Musibah Turi, Cermin Lemahnya EWS

Petugas dibantu warga sedang mencari murid-murid SMP Negeri Turi, DIY Yogyakarta yang diterjang air deras dari bagian hulu saat kegiatan Pramuka, Jumat (21/2). Piha-pihak yang bertanggung jawab dan dianggap lalai perlu diberi sanksi agar kejadian serupa tak terulang. Enam murid meninggal dan empat masih belum ditemukan dari 249 murid yang mengikuti kegiatan itu.

KABAR duka kali ini menyelimuti warga Yogyakarta  dengan meninggalnya enam murid SMP I Turi dan belum ditemukannya empat lainnya sampai saat ini , terbawa arus saat mengikuti kegiatan ekstrakulikuler Pramuka menyusuri  Kali Sempor, Jumat (21/2).

Kejadiannya, 249 murid kelas VII dan VIII yang megikuti kegiatan ekstrakurikuler Pramuka itu yang awalnya berjalan biasa-biasa saja, tiba-tiba dikejutkan saat tiba-tiba arus air menerjang mereka dari bagian hulu.

Dari 249 peserta, belum termasuk guru-gurunya, 239 siswa dinyatakan selamat, hanya mengalami trauma atas tragedi tidak terduga yang dialami 10 orang rekan-rekan mereka.

Takdir di tangan Tuhan, namun jika sebelumnya ada peringatan dini atau Early Warning System – EWS), misalnya dari BMKG atau BPBD  secara berjenjang, ke instansi kabupaten Sleman, lalu ke  sekolah-sekolah melalui dinas pendidikan daerah sampai kelurahan yang diliwati aliran sungai tentu musibah bisa dicegah.

Nasi sudah menjadi bubur, enam korban ditemukan tewas yakni Sofie Aulia, Arisma Rahmawati, Nurazizah, Latifa Zulfa, Khairun Nisa dan Evita Putri dan empat siswi lainnya lagi masih dalam pencarian oleh 100-an anggota Tim BPPD dibantu aparat kepolisian dan warga dengan menyusuri kali

Gubernur DIY Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X yang menyambangi keluarga korban untuk menyampaikan dukacita di Kel. Donokerto menyayangkan kejadian karena dilakukan di tengah cuaca buruk di musim hujan.

Selain mencegah agar kejadian serupa tidak terjadi lagi, sistem penyampaian EWS serta koordinasi antarinstansi penanganan bencana memang harus dibenahi, tidak cukup di atas kertas tapi harus harus disimulasikan berkali-kali dan dilakukan secara konsisten.

Yang tidak kalah pentingnya, pertanggungan jawab harus diminta pada pihak sekolah yang lalai, memberikan begitu saja izin kegiatan menyusuri kali dan juga aparat-aparat instansi lainnya yang tidak  menyampaikan EWS.

Alam sebenarnya bersahabat dengan manusia, cuma manusia lah sering lalai atau kurang perduli, sehingga musibah menyambangi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan duka cita atas meninggalnya enam murid SMPN 1 Turi Sleman saat melakukan kegiatan susur sungai di Sungai Sempor pada Jumat (21/2). Akun Twtter @humas_jogja mengunggah ucapannya itu, Jumat (21/2). “Ikut berduka cita atas meninggalnya anak-anak dari SMPN 1 Turi di Kabupaten Sleman atas musibah pada waktu punya aktivitas menyusuri sungai,” kata Sri Sultan, dalam keterangannya. Sultan menyayangkan dan mempertanyakan mengapa kegiatan tersebut dilakukan pada saat musim hujan. Ia pun meminta tanggung jawab pihak sekolah atas kelalaian yang telah dilakukannya itu. “Tapi juga saya prihatin kenapa justru pada waktu musim hujan ada aktivitas untuk menyusuri sungai. Dan saya mohon pimpinan sekolah bisa bertanggung jawab atas musibah ini,” kata Sultan. Saat musim hujan masyarakat diimbau untuk menjauhi aktivitas yang berdekatan dengan sungai. Ia menekankan kegiatan seperti itu hanya akan menimbulkan bahaya. Selanjutnya Sultan menginstruksikan ke BPBD DIY untuk mengeluarkan surat edaran tidak melakukan kegiatan di sekitaran sungai pada saat musim hujan. “Entah itu alasannya untuk bersih desa ataupun bersih kali dan lainnya, ditunda saja dulu. Nggak usah pada waktu musim hujan,” tegasnya. Bersama Bupati Sleman Sri Purnomo, Sultan mengunjungi SMPN 1 Turi Sleman pada Jumat malam. Ia berdialog kepada para guru untuk mendapatkan keterangan atas musibah itu. Sulan juga telah mengunjungi beberapa orang tua korban. Sebanyak 230 personel tim SAR gabungan dikerahkan untuk mencari Siswa SMPN 1 Turi Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang hanyut di Sungai Sempor. Hingga Sabtu (22/2) dini hari pencarian masih terus dilakukan. Masih ada 4 siswa yang belum ditemukan.

 

Advertisement