
BAYANGKAN, Ibu Negara kok bikin gara-gara, apa kata wayang dan para abdi negara. Taruhlah Rocky Gerung akan diam saja, tapi wayang Gareng tanpa Rocky pasti akan membuly-nya. Betapapun Gareng hanya wayang akar rumput, jelek-jelek dia pernah pula dia jadi penguasa meski tak sampai satu periode. Namanya Pandu Pragola, memerintah negeri Parang Gumiwang. Dia diturunkan rakyatnya gara-gara terjebak kongkalikong dengan DPRD soal dana Bansos dan Hibah.
Gareng ingin protes kepada Prabu Puntadewa, tapi ditolak oleh “herder-herder” di istana Indraprasta. Di samping sang prabu sedang menjalani karantina mandiri, tak ada jalurnya punakawan Gareng Cs ketemu raja Ngamarta. Mitra kerja punakawan tak lain tak bukan hanyalah Raden Harjuna dari Madukara. Membahas masalah apapun, Semar berikut Gareng, Petruk dan Bagong hanyalah bersama Harjuna tempatnya.
“Ndara Harjuna ini bagaimana? Ndara Puntadewa berhalangan menjabat kenapa negara dibiarkan vacum? Petingginya pada ke mana sih, kok ndara Drupadi sampai ambil kebijakan sendiri.” Protes Gareng pada Harjuna.
“Maaf, Pendawa empat lainnya sedang konsolidasi partai menghadapi 2024. Saya pikir kangmas Puntadewa hanya flu biasa, nguntal Naspro juga sembuh. Ternyata sampai harus karantina segala seperti Fadli Zon…..” jawab Harjuna gusar, karena punakawan pun ikut memojokkan dirinya.
Dalam kondisi normal, segala kebijakan di Ngamarta selalu dirundingkan bersama oleh Pendawa Lima. Semua dalam keputusan bulat, tak boleh terjadi disenting opinion. Jika ada yang berbeda pandangan, kebijakan tak jadi ditetapkan atau ditunda dulu. Tapi gara-gara wabah Covid, tata kelola pemerintahan di Ngamarta jadi ambyar. Prabu Puntadewa menjalani karantina, kebijakan justru diambil alih oleh Ibu Negara, padahal sama sekali tak mendapat mandat.
Atas kecerobohan ini, pusaka Jamus Kalimasada telah hilang. Siapa pencurinya juga tak diketahui jelas, kecuali sebuah pengakuan bernama: Mustakaweni. Padahal Mustakaweni ini nama pasaran dan ombyokan, sehingga di mana-mana ada nama itu. Tapi apa dari mereka benar terlibat pencurian pusaka tersebut. Lalu, apa mungkin segenap wayang Ngamarta yang bernama Mustakaweni dipanggil dan diinterogasi?
“Lalu bagaimana ndara Harjuna melacak si maling wanita ini? Jika berpatokan pada rekaman CCTV, justru ndara Gatutkaca yang jadi tersangka. Padahal kesaksian ndara Srikandi, itu hanya Gatutkaca KW-2, karena aslinya bernama Mustakaweni….” kata Gareng.
“Tenang, tenang, Gareng, jangan terlalu serius, nanti bisa kayak Rocky Gerung. Kita tanya saja Mbah Google, siapa sejatinya Mustakaweni, pasti bisa menjawab. Dari situ barulah kita melakukan pengejaran.” Jawab Harjuna santai.
Semoga saja benar, karena data Google juga tak selalu benar. Masak iya, ketika ketik “gubernur terbodoh” yang muncul kemudian nama Anies Baswedan. Kalau benar dia, masak orang bodoh bisa jadi gubernur DKI Jakarta, bahkan pernah jadi menteri dan rektor PTS segala. Karenanya Gareng tak terlalu percaya pada Mbah Google.
Ketika Harjuna melacak ke Google, ada sejumlah nama Mustakaweni muncul. Tapi yang menarik, ada nama itu yang berasal dari Manikmantaka, anak kandung Prabu Niwatakawaca. Kalau nggak salah, berarti dia keturunan musuh Harjuna ketika rebutan Dewi Supraba dari kahyangan. Harjuna pula yang membinasakannya lewat panah Pasopati miliknya, tepat pada bagian mulut. Jika orang nyinyir lainnya pada kena Covid-19, Prabu Niwatawakawaca langsung wasalam.
“Jangan terlalu percaya sama Google, chek lagi pada ndara Prabu Kresna pemilik Kaca Paesan, dia lebih akurat. Kalau sama jawabnnya berarti itu benar.” Kata Gareng lagi.
“Iya, iya! Kok kamu jadi seperti LSM sih.” Hardik Harjuna, lama-lama kesal juga. Kok seperti dianya yang lebih pintar.
Melalui WA Harjuna segera kontak ke raja Dwarawati tersebut. Tak lama kemudian muncul jawaban sama. Memang dialah pencuri dokumen Jamus Kalimasada. Dia lebih berbahaya ketimbang Angelina Sondakh yang pencuri harta negara lewat pengawalan proyek APBN sampai dapat “apel Malang” segala. Berdasarkan informasi yang dijamin akurasinya itulah baru Harjuna akan melacak ahli waris musuh masa lalunya.
Tapi baru mau berangkat ke negeri Manikmantaka mendadak ada laporan dari para punakawan bahwa ada anak muda mengaku putra Harjuna. Namanya Bambang Priyambada, dari pertapan Glagaharum, diasuh Begawan Sidik Waspada. Lalu siapa emaknya? Ini yang tidak jelas, sebab Harjuna memang terkenal tukang kawin, tapi hanya
“nyetrom” doang. Artinya, setelah memberi nafkah batin pada istri barunya, lalu ditinggal pergi dan tak pernah kembali lagi.
“Bener nih kamu anakku? Jangan-jangan cuma pengin dibiayai kuliah gratis. Jika anak Harjuna harus berani berkelahi dan menangan.” Tantang Harjuna.
“Bener nih Oom. Siapa yang jadi musuh saya. Bawa sini, biar saya lumat habis.” Tantang Bambang Priyambada.
“Pemberani betul kamu, siapa tadi namamu? Bambang Priyambada, apanya Bambang Pacul?” Harjuna bertanya lagi.
“Saya bukan orang PDIP, Oom……” jawab Priyambada lugu.
Meski bangga akan tekad Bambang Priyambada, tapi Harjuna tertawa dalam hati melihat perilaku anak muda yang ngaku anak kandungnya tersebut. Harjuna lalu mengajari bagaimana sikap dan sopan santun seorang anak ketika ketemu orangtuanya. Masak ketemu orangtua malah berkacak pinggang, seperti mengajak berantem.
Maklum, Bambang Priyambada produk jaman milenial yang lebih mengedepankan teknik digital dan mengesampingkan moral. Gila nggak, sekarang ada ustadz yang mengharamkan sungkeman pada orangtua. Ini ustadz apa lahir dari cangkang telur, sehingga tak mau menghormati orangtua yang telah melahirkannya.
“Kamu setiap Lebaran harus sungkem padaku, ya. Itu ekpresi darma bakti anak pada orangtua.” Nasihat Harjuna pada Bambang Priyambada.
“Oo, gitu. Nggak boleh Lebaran hanya tos saja pakai tangan?” kata Bambang Priyambada
(Ki Guna Watoncarita)


