Nestapa di Tanduk Afrika

Anak-anak Somalia sedang bermain di pengungsian. Foto: Amirul Hasan /KBK

“Sisa-sisa penderitaan karena konflik komunal sejak tahun 1991 belum lah usai. Dampak bencana kekeringan di tahun 2011 juga belum hilang. Kini, setengah lebih warga Somalia terancam hidupnya karena kelaparan.”

Tiga bocah tengah duduk melingkar. Mereka memainkan sepasang sandal warna kuning dengan mengayunkan dan memeluknya. Namun, cuma dua anak yang asyik bermain, satu anak yang lebih besar badannya, hanya berdiam. Ia memicingkan mata ke arah kanan wajahnya, tapi entah apa yang dilihatnya.

Tak jauh dari tiga bocah itu, seorang balita juga tampak menikmati memainkan pasir di depannya. Seperti di pantai, ia membuat gundukan menyerupai gunung. Kepalanya bergoyang ke kanan dan ke kiri, seperti tengah berdendang.

Tak nampak kesedihan di wajah anak-anak itu. Padahal, mereka baru saja menempuh perjalanan jauh yang melelahkan. Mereka baru tiba di kamp pengungsian di wilayah Kahda District, 50 kilometer sebelah utara Mogadishu.

Berbeda dengan ribuan pengungsi lainnya yang menempati tenda-tenda kecil, mereka berkumpul dalam area seluas 400 meter persegi yang dikeliling seng. Tempat yang disebut dengan Kamil Center ini semacam ruang asimilasi bagi pengungsi sebelum bergabung dengan ribuan orang yang menempati kamp. Saat SwaraCinta menyambangi tempat ini, Senin 3 April lalu, terdapat 250 keluarga atau hampir 1000 jiwa yang baru saja tiba.

Sebagian besar berasal dari Kurtun Warrey, sebuah desa yang terletak 90 kilometer dari Mogadishu. Meski menggunakan mobil, perjalanan yang mereka lakukan cukup lama, 12 jam. Infrastuktur jalan yang sangat buruk, ditambah ancaman gangguan keamanan, membuat mereka harus ekstra hati-hati dalam melakukan perjalanan.

“Sudah tidak ada lagi yang bisa kami makan di sana, kami harus pergi,” ujar Hawa (25 tahun).

Hawa membawa serta anaknya, Ibrahim (6 tahun) dan Usman (4 tahun). Suaminya tidak ikut serta karena harus menjaga rumah mereka. “Selain itu, uang yang kami miliki juga tidak cukup untuk mengongkosi semuanya,” ujar tambah Hawa.

Hawa sebenarnya berasal dari keluarga berada di desanya. Sebelum bencana kekeringan melanda, ia memiliki 100 sapi dan kebun yang cukup luas untuk menghidupi keluarga. Namun nasibnya berubah seketika. Ia harus hidup terlunta-lunta, mencari air dan makanan ke kamp pengungsian.

“Semuanya mati, tidak ada yang tersisa untuk kami,” tambah Hawa.

Kondisi Hawa dan ratusan warga Somalia dari Kurtun Warrey lainnya di Kamil Center cukup memprihatinkan. Mereka tidur di atas pasir tanpa alas, juga tanpa atap. Beberapa ada yang membawa alas, dan terpal untuk berlindung dari panas. Tapi lebih banyak yang tidak. “Tak banyak yang bisa mereka bawa dari desa,” kata Hibak, salah satu pengelola Kamil Center.

Hawa juga tak tahu sampai kapan ia berada di Kamil Center, dan bergabung dengan pengungsi lainnya yang sudah memiliki tenda di kawasan Kahda. “Kami masih menunggu ketersediaan lahan. Mereka juga harus didaftar terlebih dahulu,” kata Hibak.

Pendataan pengungsi sangat perlu dilakukan agar mereka bisa mendapat jatah ketika ada lembaga kemanusiaan atau pemerintah yang menyalurkan bantuan di tempat itu. Untuk sementara, pemerintah yang juga dibantu badan PBB, menyuplai makanan bagi pengungsi. Khusus di Kamil Center, sedikitnya 200 kg beras disiapkan untuk memenuhi kebutuhan pengungsi dalam beberapa hari.

Bencana Terburuk

Kekeringan dan kelaparan yang dimulai sejak akhir tahun 2016 lalu hingga tahun ini diprediksi bisa menjadi bencana terparah dalam satu dekade belakangan. Sekedar gambaran, pada tahun 2011 lalu, bencana kekeringan dan kelaparan di Somalia sebabkan 250 ribuan orang tewas, dna setengahnya adalah anak-anak. Sementara pada akhir bulan lalu, dalam 24 jam 100 orang dinyatakan tewas karena kelaparan.

Abdirrahman Abdirrazak, Direktur Eksekutif Tadamun Social Society, lembaga kemanusiaan yang berbasis di Bosaso, Somalia bagian Selatan mengatakan, jika hujan tidak turun hingga akhir tahun, bisa jadi semua hewan akan mati di kawasan-kawasan terdampak akan mati semua. “Ini akan semakin parah,” katanya.

Situasi yang “mengerikan” sudah terjadi di beberapa desa di Bay, Bakool, Qardho, Garowe, Jariiban, dan desa-desa lainnya, baik di utara maupun di Somalia. “Banyak hewan ternak yang tersisa tulang di padang pasir,” kata Abdirrahman seraya menunjukkan video yang diambilnya.

Data yang dikeluarkan Kantor PBB untuk Koordinasi Bantuan Kemanusiaan (UNOCHA) menunjukkan, ada 6,2 juta dari 12,3 juta rakyat Somalia yang membutuhkan bantuan. Secara rinci disebutkan, 439 ribu dalam kondisi gawat darurat, 2,5 juta mengalami kritis, 3,3 juta kekurangan pangan, dan 363 ribu alami malnutrisi.

Bay dan Bakool di selatan Somalia adalah kawasan terdampak paling parah selama ini. Sebanyak 42 persen lebih penduduknya berada dalam kondisi krisis dan darurat. Ada 500 ribu orang, di mana 84 persennya tinggal di desa-desa yang mengalami kelaparan dan harus meninggalkan rumah.

Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan. Dalam hitungan Organisasi Pangan Dunia (FAO) menghitung, ada 944 ribu anak yang mengalami malnutrisi.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan, ada 18.819 kasus kolera per 27 Maret lalu. Jumlah ini diprediksi terus bertambah jika tidak segera dilakukan langkah antisipasi. Akhir Maret lalu juga dilaporkan ada 59 orang yang tewas karena kolera ini.

Untuk membantu mereka, dibutuhkan sedikitnya dana US$ 825 juta. Dana ini pun hanya untuk memenuhi bantuan selama periode Januari-Juni 2017.  Namun demikian, Ketua UNOCHA, Stephen O’Brien bersyukur, lembaga bantuan dunia memiliki respon yang cepat untuk membantu warga Somalia. “Donor merespon cukup cepat, sejak Januari lalu, sedikitnya sudah terkumpul dana US$400 juta. Namun kita membutuhkan sumber daya tambahan,” katanya dalam pernyataan pers.

Ancaman Keamanan

Keamanan masih menjadi masalah utama di Somalia, khususnya di bagian selatan dan Afrika. Kondisi ini membuat akses organisasi kemanusiaan dalam membantu warga terdampak kekeringan menjadi sulit. Aktivisa kemanusiaan di Somalia banyak mengalami pengalaman buruk saat menyalurkan bantuan di sana.

Data yang dilansir UNOCHA cukup mencengangkan, lebih dari 165 insiden kekerasan menimpa pegiat kemanusiaan pada tahun 2016. Dalam laporannya juga disebutkan, sedikitnya 14 orang tewas, 16 orang luka-luka, dan 25 lainnya ditahan penculik. “Angka ini meningkat 18 persen dibanding tahun 2015 yang mencapai 140 kejadian,” tulis OCHA.

Direktur Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa, Syamsul Ardiansyah yang mengemban tugas ke Somalia mengatakan, masalah keamanan bagi pekerja kemanusiaan memang menjadi masalah, terlebih di wilayah konflik yang melibatkan sipil. Menurutnya, masalah ini menjadi perhatian serius dalam World Humanitarian Summit di Istanbul tahun lalu. “Bagaimana agar penghormatan terhadap hukum humaniter internasional itu dipatuhi,” ujarnya.

Namun, dalam kenyataannya, ini sulit terjadi mengingat pihak-pihak yang berkonflik bukanlah bagian dari negara yang tunduk pada hukum internasional. Al Shabab di Somalia dan ISIS di Timur Tengah misalnya, mereka justru menjadikan pekerja kemanusiaan sebagai target.

Untuk itu, kata Syamsul, saat ini keselamatan dan keamanan pekerja kemanusiaan menjadi bagian pokok dari akuntabilitas lembaga kemanusiaan. “Karena kita tidak bisa menjamin pihak lain untuk tidak melakukan kekerasan kepada kita. Yang harus dilakukan adalah bagaimana lembaga tersebut bisa menjamin keamanan dan keselamatan tim mereka,” terangnya.

Kembali ke situasi Somalia, keberadaan pos pemeriksaan (check point), baik yang dijaga tantara pemerintah maupun milisi, sangat menghambat gerak pekerja kemanusiaan dalam melakukan misinya. Jalur Belet Weyne-Burlo Burto-Mogadishu, Mogadishu-BaidoaDoolow, dan Mogadishu-Barawe-Kismayo, merupakan wilayah yang dilaporkan paling banyak terdapat pos pemeriksaan ilegal.

 

Advertisement