
PESAWAT tempur multi peran bersayap delta dan kanard (siripĀ samping depan) buatan konsorsium Eropa bekas pakai AU Austria agaknya bisa menjadi salah satu pilihan untuk memperkuat skadron TNI-AU.
Hal itu terungkap dari surat penawaran yang dilayangkan oleh Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto kepada Menteri Pertahanan Austria, Klaudia Tanner yang dikutip harian Kronen Zeitung, Austria akhir pekan lalu (18/7).
Typhoon yang termasuk pesawat tempur generasi keempat (serba computerized, fly by wire)Ā diproduksi oleh perusahaan konsorsium Eropa yakni Jerman, Inggeris, Italia, Spanyol dan Perancis (kemudian mengundurkan diri), terbang perdana pada Maret 1994.
Sejauh ini, 570 unit Typhoon sudah diproduksi, sedangkan pengguna terbanyak adalah Inggeris (232 unit), disusul Jerman (180), Italia (121), dan Spanyol (87), selebihnya Austria, Kuwait dan Qatar.
Dalam surat tertanggal 10 Juli yang ditandatangani oleh Prabowo itu, disebutkan minat RI untuk membeli 15 unit Typhoon yang digunakan oleh AU Austria sejak 2002.
Menurut catatan, sebuah Typhoon yang dibandrol sekitar 105,7 juta dollar AS (sekitar Rp1,3 triliun) relatif mahal dibandingkan pesaing-pesaingnya seperti Sukhoi SU-30 (37,5 juta dollar atau Rp525 milyar), Mirage 2000 buatan Perancis (30,6 juta dollar atau Rp428,4 milyar)Ā dan F-16 C/D (29,1 juta dollar AS atau Rp 407,4 milyar dollar) buatan AS.
Sejauh ini, menurut informasi yang diperoleh Kompas, TNI-AU sudah diminta oleh Kemenhan untuk melakukan pengkajian termasukĀ biaya operasional pesawat tersebut yang konon cukup mahal (sekitar Rp1,3 milyar per jam).
Opsi pembelian Typhoon oleh TNI-AU dilakukan guna memenuhi kebutuhan pokok minimum (minimum essential force) alutsista TNI-AU yang pada 2019 baru mencapai 40 persen untuk menggantikan Skadron F-5E Tiger buatan AS yang sudah dipensiunkan beberapa tahun lalu.
Namun mengacu pada UU No. 16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan, a.l. disebutkan klausul transfer teknologi, imbal dagang dan program offset dalam setiap pembelian alutsista yang mustahil bisa dipenuhi jika membeli pesawat seken.
Walau pun tidak membantah tentang surat yang dikirim oleh Prabowo,Ā baik Kepala Biro Humas Kementerian Pertahanan Djoko Purwanto mau pun jubir Prabowo, Dahnil Simanjuntak, menolak mengomentarinya.
Belum diperoleh nilai transaksi pengadaan 15 pesawat Typhoon yang mampu melesat sampai kecepatan Mach-2, menggembol rudal udara ke udara AIM120 AMRAAM dan AIM 132 ASRAAM, rudal udara ke permukaan Maverick, AGM88-HARM, rudal anti kapal Marte ER dan bom-bom yang dipandu laser.
Bagi TNI-AU banyak pilihan untuk belanja pesawat tempur yang lebih muda yakni dari generasi kelima yang berkemampuan siluman seperti Ā Sukhoi SU-35 Flanker (Rusia) atau F-35 Super Lightning II buatan AS.
Banyak pilihan, yang penting selain teruji keandalannya, bisa dinego pembayarannya, sesuai kocek harganya, murah biaya pengoperasiannya serta dipenuhi persyaratan alih teknologinya.



