LAZIMNYA orang memasang gambar wayang idola pada dinding rumahnya, macam Gatutkaca atau Kyai Semar. Tapi, ini justru wayang mengidolakan tokoh manusia. Lihat saja Prabu Dewaculika dari negeri Sabrangpengawuran, di istananya nan megah dia memasang foto besar eks Ketua DPR Indonesia: Setya Novanto. Dia menilai berhasil merancang proyek kartu identias penduduk tercanggih se Asia, sehingga sejumlah wakil rakyat bisa semakin nyenyak tidur di sidang paripurna karena ikut kecipratan rejeki.
Bahkan DPR periode sebelumnya pernah merencanakan gedung dewan berlapis kaca, tapi gagal dibangun karena terjadi pro kontra pendanaannya. Berkat ide dari negeri seberang itulah, Prabu Dewaculika berkehendak membangun gedung Panggung Sangga Dewanto yang mencakar langit. Bila panggung Sanggabuwana di Keraton Surakarta hanya terdiri rempat lantai, panggung Sangga Dewanto bakal dibangun 36 lantai. Di sini kelak semua kegiatan para begawan di-pol. Begawan macam Durna, Abiyasa, Sempani, Gotama, Suwandagni, masing-masing memperoleh ruang semedi 120 m2, full AC, full kolam renang. Dengan demikian, para begawan tak perlu lagi mandi di mbelik atau pancuran. Di setiap ruangan juga disediakan CCTV, sehingga begawan yang nonton video porno di kala semedi langsung ketahuan.
“Interupsi, pimpinan. Pola kerja baginda raja kok macam Orde Baru saja, semuanya dikendalikan dari pusat,” ujar Patih Dewasengsara dalam sidang terbatas.
“Lho…, biar sentralistik, tapi kan antik. Tahu nggak, proyek ini juga sangat sarat nilai moralitas dan komoditas,” terang Prabu Dewaculika.
Raja negeri Sabrangpengawuran itu pun menjelaskan panjang lebar. Moralitas: para begawan bisa lebih berkosentrasi dalam bermeditasi, sehingga ide-idenya sangat bermaslahat bagi bangsa wayang. Komoditas: sisi luar Panggung Sanggadewan bisa disewakan pada operator telepon selular untuk pasang BTS (base transceiver station). Bila Telkomsel, Pro-XL atau Indosat berani bayar Rp 150 juta setahun, berapa keuntungan yang bisa diraup negeri Sabrangpengawuran?
Patih Dewasengsara telah mengajukan proposal sebagai pimpro. Tapi, karena dikhawatirkan malah mbathi (cari untung), Prabu Dewaculika lebih percaya pada Pendita Durna dari Sokalima. Biar wayangnya tuaan sedikit, kejujuran sang begawan tak diragukan lagi karena sudah dikenal sebagai bapak bangsa. Bila sekadar terima gratifikasi barang Rp10 juta Rp20 juta, biasalah itu.
“Nanti saya boleh dong ambil Raisa dan Luna Maya sebagai sekretaris?” kata Begawan Durna melemparkan usul khusus tapi menjurus.
“Boleh, boleh. Sepanjang itu bisa meningkatkan gairah kerja Begawan Durna, why not?” jawab Prabu Dewaculika sangat melegakan.
Proyek Panggung Sangga Dewanto mulai disosialisasikan lewat TV dan internet. Tapi, ternyata banyak negeri yang tidak setuju karena Ngamarta dan Ngastina, misalnya, harus setor masing-masing Rp150 miliar. Lembaga Swadaya Wayang (LSW) di mana-mana juga mengkritisi lewat seminar maupun demo di jalan-jalan. Celakanya, Begawan Durna lebih ngotot. Bila Prabu Dewaculika siap menunda jika banyak penolakan, Durna omongannya justru macam kontraktor saja.
“Enak saja dibatalkan. Biaya konsultasi kontruksi Rp18 miliar, siapa yang tanggung jawab?” ujarnya sengit di depan pers.
“Tapi, rakyat kan tidak setuju, Mbah?”
“Ah, ini urusan para elite wayang. Rakyat tak akan nyambung. Mereka asal dikasih slepen penuh tembakau, tenanglah sudah.”
Singkat cerita, dalam tempo setahun anggaran proyek Panggung Sangga Dewanto telah selesai dibangun. Namun, celaka tiga belas, baru saja diserahkan oleh pemborong kepada Prabu Dewaculika, mendadak bangunan itu miring, sementara pasangan ubin keramik coplok di sana sini. Maklum, keramiknya jenis KW-2 beli iketan di Cikuda, dekat Cileungsi sana.
Lalu Prabu Dewaculika pun bersemedi, mohon petunjuk dewa batara di Jonggringsalaka, bagaimana caranya agar proyek bergengsi itu bebas kendala. Ternyata petunjuk dari kahyangan itu justru membalikkan logika umum, sehingga terkesan dewa-dewa Jonggringsalaka kebanyakan micin.
“Caranya mudah. Panggung Sanggadewan cukup ditumbali dengan bekakak kepala Pendita Durna,” ujar Betara Guru dari kahyangan.
“Lho, beliau kan pimpinan proyek itu, Pukulun.”
“Justru itu, dia paling cocok untuk bekakak saja. Kalian nggak tahu ya, Durna sudah mengambil komisi 10 persen dari nilai proyek Rp1,2 triliun itu.”
Pemimpin tertinggi Sabrangpengawuran terkaget-kaget. Meskipun berat, Prabu Dewaculika mengatakan apa adanya. Mendadak Pendita Durna stres dibuatnya, merasa bahwa proyek ini telah dipolitisasi. Kalau benar-benar pakai tumbal, kan bisa pakai para kuli bangunanan bagian ngaduk semen atau yang pasang batu bata.
Pada gagal paham rupanya para dewa di kahyangan. Bagaimana mungkin kepala seorang pimpro Panggung Sangga Dewanto justru dijadikan tumbal? Durna tanpa kepala, lalu bagaimana jika harus pakai helm ketika naik motor? Padahal, jelek-jelek begini isi kepala Durna bisa dimanfaatkan hingga 2019 mendatang.
Durna ingin menganulir keputusan dewa, tapi dia minim koneksi di kahyangan Jonggringsalaka. Untung saja lalu ingat pada mantan muridnya, Harjuna, yang nyaris menjadikan seluruh dewa jadi mertuanya. Dewi Supraba, Dewi Irim-irim, Dewi Gagar Mayang; semua adalah bidadari istri Harjuna. Hanya Dewi Persik saja yang belum.
“Nak Harjuna, mohon kamu bisa mengandemen keputusan dewa. Usahakanlah bekakak kepalaku bisa diganti kepala kerbau saja,” mohon Pendita Durna serius.
“Tapi saya nggak janji, lho ini.”
Tak diketahui pasti, apakah Harjuna benar-benar menyampaikan misi Begawan Durna tersebut ke kahyangan. Yang jelas, tak lama kemudian terjadilah tsunami besar di negeri Sabrangpengawuran. Panggung Sangga Dewanto lenyap ditelan bah, termasuk Prabu Dewaculika dan Patih Dewasengsara. Begawan Durna selamat, tapi terlempar hingga Ngatasangin negeri asalnya.
“Hore, aku slamet, slamet. Malah bisa pulang kampung gratis, he-he-he…!” ujar Durna sambil berjoged kegirangan, lupa umurnya sudah kepala tujuh. (Ki Guna Watoncarita)



