spot_img

Nasib Atlet Tak Semanis dalam Bayangan

JAKARTA – Nasib menjadi atlet profesional di negeri ini terkadang tak semanis dalam bayangan. Jika menengok kehidupan atlet profesional di mancanegara yang terekspose media bak pengusaha dengan rumah dan kendaraan mewahnya.

Namun, di tanah air masih banyak atlet yang terlupakan dari benak masyarakat semua, salah satunya mereka para penggocek si kulit bundar. Padahal sepak bola merupakan olahraga pemersatu di negeri ini dan selalu mendapatkan antusiasme luar biasa dari masyarakat. Namun dari ribuan pesepakbola profesional tanah air juga tak semuanya bernasib baik.

Bahkan pengacara yang juga presenter sepak bola dan Sekjen Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI), Valentino “Jebret” Simanjuntak, dalam pertemuan khusus dengan Dompet Dhuafa mengutarakan, “Di Indonesia ini, pesepakbola yang hidupnya nyaman hanya di kisaran angka 20%, sementara yang 80% nya lagi masih hidup serba berkekurangan”.

Kita tengok saja, Sulaiman Alamsyah Nasution (34), yang pernah mengantar Sriwijaya FC membawa pulang gelar juara di sejumlah kompetisi dan kemudian berlabuh di PSMS Medan, kini harus menjalani hidup dalam keadaan susah.

Pria yang sempat masuk seleksi timnas di bawah kepelatihan Ivan Kolev pada 2007 tersebut, kini tertatih membiayai hidup keluarganya. Kerja serabutan harus ia jalani, mulai dari berprofesi sebagai penjaga kolam pemancingan, pengantar tabung gas, hingga menarik becak ia lakukan untuk terus melanjutkan hidup.

Namun alamsyah hanya satu dari puluhan bahkan ratusan pesepakbola Indonesia yang menjalani hidup dalam kesulitan. Untuk itu di bulan penuh berkah kali ini, Dompet Dhuafa turut andil dalam memberdayakan para pemain sepak bola yang bernasib kurang beruntung. Minggu (28/6), di lapangan Pertamina Simprug, Dompet Dhuafa bersama Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) dan Munial Sport Group (MSG) menggelar laga amal sebagai tanda cinta untuk mereka yang terlupakan.

Pada laga amal bertajuk “Cinta Bola Indonesia” tersebut, turut dihadiri puluhan pesepakbola yang sangat peduli terhadap kawan-kawannya yang kini mengalami kesulitan ekonomi dalam hidup.Selain itu, pesepakbola yang harus tertatih membiayai pengobatan dari cidera kaki seperti Alfin Tuasalamony dan M. Nasuha turut hadir di tengah arena, serta mendapat dukungan penuh dari kawan-kawan seprofesinya.

“Insya Allah melalui program Cinta Bola Indonesia ini, akan ada bantuan kepada pesepakbola dan keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi. Kami turut andil untuk kembali mengingat mereka yang dulu pernah beraksi meramaikan jagat laga bola tanah air,” papar Presiden Direktur Dompet Dhuafa, Ahmad Juwaini, Minggu (28/6).

Kepedulian ini memang bukan kali pertama, sebelumnya Dompet Dhuafa juga pernah mengajak masyarakat peduli kepada atlet bulu tangkis yang mengalami nasib yang sama dengan pesepakbola di atas. Sehingga melihat keadaan pesepakbola yang memiliki hidup susah dan hampir terlupakan di tengah hiruk-pikuk zaman, Dompet Dhuafa ingin memuliakan mereka.

Menurut Ahmad, Dompet Dhuafa merencanakan pemberian bantuan untuk 100 pesepakbola terpilih. Ahmad menuturkan, “kali ini Dompet Dhuafa bekerjasama dengan APPI untuk memverifikasi 100 pemain yang benar-benar membutuhkan bantuan dari program Cinta Bola Indonesia ini, yang tentunya juga melalui prosedur dan ketentuan yang berlaku di lembaga.

APPI tentu punya banyak data pemain yang hidupnya terpuruk. Kami ingin bantu mereka barangkali dapat dipergunakan untuk modal dan memperbaiki hidup mereka. Di program ini, Dompet Dhuafa juga telah menyediakan dana khusus yang digalang untuk kebutuhan Cinta Bola Indonesia”.

Tak hanya itu saja, karena kedepannya Dompet Dhuafa juga akan memberikan pembekalan dan pengembangan skill melalui Institut Kemandirian bagi pesepakbola penerima tanda cinta ini. Di Institut Kemandirian Dompet Dhuafa, para penerima manfaat akan dibina menjadi sosok wirausaha dengan beragam pembekalan keterampilan seperti otomotif, teknisi handphone, fashion hingga keterampilan IT dan desain grafis. Dengan harapan para mustahik penerima manfaat ini dapat segera keluar dari kungkungan keterbatasan dan kemiskinannya setelah memiliki bekal keterampilan sebagai modal usaha mandiri.

Lebih lanjut Ahmad menjelaskan, 100 pemain yang sesuai kualifikasi dan verifikasi nantinya akan mendapatkan bantuan maksimal sebesar Rp 3 juta. Karena Dompet Dhuafa terus konsisten membantu kaum dhuafa tanpa memandang profesinya. Semoga dengan kepedulian masyarakat semua, para atlet yang kini mengalami kesulitan perekonomian dapat Tumbuh Bersama menjadi insan mandiri. -DD

spot_img

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


spot_img

Latest Articles