Nekat Mudik, Tunggu Lonjakan Covid!

Petugas gabungan di pos-pos penyekatan arus mudik di ruas Jalur Pantura kewalahan menghadapi pemudik yang nekat menerobos barikade-barikade yang didirikan.

AKSI ribuan warga yang nekat mudik dengan berbagai upaya kucing-kucingan mengelabui para petugas pos penyekatan khususnya di Pulau Jawa bakal menuai buahnya berupa lonjakan kasus Covid-19 pasca Idul Fitri nanti.

Buktinya, seperti diungkapkan Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN), Airlangga Hartarto, dari hasil tes acak Operasi Ketupat yang digelar (10/5)  tercatat 4.123 orang dari 6.742 orang (persen) positif terpapar Covid-19.

Dari jumlah pengambilan sampel secara acak tersebut berarti tingkat pemaparannya cukup tinggi yakni 61 persen lebih (4.123 dari 6.742 orang), identik dengan tingkat “positivity rate nasional Covid-19” yang masih tinggi yakni sekitar 20 persen.

Selanjutnya, tutur Hartarto yang juga menjabat Menko Bidang Perekonomian, 1.686 orang dari pemudik yang terkonfirmasi positif Covid-19 tersebut telah melakukan isolasi mandiri, sementara 75 orang dirujuk ke berbagai rumah sakit.

Sebenarnya, pembelajaran bisa diambil dari pengalaman libur-libur panjang sebelumnya yang sudah jelas menjadi pemicu lonjakan paparan Covid-19.

Pada Idul Fitri Mei 2020 terjadi lonjakan kasus antara 68 sampai 93 persen, lalu libur Hari Kemerdekaan RI antara 58 sampai 119 persen, Maulid Nabi (Okt) 37 sampai 95 persen, Natal dan Tahun Baru 37 sampai 78 persen dan libur pajang Idul Fitri kali ini diperkirakan akan memicu lonjakan kasus Covid-19 antara 37 sampai 119 persen.

Sejak larangan mudik (6 Mei) sampai 10 Mei, polisi telah memeriksa 113.694 kendaraan dan meminta berputar balik karena tidak memiliki persyaratan (Surat Izin Keluar Masuk, Test Antigen atau PCR bagi penumpang dan pengendara, surat dinas atau surat keterangan lain).

Petugas kewalahan menghadapi ratusan pengendara yang nekat menerobos barikade yang dibangun di pos penyeata di Bundaran  Kepuh, Karawang, Jawa Barat dini hari Sabtu lalu (8/5) lalu.

Banyak Lolos

Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio yang mengamati arus mudik di ruas utama jalur pantura juga menyaksikan sendiri, ribuan pemudik lolos beberapa jam saat pergantian shift petugas di titik penyekatan. Petugas shift terdahulu sudah pulang, sementara petugas berikutnya belum datang.

Selain minimnya jumlah petugas disbanding pemudik yang ribuan, ia sejak awal sudah memprediksi, tindakan penyekatan untuk mencegah pemudik nekat bakal sulit dilakukan.

Langkah berikutnya, menurut dia, dituntut ketegasan aparat di daerah mulai dari level kelurahan untuk melakukan pengetesan ulang  terhadap pemudik yang tiba, juga menyiapkan tempat-tempat isolasi mandiri. Masalahnya, apa sudah siap semua? Kata Pambagio balik bertanya.

Sementara itu, indikator terjadinya lonjakan kasus Covid-19 mulai terasa, ditandai dengan naiknya keterisian tempat tidur (Bed Occupancy Rate – BOR) di atas 50 persen di tujuh provinsi (Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Barat, Lampung dan Kalimantan Barat).

Selain kemungkinan munculnya kluster mudik, ancaman varian baru virus corona yang daya tularnya lebih tinggi dan lebih mematikan seperti varian B1.1.7 asal Inggeris dan B.1.617 asal India yang sudah terdeteksi penyebarannya juga sangat mencemaskan

“Pemudik nekat menabur Covid-19, diri, keluarga dan masyarakat luas akan menuainya akibatnya,”.

 

 

 

 

 

Advertisement