PEKANBARU—Warga kota Pekanbaru masih belum terbebas dari asap. Bahkan, hari ini, Selasa (6/10) kondisi asap di Pekanbaru lebih parah dari biasanya.
Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru merilisi kabut asap akibat kebakaran lahan dan hutan yang menyelimuti sejumlah wilayah di Riau terus memburuk yang mengakibatkan jarak pandang berkisar 50 meter.
Wakil Walikota Pekanbaru, Ayat Cahyadi mengibaratkan, “orang lain yang makan nangka, kita yang kena getahnya” dalam melihat kondisi warga kota Pekanbaru. Pasalnya, tidak ada warga kota Pekanbaru yang terlibat dalam pembakaran hutan dan lahan, tapi mereka juga ikut merasakan pekatnya asap.
“Masyarakat Pekanbaru hanya menjadi korban paparan asap, padahal sumber asap tidak ada di Pekanbaru,” ujarnya saat dihubungi KBK, Selasa (6/10/2015).
Dampaknya, banyak aktivitas warga yang terganggu, mulai dari kegiatan ekonoi, hingga anak-anak sekolah yang tak bisa belajar dengan nyaman karena sekolah mereka dikepung asap. Bahkan, banyak warga Pekanbaru yang terkena penyakit, utamanya pernapasan tersebab asap ini.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, drg. Helda Suryani Munir mengatakan, saat ini ada 10.932 warganya yang sakit karena paparan asap. Rinciannya, 9.636 ISPA, 287 Asma, 109 Pnemonia,202 iritasi mata, 367 iritasi kulit, dan 331 diare “Itu data dari 20 puskesmas yang ada di kota Pekanbaru,” katanya kepada KBK.
Diakui Helda, kabut asap yang melanda tahun ini lebih parah dibanding tahun-tahun sebelumnya. “ini lebih parah dan lebih lama,” katanya.
Ia menambahkan, hampir semua warga terkena dampak. Namun yang paling memprihatinkan adalah warga kelas bawah yang rumahnya tidak memiliki fasilitas pendingin udara (AC), sehingga rumah mereka penuh dengan asap.
Ia berharap, pemerintah, baik usat maupun provinsi bisa segera menyelesaikan masalah ini dengan komprehensif. “Kasihan masyarakat yang tidak tahu apa-apa, tapi mereka juga harus merasakan dampaknya,” tukas Helda.
Berdasarkan data pagi ini, kabut asap di sejumlah wilayah lain di Provinsi Riau juga tak jauh beda. Jarak pandang di Pelalawan hanya berkisar 50 meter, sementara di Pekanbaru dan Kota Rengat Kabupaten Indragiri Hulu berkisar 100 meter, serta Kota Dumai berkisar 200 meter.
“Ini merupakan kabut asap terburuk dan terlama sepanjang sejarah Riau,” kata Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru Sugarin di Pekanbaru, seperti dikutip Antara.
Kabut asap pekat tersebut turut terpantau di wilayah Pulau Bengkalis yang berada di Selat Malaka dan wilayah Kabupaten Siak. Berdasarkan data BMKG, hanya terpantau satu titik api di Riau yakni di Kabupaten Indragiri Hilir.
Sementara kabut asap pekat ini disinyalir merupakan kiriman dari Provinsi Sumatera Selatan mengingat pada Selasa ini terpantau 360 titik panas dari total 384 titik yang terdeteksi di Sumatera.
Titik panas lainnya turut terpantau di Jambi dengan 10 titik, Lampung 5 titik, Sumatera Barat 6 titik, Bangka Belitung 2 titik.
Sugarin menjelaskan bahwa kabut asap yang menyelimuti wilayah Riau telah terjadi selama tiga bulan lamanya. “Sempat hilang beberapa hari namun terus kembali lagi.”





