Min Soo Kim, Mahasiswa SNU yang Kepincut dengan Islam

Min Soo Kim, 22 tahun, Mahasiswa SNU, warga Korea bersama Ustadz Alnofiandri Dinar, Da'i Ambassador Corps Da'i Dompet Dhuafa 2017. Foto: ISt

SEOUL – Di sana-sini berseliweran propaganda menjelekkan Islam, sehingga menimbulkan gelombang Islamofobia. Tapi bagi Min Soo Kim (22 tahun), warga Korea, seorang mahasiswa sastra Inggris di Seoul National Univeristy (SNU) justru membuat ia semakin penasaran.

Min Soo Kim pun sering bertanya-tanya kepada Brother Umar, warga Korea yang bernama kecil Kim Woon Taeg yang telah lama masuk Islam. Sesaat sebelum waktu berbuka puasa Rabu, (1/6/2017) jamaah Masjid Hoegi di Kota Seoul sedang disibukkan dengan persiapan berbuka. Tiba-tiba menjadi hening dan fokus memperhatikan penjelasan Brother Umar.

“Saudara-saudara ini adalah Min Soo Kim. Dia seorang mahasiswa di Seoul National University (SNU). Dia sering bertanya kepada saya, kenapa sich umat Islam berwudhu kemudian shalat? Kenapa sich umat Islam berpuasa sebulan penuh?, dan banyak lagi pertanyaan lain yang sering ia lontarkan,” ungkap Brother Umar sambil memagang pundak Min Soo Kim yang berdiri di sampingnya.

“Saya hanya menjawab bahwa semua yang ditanyakannya itu adalah syariat dari Allah. Orang-orang yang menjalankan syariat akan diridhai Nya. Dan orang-orang yang diridhai Nya akan dimasukkannya ke dalam surga, itu penjelasan saya,” lanjut Umar.

“Saya juga menyarankan agar dia datang ke Masjid ini untuk ikut berbuka bersama kita. Sekarang dia datang untuk melihat kita berbuka dan shalat berjamaah,” tambahnya.

Setelah penjelasan Brother Umar selesai, waktu Magrib pun tiba, Min Soo Kim pun ikut berbuka dengan seluruh hadirin.

Min Soo Kim menceritakan, ia penasaran dengan Islam. Ia menganggap Islam adalah budaya baru yang bukan kebudayaan Asia, Amerika, Eropa, dan kebudayaan lain yang sudah tidak asing baginya.

Karena itu ia pun mulai mempelajari kebudayaan Islam dan bahasa Arab. Mulai tahun 2014, ia sudah belajar bahasa Arab secara otodidak dan mencari kawan-kawan yang bisa bahasa Arab melalui media sosial. Dia menemukan kawan-kawan chatting laki-laki dan perempuan yang umumnya berasal dari Timur Tengah.

Dari usahanya itu satu persatu kosakata bahasa Arab dikuasainya dan beberapa istilah mulai dipahaminya dengan baik. Agar mampu berbahasa Arab lebih baik dia mengikuti les bahasa Arab di salah satu lembaga pendidikan bahasa Arab di Kota Seoul dan disitu pula, ia diberi nama oleh gurunya yang berasal dari Mesir dengan nama “Rayyan”.

Di kampus dia terus berusaha bergaul dengan mahasiswa-mahasiswa asing terutama dari Timur Tengah yang belajar di SNU yang beragama Islam. Dia berusaha meningkatkan kemampuan bahasa Arabnya dengan berdialog menggunakan bahasa Arab. Diam-diam dalam pergaulannya Dia mengamati sikap kawan-kawannya yang muslim. Dalam pergaulannya bersama mahasiswa muslim itu, Dia memiliki kesan yang menarik tentang Islam dan penganutnya.

“Kawan-kawan saya yang muslim semuanya baik-baik,” ungkap Min Soo Kim.

Menurut Ustadz Alnofiandri Dinar, Da’i Ambassador Corps Da’i Dompet Dhuafa 2017, Korea Selatan di Hoegi Mosque and Islamic Cultural Centre, Seoul, South Korea, Min Soo Kim belum masuk Islam. Namun Dia sudah bisa bahasa Arab dan tertarik dengan Islam serta suka bergaul dengan orang-orang Islam.

“Semoga suatu hari nanti Allah bukakan hidayah untuknya. Aamiin,” pungkas Ustad Alnofiandri Dinar menulis kisah Min Soo Kim seusai menunaikan shalat Magrib berjamaah di Masjid Hoegi.

Masjid Hoegi baru difungsikan sebulan lalu dan berada dekat dengan Hankuk University dan Kyung Hee University. Karena Masjid Hoegi masih baru, Brother Umar aktif memperkenalkannya kepada kawan-kawannya yang muslim dan mengajak mereka untuk mengunjungi masjid ini, termasuk orang Indonesia yang berada di Korea Selatan.

Advertisement