
JIKA AS, China dan Rusia berdamai menyelesaikan segala persoalan dan negara-negara rakasa ekonomi seperti Jepang, Korea Selatan dan negara-negara Uni Eropa bersatu menggalang kerjasama, nisacaya dunia bakalan aman dan sejahtera.
Aura positif agaknya muncul selama lawatan Presiden AS Donald Trump ke Jepang, China, Korsel, menghadiri pertemuan APEC di Danang, Vietnam dan KTT ASEAN di Manila, Filippina dari 5 hingga 13 November.
Dengan Jepang – mitra utama AS dalam konteks menghadapi Korea Utara, walau keduanya juga memiliki persoalan terkait ketimpangan neraca perdagangan- Presiden Trump berjanji membantu menghadapi ancaman nuklir Korut.
Trump di hadapan rekan kerjanya PM Shinzo Abe menyatakan, kesabaran rakyat AS sudah habis menghadapi ancaman agresi nuklir Korut dan mengisyaratkan, AS akan memutuskan menyerang negara itu.
Selama ini rezim Kim Jong-Un bergeming atas berbagai seruan internasional untuk menghentikan ujicoba rudal dan bom nuklir, dengan alasan hal itu diperlukan untuk membela diri dan mempertahankan kedaulatannya.
Dengan China, salah satu seteru AS di era Perang Dingin lalu selain Uni Soviet, Trump sepakat memperluas perdagangan hingga tercapai ekuilibrium.
Presiden Trump kali ini juga membujuk China yang dalam Perang Korea (1950 – 1953) berada di kubu Korut berhadap-hadapan langsung dengan AS, untuk mempengaruhi tetangganya itu mengakhiri program nuklirnya.
Saling cela dan curiga yang mewarnai hubungan AS-China di masa lalu, berganti dengan sanjungan dan pujian setelah tuan rumah memberikan sambutan luar biasa dan mengajak Trump mengunjungi kota terlarang di negeri itu.
Trump selain menjuluki Presiden Xi Jinping sebagai “sosok sangat istimewa, hebat dan pekerja keras”, juga tidak lupa mengingatkannya agar bertindak cepat menghentikan program nuklir Korut.
Tidak hanya itu, kedua pemimpin juga menyaksikan penandatanganan kesepakatan dagang senilai 250 milyar dolar AS.
Di Danang, Vietnam, pada pertemuan bersama 17 pemimpin negara anggota Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) termasuk Presiden Jokowi , Trump membahas upaya pembangunan ekonomi inklusif demi terciptanya pasar bebas.
Tatap muka yang dijadwalkan di pertemuan APEC antara Trump dan Vladimir Putin, presiden Rusia, negara yang di era Perang Dingin lalu (di bawah Uni Soviet) menjadi seteru utama AS, diharapkan juga memecah kebuntuan isu Korut dan juga bagi penggalangan kerjasama ekonomi.
Di Korsel, kunjungan Trump selain memperkokoh komitmen untuk membantu negara itu dari ancaman agresi Korut dengan sepenuh kekuatan militernya, tidak seperti sebelumnya, menyampaikan pernyataan lebih lunak terhadap Korut.
“Perundingan, sesuatu yang masuk akal bagi Korut, dan positif bagi dunia, “ ujarnya.
ASEAN yang dimotori RI, di KTT di Manila, 12 dan 13 November, tentu saja akan membahas peran ASEAN bagi penyelesaian berbagai persoalan dunia dan juga peningkatan kerjasama ekonomi dengan AS dan negara-negara mitra lainnya.
Trump juga dijadwalkan bertemu Presiden Filippina Rodrigo Duterte di sela-sela KTT ASEAN, kemungkinan membahas isu pemberontak Maute di Marawi.
Kemitraan global, melalui forum ASEAN, APEC dan lainnya dengan negara adidaya seperti AS, Rusia, China dan kekuatan ekonomi seperti Jepang, Korsel dan negara-negara Uni Eropa serta negara-negara lainnya harus terus dibangun demi terwujudnya perdamaian dan kesejahteraan warga dunia.
(AFP/AP/Reuters/ns)




