JAKARTA, KBKNEWS.id – China membatasi lima zona wilayah udara di lepas pantai timur lautnya selama 40 hari, mulai 27 Maret hingga 6 Mei 2026, tanpa memberikan penjelasan resmi.
Langkah ini memicu spekulasi luas karena durasinya yang tidak biasa dan lokasinya yang strategis di kawasan Asia Timur.
Dilansir Telegraph, pembatasan tersebut diumumkan melalui “Notice to Air Missions” (Notam), yang biasanya digunakan untuk memberi tahu otoritas penerbangan tentang potensi bahaya sementara di jalur udara tertentu.
Namun, berbeda dari praktik umum, China tidak mengumumkan adanya latihan militer selama periode tersebut.
Kelima zona yang dibatasi membentang sekitar 340 mil dari Laut Kuning hingga Laut China Timur, mendekati wilayah Shanghai.
Area ini juga memiliki cakupan tanpa batas ketinggian, sehingga berlaku untuk seluruh aktivitas udara, bahkan hingga lintasan luar angkasa.
Secara umum, pembatasan wilayah udara oleh China kerap dikaitkan dengan latihan militer.
Namun, latihan semacam itu biasanya hanya berlangsung beberapa hari, bukan hingga lebih dari satu bulan. Hal inilah yang membuat langkah terbaru Beijing dinilai tidak lazim.
Sejumlah analis menilai pembatasan ini berpotensi digunakan untuk latihan militer berskala besar, termasuk simulasi konflik di sekitar Taiwan.
Wilayah tersebut memang kerap menjadi lokasi latihan militer Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). Latihan ini bisa mencakup manuver tempur udara hingga simulasi pengendalian jalur strategis yang mungkin digunakan oleh militer Amerika Serikat untuk memberikan bantuan ke Taiwan.
Amerika Serikat sendiri memiliki sistem pertahanan, unit tempur, dan puluhan ribu personel yang ditempatkan di Jepang dan Korea Selatan. Kedua negara tersebut diperkirakan akan menjadi garda terdepan jika terjadi konflik di kawasan.
Namun, tidak semua pihak sepakat bahwa langkah ini semata-mata ditujukan untuk Taiwan.
Seorang pejabat senior Taiwan menyebut kemungkinan lain, yakni pembatasan ini juga berkaitan dengan meningkatnya ketegangan antara China dan Jepang.
Hubungan kedua negara memanas dalam beberapa waktu terakhir, terutama terkait sengketa Kepulauan Senkaku yang diklaim China tetapi dikelola oleh Jepang.
Selain itu, insiden masuknya seorang anggota Pasukan Bela Diri Jepang ke Kedutaan Besar China di Tokyo turut memperburuk situasi diplomatik.
Di sisi lain, pembatasan wilayah udara ini juga bertepatan dengan kunjungan pemimpin oposisi Taiwan dari Partai Kuomintang (KMT), Chen Li-wun, ke China.
Kunjungan tersebut menjadi yang pertama dalam lebih dari satu dekade bagi ketua partai KMT, yang selama ini dikenal mendorong hubungan lebih erat dengan Beijing.
Sejauh ini, pemerintah China belum memberikan penjelasan resmi terkait tujuan pembatasan wilayah udara tersebut. Namun, durasi yang panjang, cakupan wilayah yang luas, serta konteks geopolitik di kawasan membuat langkah ini dipandang sebagai sinyal penting terkait dinamika keamanan di Asia Timur.





