Negara Beruang Merah Juga Diserang Teroris

Presiden Vladimir Putin meletakkan karangan bunga di lokasi pemboman di stasiun bawah tanah St Petersburg (3/4)

AKSIĀ teroris sering tidak terduga, baik waktu maupun sasarannya, seperti halnya peristiwa pemboman di stasiun kereta bawah tanah di kota kedua terbesarĀ  Rusia, St Petersburg, Senin (3/4) lalu.

Sejauh ini tercatat 15 korban tewas dan 50 lagi mengalami luka-luka akibat ledakan bom di atas rangkaian KA komuter yang melaju diantara Stasiun Sennaya dan Institut Teknologi di kawasan kota St. Petersburg.

Seorang tersangka pelaku, pria asal Kirgistan diidentifikasi bernama Akbarzhon Jalilov (26) lahir di kota Osh, Kirgistan pada 1995, bermukim di Rusia selama lima tahun dan bekewarganegaraan Rusia, berhasil diciduk aparat keamanan.

Bisa dibayangkan, negeri Beruang Merah yang relatif tertutup dan memiliki dinas rahasia, KGB – salah satu yang terbaik di dunia – dengan mudah bisa diterobos – oleh aksi teroris yang kemungkinan dilakukan oleh pelaku tunggal.

Pakar intelijen Rusia, Andrei Soldatov mengakui, siapa pun akan sulit melawan aksi (dengan pelaku tunggal –red) semacam peristiwa di stasiun metro bawah tanah itu, karena untuk membongkarnya, dinas keamanan biasanya perlu melacak jaringan organisasi dan pendukung keuangan di balik aksi-aksi teroris.

Aksi kali ini, menurut dia, polanya sangat berbeda dari yang pernah ditangani oleh dinas keamanan sebelumnya. Sejauh ini aparat keamanan Rusia juga masih mencari motif aksi Jalilov yang jasadnya ditemukan di gerbong lain di rangkaian KA sama yang salah satu gerbongnya mengalami kerusakan akibat pemboman.

Dari penggerebekan di apartemen terangka, tidak banyak diperoleh benda-benda mencurigakan selain rekaman video memuat ancaman terhadap Rusia akibat operasi militer yang dilancarkannya di Suriah pada 2015, selebihnya foto-foto yang menunjukkan aktivitas normal remaja seusianya.

Sejauh ini belum ada pihak yang mengklaim bertanggungjawab, sedangkan aparat keamanan menciduk enam orang asal negara-negara sempalan Uni Soviet di Asia Tengah yang diduga melakukan perekrutan atau membantu kegiatan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), namun tidak ada kaitannya dengan pemboman di stasiun St. Petersburg.

Yang menggembirakan, seteru-seteru Rusia di era Perang Dingin lalu menyampaikan empati dan bahu-membahu dengan Rusia untuk membasmi aksi-aksi terorisme. Dewan Keamanan PBB juga mengecam serangan tersebut dan menilainya sebagai perbuatan biadab.

Bersama, lawan teroris

Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Perancis Francois Hollande dan Presiden Turki Tayyip Erdogan langsung menelpon Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menawarkan ajakan melakukan upaya lebih intens melawan aksi terorisme yang merupakan musuh bersama.

Aksi peledakan bom di stasiun KA kali ini paling tidak adalah yang keempat kali di Rusia sejak serangan beruntun di stasiun KA dan terminal bus di kota Volgograd pada 29 dan 30Ā  Desember 2013 dengan 34 korban jiwa.

Ledakan bom di atas KA yang baru melintasi stasiun KA Avyazovadskaya,Ā  tenggara Moskow , Februari 2004 menewaskan 39 orang dan pada September tahun yang sama di area stasiun Metro Moskwa, sembilan korban tewas akibat ledakan bom, sementara aksi bom bunuh diri dua wanita Chechnya, Maret 2010 merenggut 38 nyawa.

Sejak 1970 telah terjadi 800 kali serangan terror di Rusia yang merenggut sekitar 3.500 nyawa, bahkan selamaĀ  kepemimpinan Putin, terjadi 13 kali aksi teroris, yang terbesar penyanderaan gedung teater di Moskwa oleh kelompok separatis Chechnya yang menewaskan 41 penyandera dan 129 tersandera pada Oktober 2002.

Mengantisipasi atau mencegah aksi teroris memang mudah diucapkan, sukar dilaksanakan, terbukti negara-negara maju dengan sistem keamanan dan deteksi berlapis-lapis seperti Jerman, Inggeris dan Perancis juga sering tidak berdaya.

Bahkan, Amerika Serikat, negara yang mampu menangkal serangan apa pun dari luar, termasuk menghancurkan rudal musuh di pangkalannya pun dipermalukan oleh aksi serangan teroris terhadap WTC, 11 September 2001 yang menelan ribuan korban dan terjadi di ā€œjantungā€ negeri Paman Sam itu.

Memang sulit untuk mencegah orang per orang yang berniat atau merencanakan kejahatan. Namun demikian, aparat keamanan dan juga lingkungan masyarakat diharapkan selalu waspada, tidak lengah (AFP/AP/Reuters/NS)

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement