Subuh menjelang di waktu yang sama dengan Jakarta, membuat kami tersiaga untuk bersiap melanjutkan perjalanan di hari kedua di negeri merah ini. Sepiring telur mata sapi dan setangkup roti selai menjadi hidangan pagi hari ini yang cukup sebagai bekal.

Lokasi tujuan hari ini adalah Provinsi An Giang, kurang lebih 190 km dari Ho Chi Minh City sekitar 3 jam 45 menit. Melintasi persawahan yang menghampar dan sesekali rawa dipenuhi pohon nipah liar. Vietnam terkenal juga dengan sebutan negeri nasi, karena memang merupakan hasil bumi yang utama.

An Giang adalah sebuah provinsi di bagian selatan Vietnam yang banyak dihuni oleh Komunitas Muslim Champa dimana merupakan kaum minoritas. Perbandingan agama di Vietnam menurut statistik resmi dari pemerintah, pada 2019 teridentifikasi Tak beragama (86,62%), Katolik (6,10%), Buddha (4,79%), Hoahao (1.02%), Protestan (1.0%), Caodai (0,58%), Muslim (0,07%), Hindu (0,04%), Bahai dan kelompok kecil lainnya (<1%). Walaupun Vietnam sebagai negeri sosialis komunis, namun kehidupan beragama cukup baik disini.

Keberadaan tempat Ibadah juga cukup merata utamanya klenteng dan gereja, sesekali ditemukan masjid kecil. Hadirnya Dompet Dhuafa di kota ini bersama rombongan Kemenko Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan RI sebagai Misi Suci bangun peradaban menegakkan Kalimat Ilahi di Negeri Merah ini. Dengan tekad kuat bersama lembaga filantropi Islam lainnya membantu mendirikan Masjid Salamad Indonesia di kota Long Xuyen bagi kelangsungan umat muslim disana.
(DMulyadi / Dompet Dhuafa)





