kbknews.id, Jakarta – Mentari terik menyengat bumi di siang hari, tak terasa keringat mengucur dari dahi Nurjanah. Hingga tak terasa sudah tiga jam ia berada di perempatan lampu merah Margonda, Depok. Tak seperti biasanya hasil dagangan Nurjanah sudah tak memenuhi harapan dua minggu ini.
Lantaran jalanan sepi dan tisu yang ia jajakan pun juga sepi pembeli. Padahal beliau harus memenuhi kebutuhan hidup ia dan 7 anaknya.
Lain halnya dengan Nurjanah. Jamilah (78), seorang nenek yang kesehariannya berdagang sayur di Pondok Pinang, Jakarta Selatan, kini tak lagi bisa berdagang. Anjuran Pemerintah soal membatasi aktifitas diluar rumah dan massifnya pemberitaan seputar virus pandemik berbahaya membuat keluarganya takut. Mengingat usia Jamilah sudah tak lagi muda.
“Udah mak jangan jualan dulu, ngeri mak kan udah tua. Diem di rumah dulu,” ujar Jamilah menirukan perkataan sang anak.
Polemik mengenai pembatasan aktiftas diluar rumah memang memiliki dampak positif dan negatif di masyarakat.
Dampak positif menyebabkan penyebaran virus tak lagi melebar dan meracuni manusia satu dengan yang lain.
Sedangkan dampak negatif tentu saja yang paling terasa adalah dampak ekonomi bagi rakyat kecil yang menggantungkan hidupnya dari penghasilan harian. Bisa dikatakan mereka yang paling banyak terpukul adalah pelaku usaha sektor riil dan usaha kecil, seperti Nurjanah dan Jamilah.
Melihat fenomena dampak pelemahan ekonomi pada masyarakat kelas bawah, Dompet Dhuafa membuat aksi bantuan paket sembako bagi kelompok rentan dan terdampak. Tujuannya tak lain adalah memberikan bantuan kebutuhan pokok bagi mereka yang berhenti berdagang ataupun mereka yang terkena dampak langsung dari pembatasan aktifitas warga diluar rumah.
“Kami berharap dengan bantuan ini yang berhenti berdagang, para difabel, yang terkena PHK, bisa mengurangi beban hidup mereka dan kebutuhan pangan keluarga mereka tetap terpenuhi,” ujar Feby saat memberikan bantuan untuk Jamilah.




