
BLOKADE dan bombardemen yang dilancarkan Israel sampai hari ini sebagai balas dendam atas serangan fraksi militer Palestina, Hamas ke wilayah Israel 7 Okt. lalu memicu eksodus besar-besaran penduduk Gaza.
Ratusan ribu dari sekitar 2,3 juta penduduk Gaza utara yang dikuasai Palestina berduyun-duyun mengungsi untuk menghindari serangan udara Israel yang juga menyasar permukiman, rumah sakit dan bangunan sekolah.
Kehidupan juga makin sulit setelah Israel memutus aliran listrik, gas dan air bersih ke kota Gaza, sementara persediaan logistik mereka kian menipis, dan warga yang sebelumnya bisa bekerja di wilayah Isarel dengan gaji yang besar saat ini terhenti akibat blokade.
Korban penduduk sipil akibat konflik Hamas vs Israel yang sudah berlangsung 12 hari juga terus bertambah, di pihak Palestina, 2.808 warganya di Gaza dan 57 orang di Tepi Barat tewas, sedangkan yang terluka 10.859 orang dan 1.200 orang di kedua wilayah.
Mesir yang berbatasan dengan Tepi Barat merasa cemas jika perang terus berlanjut, karena negaranya bakal kebanjiran pengungsi Palestina yang akan keluar dari Gerbang Rafaah yang sampai ini hari masih ditutup.
Seperti juga negara-negara lain misalnya Yordania, Mesir menyuarakan penolakan pada pengungsi Palestina yang bakal mengalir, apalagi jika Israel memutuskan untuk mengosongkan wilayah Gaza demi keamanan negerinya.
Mesir menghadapi dilema antara menutup Gerbang Rafaah dari banjir pengungsi Palestina, namun di sisi lain juga tidak ingin mengabaikan nasib bangsa Palestina.
Israel sendiri jika warga Palestina sudah hengkang dari Gaza, diperkirakan tidak akan membiarkan bangsa Palestina kembali lagi ke sana sehingga melemahkan upaya pmbentukan negara Palestina, seperti terjadi pada pereng kemerdekaan Israel pada 1948 dimana Mesir kedatangan 750-ribu warga Palestina.
Pengusiran warfa sipil oleh Israel bertujuan untuk mensterilkan Gaza dari seluruh anasir Hamas dan juga mencari lebih seratus sandera yang dibawa oleh milisi Hamasa saat mnyerang wilayah Israel 7 Okt. lalu.
Saat ini terdapat sekitar 300-ribu pengungsi palestina di Mesir, belum lagi pengungsi-pengungsi dari negara-negara sekitarnya seperti Ethiopia, Sudan, Suriah, Eritrea, Somalia dan Yaman.
Selain Mesir, Yordania juga ketempuhan sekitar dua juta warga Palestina sehingga Raja Abdullah mengingatkan agar tidak ada upaya untuk mendorong lebih banyak lagi pengungsi Palestina ke negerinya.
Perang menimbulkan kerugian, tak saja bagi pihak-pihak yang terlibat, terutama negara-negara tetangga, sekawasan bahkan sampai ke level global (AFP/AP/Reuters/ns)




