Mumet Uangnya Sedikit

macet
Ilustrasi Meski sudah ada jalan tol Cipali, kemacetan arus mudik selalu terjadi.

JIKA 1 Syawal 1438 H jatuh pada Senin 26 Juni mendatang, maka berarti puasa tinggal 6 hari lagi. Untuk menyambut Lebaran yang sudah menjadi tradisi nasional ini, masyarakat kota-kota besar mulai sibuk mempersiapkan diri untuk mudik. Sayangnya, tak semua warga kota bisa melakukannya, karena berkaitan dengan anggaran yang terbatas. Maka banyak yang mengatakan, mudik itu sesungguhnya kepanjangan kata: mumet (jika) uangnya sedikit.

Mudik memang memerlukan dana besar, setidaknya setiap keluarga bisa menghabiskan Rp 5 juta. Bisa memang cukup Rp 2,5 juta, tapi anggaran harus diperketat. Berangkat pakai kapal atau bis gratisan,  di kampung halaman harus “merem” dalam arti tak berbuat seperti sinterklas bagi uang sana sini. Maklum, di kampung setiap orang kota akan “dikompas” oleh famili dekat sampai teman-teman lama.

Jika orang kota ini tergolong sukses, semua yang di kampung akan pamer jasa bahwa dulu waktu kecil yang gendong-gendong, teman bermain dan lain sebagainya. Untuk masa sekarang, minimal Rp 20.000,- sampai Rp 50.000,- harus keluar. Bahkan seperti Gayus Tambunan sebelum tertangkap KPK, setiap mudik di Pituruh Kab. Purworejo (Jateng) perorang dibaginya Rp 100.000,- lembaran merah.

Untuk bisa mudik ke kampung halaman, orang tak hanya siap dengan dana, tenaga, tapi juga……nyawa! Sebab sudah bukan rahasia lagi, setiap Lebaran baik arus mudik maupun arus balik selalu akan makan korban akibat kecelakaan lalulintas. Jumlahnya selalu ratusan. Tragis kan, mau Lebaran di kampung nyawa malah lebar (selesai) di jalan.

Sesungguhnya tujuan orang mudik itu hanyalah untuk bersilaturahmi dan bermaaf-maafan dengan keluarga di kampung, baik orangtua, kakak adik maupun paman dan uwak; pas di hari Lebaran. Tapi yang terjadi, bukan saja saja silaturahmi, tapi juga menjadi ajang pamer kesuksesan di kota. Maka ada juga uang dibela-belai pakai mobil rental, warna dan model diusahakan sama dengan tahun sebelumnya, sehingga orang kampung akan menilai milik sendiri.

Gara-gara semua ingin nampang pakai mobil pribadi, setiap mudik selalu terjadi kemacetan total, para penumpang banyak yang tua di jalan. Pemerintah sudah bikin jalan tol di mana-mana, tapi tetap saja macet baik di jalur utara maupun jalur selatan. Tapi uniknya, meski terjebak macet berjam-jam, para pengendara tetap saja nampak bahagia.

Maka mengacu dengan regulasi ibadah haji, ada gagasan orang mudik diatur seperti itu. Presiden Jokowi bisa mengangkat Mentri Muda Urusan Mudik, paling tidak ada Dirjen Permudikan di Kementrian Perhubungan. Untuk menghindari macet, nantinya orang mudik dikenakan kuota. Misalnya tahun ini pemudik dari Jakarta dibatasi 3 juta jiwa, semua harus menggunakan alat transportasi negara. Mau mudik nyaman, bisa ikut paket Mudik Plus sekaligus ada pembimbingnya juga.

Usulan seperti itu terkesan memang nyinyir, sampai segitunya negara mengurus rakyat. Tapi mau bagaimana lagi, setiap mudik dan arus balik, kemacetan tak pernah bisa diselesaikan. Sebetulnya ini kesalahan konsep pemerintah dari awalnya. Sejak Orde Baru Pak Harto orientasinya pada perluasan jalan tol, bukannya jalur kereta api. Justru jalur KA yang sudah ada banyak dimatikan. Padahal dengan semakin banyaknya jalan tol, orang semakin dirangsang untuk membeli mobil baru. Apa akibatnya, kemacetan kini bukan di kala arus mudik dan balik saja. Di hari-hari biasa, Jakarta dan Surabaya kemacetan sudah menjadi biasa. (Cantrik Metaram)

Advertisement