Ucapan seorang pendidik di Australia yang menyebutkan, ia lebih risau jika anak didiknya tidak mau antri, ketimbang tidak menguasai pelajaran berhitung, mungkin bermakna sangat dalam.

Alasannya, berhitung bisa diajarkan, sebaliknya bila seorang anak tidak mau antri, jika dibiarkan, bisa menjadi awal pintu masuk untuk melakukan hal-hal buruk lebih serius di kemudian hari, mulai dari mencuri, menipu dan korupsi.

Tawuran antarsiswa sekolah yang masih terus terjadi di berbagai kota termasuk di ibukota awal mulanya bisa jadi dipicu oleh persoalan etika, saling pandang disusul saling tantang, berujung perkelahian atau tawuran.

Di dalam interaksi di dunia maya, terutama medsos, Indonesia juga dinilai sebagai bangsa yang paling tidak beradab se-Asia Pasifik, karena penuh dengan ujaran kebencian, caci maki dan hujat-menghujat serta hoaks.

Bahkan di tingkat elite dan politisi, tak jarang hal-hal buruk yang dicontohkan mereka terkait etika moral, misalnya penyangkalan pada fakta atau kebenaran, sebaliknya pembelaan atau keterpihakan habis-habisan hanya karena menguntungkan diri atau kelompoknya.

Etika mencerminkan peradaban suatu bangsa yang harus ditanamkan sejak dini pada anak-anak jika Indonesia ingin dihormati di tengah kancah pergaulan dunia.

 

 

 

Advertisement