
PRESIDEN Prabowo Subianto menyepakati dan menandatangani perjanjian tarif timbal balik atau (Agreement on Reciprocal Trade – ART) dengan AS setelah melewati negosiasi panjang.
Melalui kesepakatan itu, Indonesia mengamankan rata-rata tarif impor ke AS sebesar 19 persen dari sebelumnya 32 persen atau disebut-sebut menjadi yang terendah di antara negara-negara ASEAN.
Selain itu, Indonesia berhasil mengamankan 1.819 tarif nol persen untuk produk yang diekspor ke AS, sebaliknya Indonesia akan menghapus 99 persen produk eskspor AS.
Sementara Menko Perekonomian Erlangga Hartarto dalam jumpa pers yang dsiarkan langsung Setpres mellaui Youtube menyebutkan, perjanjian akan berlaku 90 hari setelah proses hukum diselesaikan kedua belah pihak. Kesepakatan ART ini nantinya akan dikonsultasikan dengan DPR.
Dalam kesepakatan itu, ekspor dari Indonesia ke AS akan dikenai tarif resiprokal 19 persen, kecuali untuk produk-produk tertentu yang akan dikenai tarif timbal balik 0 persen, sebaliknya, Indonesia menghapus 99 persen hambatan tarif bagi produk ekspo
Tarif 19 persen merupakan hasil negosiasi berbulan-bulan, setelah Indonesia dikenai tarif awal 32 persen yang ditetapkan AS.
Penandatanganan perjanjian ini dilakukan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump di sela-sela KTT perdana Dewan Perdamaian (Board of Peace – BoP) di Washington, Kamis pagi wajtu stempat (19/2) .
Seskab Teddy Indra Wijaya mengatakan, perjanjian ini akan memperkuat keamanan dan mendorong pertumbuhan ekonomi, serta secara berkelanjutan berkontribusi terhadap kemakmuran global.
Menurut Teddy, kedua pemimpin negara merasa puas atas langkah-langkah cepat dan berkelanjutan yang telah dilakukan, serta menegaskan komitmen kuat untuk melaksanakan kesepakatan besar tersebut.
Satu-satunya pertemuan bilateral
Teddy pada bagian lain menyebut, Prabowo menjadi satu-satunya dari 15 kepala negara yang hadr dalam rapat perdana BoP melakukan pertemuan bilateral dengan Trump usai menandatangani perjanjian ART.
“Satu-satunya kepala negara yang melakukan temu bilateral dengan Presiden Trump itu adalah Presiden Prabowo,” jelas Seskab.
Negosiasi panjang Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, perjanjian ini berhasil disepakati setelah negosiasi panjang usai Trump mengumumkan tarif timbal balik pertama kalinya pada 2 April 2025.
Setelah itu, Indonesia telah mengirimkan empat surat untuk proses negosiasi tarif di bulan April, Juni, Juli, dan Agustus 2025.
Dalam periode tersebut, perwakilan RI menyambangi Washington DC empat kali, melakukan tujuh kali putaran perundingan, dan lebih dari sembilan kali pembahasan in-person maupun virtual dengan perwakilan dagang AS – USTR dan Dubes Jamieson Lee Greer.
Di dalam proses sebetulnya, lajut Teddy perwakilan RI juga berbicara dengan pejabat Commerce Secretary dan Treasury AS.
Lewat perjanjian itu Indonesia juga berhasil mengamankan tarif nol persen untuk 1.819 pos tarif produk, baik dari komoditas pertanian maupun industri.
Komoditas tersebut, a.l.minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, dan komponen pesawat terbang.
Nol persen tarif produk tekstil
Sementara Menko Perekonomian Erlangga Hartarto usai mengikuti acara penandatangaan ART menyebutkan, AS juga memberikan tarif 0 persen khusus untuk produk tekstil dan aparel Indonesia, melalui mekanisme Tariff Rate Quota atau TRQ.
“Ini tentu memberikan manfaat bagi 4 juta pekerja dan kalau kita hitung dengan keluarga ini sangat berdampak positif bagi 20 juta penduduk Indonesia” tambah Airlangga.
Sebagai bagian dari kesepakatan timbal balik, Indonesia juga berkomitmen memberikan fasilitas tarif nol persen bagi sejumlah produk utama asal AS, khususnya komoditas pertanian seperti gandum dan kedelai.
Menurut Airlangga, langkah ini memastikan masyarakat tidak terbebani biaya tambahan untuk produk berbahan baku impor .
Masyarakat indonesia, kata Erlangga, membayar nol persen untuk barang yang diproduksi dari soya bean ataupun wheat seperti noodle ataupun tahu dan tempe.
“Jadi masyarakat kita tidak dikenakan beban tambahan biaya untuk bahan baku yang kita impor dari Amerika Serikat,” jelasnya.
Bebas BM Transaksi Elektronik
Di tingkat multilateral, kedua negara juga sepakat untuk tidak mengenakan bea masuk atas transaksi elektronik sesuai posisi dalam forum World Trade Organization (WTO).
RI turut mendorong pengaturan transfer data lintas batas secara terbatas sesuai peraturan perundang-undangan nasional, serta memastikan adanya perlindungan data konsumen yang setara.
Lebih lanjut, Menko Airlangga mengatakan, pemerintah juga akan menerapkan strategic trade management guna menjaga agar perdagangan tetap aman dan tidak disalahgunakan untuk kepentingan di luar tujuan perdamaian.
“Tujuan perjanjian juga untuk mencapai Indonesia emas, sehingga perjanjian ini juga disebut sebagai new golden age bagi RI maupun AS, “ ujarnya.
Perjanjian ini, menurut Airlangga, berbeda dengan berbagai perjanjian AS dengan negara lain karena secara tegas difokuskan pada kerja sama perdagangan.
“AS sepakat untuk mencabut pasal-pasal non kerja sama ekonomi, a.l. terkait pengembangan reaktor nuklir, kebijakan Laut Cina Selatan, serta pertahanan dan keamanan perbatasan, sehingga murni ART terkait dengan perdagangan,” jelasnya.
Bentuk Council of Trade
Airlangga pada bagian lain menjelaskan, perjanjian juga mencakup pembentukan Council of Trade And Investment (CTI) sebagai forum ekonomi kedua negara.
Hal ini membuktikan, Indonesia dan Amerika Serikat sepakat untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Dan ini hasil daripada Agreement of Reciprocal Trade, sehingga seluruh persoalan investasi dan persoalan perdagangan antara Indonesia dan AS nanti akan dibahas dulu di dalam CTI apabila terjadi kenaikan terlalu tinggi atau ada hal yang dianggap bisa mengganggu neraca perdagangan kedua negara,” kata Airlangga.
Menurut Airlangga, perjanjian ini memiliki visi untuk mewujudkan kemakmuran ekonomi bersama, memperkuat rantai pasok, serta menjunjung tinggi kedaulatan masing-masing negara.
“Jadi saya garis bawahi: menghormati kedaulatan masing-masing negara menjadi bagian perjanjian yang ditandatangani,” tandasnya.
Sejumlah peluang peningkatan ekspor terbuka melalui kesepakatan yang dicapai antara AS dan RI terkait perjanjian reciprocal tarif (ART), tinggal mampu atau tidak para pelaku usaha untuk memanfaatnya seoptimal mungkin.
Namun di balik kisah sukses negosiasi ART antara AS dan RI, sejumlah pihak di tanah air berharap agar hal itu tidak mengubah sikap pemerintah atas dukungannya bagi rakyat Palestina terkait dengan kesertaan RI di BOP yang diinisiasi Trump. (kompas.com/ns)




