Dua awak helikopter Bell 412 EP milik TNI-AD yang hilang kontak sejak Kamis (24/11) lalu yakni Lettu CPN Abdi Darmain dan Lettu Yohanes Sahputera ditemukan dalam keadaan selamat sedangka, tiga lainnya ditemukan meninggal.
Lettu Darmain yang menderita patah kaki dan luka-luka memar dilarikan ke RS Tarakan, sementara tiga korban yang meninggal sudah dikebumikan di kampung halaman masing-masing.
Peltu Yohanes justeru baru diitemukan sekitar seminggu setelah pesawat jatuh, karena dengan luka-lukanya, ia masih berhasil meninggalkan lokasi kejadian, dan kemudian ditemukan oleh penduduk setempat dalam keadaan lemas selain karena luka-lukanya, juga karena berhari-hari tidak makan dan minum.
Heli nahas dengan nomor registrasi HA5166 yang mengangkut 400 Kg logistik untuk satuan TNI di Long Bawang itu berangkat dari Tarakan. Ketiga kru yang meninggal yakni Lettu CPN Ginas Sasmita, Sertu Bayu Sadeli Putra dan Praka Suyanto (mekanik).
Diduga mengalami kerusakan mesin, tubuh heli ditemukan di jurang, sedangkan baling-baling pesawat temangsang di pepohonan di kawasan Taman Nasional Kayang Mentarang, Kab. Malinau, Kalimantan Utara. Sebelumnya jenis helikopter yang sama, juga milik TNI-AD jatuh di Poso Pesisir, Sulawesi Tengah pada 20 Maret lalu, menewaskan lima awak dan tujuh penumpangnya.
Heli Bell 412 EP relatif baru, dibeli pada tahun 2012, diproduksi oleh Bell Helicopter, perusahaan bermarkas di Forth Worth, Texas, AS melalui anak perusahaannya, Textron yang pabriknya berlokasi di Mirabel, Quebeq, Kanada.
Dengan daya angkut 15 penumpang dan dua kru, Bell 412 EP mampu melaju dengan kecepatan 259Km/jam dengan jarak jangkau sampai 745 Km. Berbagai versi dan varian telah diproduksi sejak 1968, sedangkan Bell 412 EP juga dibuat berdasarkan lisensi oleh PT. Dirgantara Indonesia.
Kecelakaan lain dialami oleh pesawat pengangkut CASA C212 milik TNI-AL yang tergelincir saat mendarat di Bandara Leo Watimena, Kab. P. Morotai, Maluku Utara (27/11). Mujur, lima kru dan Sembilan penumpangnya dilaporkan selamat.
Sejak 2015 tercatat sejumlah pesawat TNI-AU yang terkena musibah. Dua pesawat aerobatik KT-1B Wongbee buatan Korsel milik Tim Jupiter TNI-AU bersenggolan dan jatuh saat melakukan manuver di Langkawi, Malaysia (15/3/2015). Kedua pilot selamat menggunakan kursi lontar.
Pesawat angkut Lokheed C-130 Hercules TNI-AU jatuh di Medan menewaskan seluruh awak dan penumpang serta sejumlah warga di darat (total 143 korban) (pada 30/6/ 2015), kemudian pesawat jet latih lanjutan T50i Golden Eagle buatan Korsel jatuh di Yogyakarta, menewaskan pilot dan kopilotnya (20/12/2015), sementara pesawat tempur taktis Super Tucano buatan Brazil menimpa rumah di Malang (10/2/2015), menewaskan pilot dan kopilotnya. T50i baru dioperasikan oleh TNI-AU pada akhir 2012, sedangkan Super Tucano sejak Feb. 2014.
Musibah pesawat udara milik TNI terjadi berulang kali, dan ironisnya dialami oleh sejumlah pesawat yang relatif baru dioperasikan. Secara umum, pesawat udara adalah sarana angkutan udara atau sistem alutsista yang aman dan canggih dengan sistem pengamanan berlapis-lapis.
Manusia – terutama pilot- adalah faktor penyebab utama kecelakaan disamping berbagai penyebab lain seperti cuaca ekstrim, perawatan pesawat dan penyebab eksternal lainnya.
Transparansi terkait investigasi kecelakaan, khususnya pesawat militer perlu dilakukan guna mencegah kejadian serupa di masa-masa mendatang karena dari hasil temuan akan diketahui apakah pengoperasian pesawat sudah sesuai visi-misinya, kondisi kesiapan pilot/kru lainnya, prosedur dan jadwal perawatan, penggantian sukucadang dan penggunaan sukucadang asli, laporan cuaca serta medan yang akan diterbangi.
Pembelian pesawat udara dan biaya untuk mendidik pilot atau teknisi pesawat cukup mahal sehingga sayang bila musibah demi musibah terus terjadi, menimbulkan kerugian asset negara dan kehilangan putera-putera terbaik bangsa.





