Nyawa Meregang Sia-sia di Jalan Raya

Kecelakaan maut tabrakan beruntun melibatkan 20 kendaraan yang kesekian lainnya di ruas tol Cipularang (2/9), merenggut delapan nyawa dan 25 korban terluka.

JALAN tol dibangun untuk membuat para pengendara dan pengguna bebas dari segala hambatan, merasa lebih nyaman, aman, lebih cepat dan selamat sampai tujuan.

Jika di ruas jalan yang sama terjadi kecelakaan berulang dan beruntun melibatkan sejumlah kendaraan, pasti ada yang salah dan harus segera dicari penyebabnya agar tidak berjatuhan lagi korban berikutnya.

Delapan korban tewas dan 25 luka-luka dalam tabrakan beruntun 20 kendaraan di jalan tol Cipularang KM 91 (2/9), diduga akibat abainya disiplin dan terhadap peraturan keselamatan berkendara, konstruksi jalan, kondisi medan, cuaca serta faktor-faktor teknis lainnya.

Saksi mata menuturkan, berawal dari kehilangan kendali, pengemudi truk pengangkut tanah Dedi Hidayat (45) yang memacu kendaraannya dari arah Bandung dengan kecepatan tinggi di jalan menurun.

Para pengemudi kendaraan di belakangnya berusaha menginjak pedal rem menghindari truk yang melintang di badan jalan, namun malang, truk pengangkut tanah satuya lagi yang mengalami rem blong menabrak kendaraan tersebut, disusul belasan kendaraan lain.

Korban tewas selain Dedi, tiga pengendara lain yakni Endi Budiyanto (62), Iwan bin Nisin (34) dan Hendra Tjahyana (61), sedangkan empat korban lainnya dari mobil-mobil yang terbakar belum terindentifikasi.

Tanpa mendahului takdir, kecelakaan-kecelakaan berikut agaknya tinggal menunggu waktu jika tidak dilakukan pembenahan menyeluruh terkait penyebabnya, baik terkait disiplin pengendara, kelaikan kendaraan, kondisi jalan mau pun faktor-fator teknis lainnya.

Tiap jam, Tiga Tewas
Menurut catatan polisi, tiap jam tiga orang tewas akibat kecelakaan lalu-lintas di Indonesia, 61 persen akibat ulah manusia, 30 persen akibat ketidaklaikan kendaraan dan sembilan persen oleh faktor prasarana dan lingkungan.

Sebanyak 27.910 korban tewas akibat lakalantas pada 2018, turun dibandingkan 2017 yakni 29.810 orang, walau jumlah kecelakaan pada 2018 naik dari 101.022 kasus menjadi 103.672.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2018 mencatat, dengan sekitar 38.000 korban tewas akibat lakalantas per tahun, Indonesia menempati urutan ke-4 setelah China (261.000), India (238.000) dan Brazil (41.000).

Awak GridOto.com dan pakar Safety Driving Jusri Pulubuhu yang melakukan investigasi dan assessement antara KM100 hingga KM90 tol Cipularang (dari arah Bandung) pada 2014 mencatat sejumlah potensi kecelakaan di ruas jalan tersebut.

Topografi jalan berbukit dan berbelok 30 derajat, disertai turunan dan ada tiga jembatan dan juga angin samping (cross wind) yang bisa membuat mobil limbung.

Pengendara sering memacu kendaraan di ruas jalan ini, diperparah lagi oleh perilaku sebagian supir truk yang menetralkan persneling demi menghemat BBM, padahal ini berbahaya, karena tanpa ‘engine brake”, kendaraan bisa meluncur tak terkendali.

Pengguna jalan, lanjut Jusri, kerap melanggar batas kecepatan di jalur ini, lagi pula, ada hambatan angin samping (cross wind) yang membuat mobil limbung, kadang-kadang diperparah dengan perilaku pengemudi truk yang menetralkan persneling demi menghemat BBM.

“Kendaraan meluncur tanpa engine brake. Ini sangat bahaya,” jelasnya.

Sementara di KM 98 adanya lintasan perlambatan dan pintu masuk rest area dengan kondisi menurun dan menikung. Bahayanya, pengendara kerap memotong jalur dari lajur cepat ke rest area sehingga bisa menyebabkan tabrak samping dan belakang.

Lalu, sambung Jusri, pada KM 97 jalanan menurun, bahu jalan relatif sempit sehingga gaya sentrifugal jenis kendaraan minibus, bus, truk dengan kecepatan 100 km/jam cenderung naik.

Risikonya, kendaraan yang melaju akan kesulitan menghadapi gaya sentrifugal hingga mengalami “understeer” atau terhempas sehingga bisa membentur tembok pembatas.

Pada KM 95 ada ruas jembatan dengan tikungan ke kiri yang membuat gaya sentrifugal naik sehingga kendaraan akan bergerak melebar tanpa kemauan supir dan repotnya lagi di ruas jalan ini jarak pandang terhalang tembok pemisah jalan.

Antara KM 92 dan KM 91 permukaan jalan masih menurun, lurus dan pandangan terbuka, sehingga pengendara terpicu untuk memacu kecepatan melebihi batas maksimal yang ditetapkan.

Akan Dievaluasi
Menhub Budi Karya Sumadi merespons peristiwa itu menyatakan pihaknya akan melakukan evaluasi lebih mendasar soal (kelaikan-red) kendaraan maupun ketidaktaatan pada peraturan.

“Bisa saja berkaitan dengan alignment (penyesuaian-red) jalan, “ kata Sumadi seraya menambahkan, diperlukan waktu paling tidak seminggu untuk menganalisis hal-hal terkait persoalan teknis dan struktural.

Kecelakaan maut yang terjadi Senin lalu bukan pertama kalinya di ruas tol Cipularang KM 90 sampai KM 104 yang dioperasikan sejak 2005.

Aktor Saipul Jamil kehilangan isterinya, Virginia saat berkendaraminibus bersama sembilan penumpang lainnya di KM 97 pada 3 September 2011 akibat mobilnya oleng dan menghantam pembatas.

Empat hari sebelumnya (31/8), sebuah mobil memuat 18 orang menabrak truk di KM 93, menewaskan enam orang dan melukai tiga penumpang lainnya.

Pada 7 Feb. 2012 kecelakaan beruntun di KM 84 melibatkan tiga kendaraan, menewaskan seorang dan melukai delapan lainnya dan sekitar sepekan kemudian (5/3) sebuah mobil boks menabrak kendaraan di depannya di KM 101, menewaskan seorang dan melukai empat lainnya.

Pada Desember 2012, delapan korban tewas dan 34 luka-luka saat sebuah bus pariwisata menyeruduk truk di KM 100.

Kecelakaan lalu-lintas yang merenggut nyawa, tidak hanya terjadi di antara KM 90 dan KM 104, tetapi di sepanjang ruas tol Cipularang dan Purbaleunyi di Jawa Barat.

Jadi tunggu apalagi? Semua pemangku kepentingan harus segera beraksi. Jangan sampai nyawa terbuang sia-sia, meregang di sepanjang jalan raya.

Advertisement