PASCA perang Baratayuda, negeri Ngastina dipimpin oleh Prabu Parikesit, anak Angkawiyaya dari perkawinannya dengan Dewi Utari. Dia meneruskan jabatan Prabu Duryudana yang terbunuh dalam perang Baratayuda. Adapun negeri Ngamarta dikosongkan, bahkan kemudian istana Indraprastha diratakan untuk pabrik minyak kelapa sawit. Ekonomipun mulai bergerak kembali.
Prabu Parikesit yang juga bergelar Prabu Kresnadipayana, ternyata tak sekedar mewarisi negara, tapi juga kelakuan si kakek, Harjuna, yakni tukang kawin melulu. Setiap keluar istana, pulang-pulang dapat istri baru. Katanya berburu babi hutan, tapi yang diperoleh justru perempuan-perempuan cantik dari daerah yang disinggahi.
“Katanya Prabu Parikesit hendak grogol lagi. Apa benar begitu, musim Corona begini malah berburu ramai-ramai, ini kan memancing banyak kerumunan masa.” Keluh punakawan Gareng.
“Kenapa harus pula lewat Grogol, mau naik biskota?” tanya Bagong kebloon-bloonan.
“Grogol itu artinya berburu, bukan terminal bis Grogol. Dasar kurang piknik kamu ya Gong?”
Bagong tertawa tersipu-sipu, menyadari kekurangannya baca koran dan internet. Namun demikian dia kini gantian terheran-heran, kenapa Prabu Parikesit memaksakan diri banget harus berburu di bulan Desember. Apa sekedar untuk menghabiskan sisa anggaran APBN 2020, sehingga duit negara tak terjadi Silpa (sisa lebih penggunaan anggaran)?
Untuk menggelar perburuan, patih Danurwenda diperintahkan membangun pesanggrahan di tengah hutan. Pembangunan villa itu sebetulnya dengan dana Rp 1.250 juta cukup, tapi sengaja dimark up jadi Rp 2 milyar. Lumayan Rp 750 juta masuk kantong. Dia rupanya tidak takut dengan nasib Mentri KKP dan Mensos Indonesia yang baru saja dikandangi KPK. Prinsip Patih Danurwenda, di Ngastina pasca Baratayuda tak ada lagi KPK, dan Ngastina kan bukan Indonesia.
“Kakang patih Danurwenda, kapan pesanggrahan “Mara Seneng” bisa dipakai? Libur panjang Natal & Tahun Baru 2021 sudah di depan mata.” Prabu Parikesit minta laporan patih Danurwenda.
“Dua minggu lagi siap Boss, kini baru finishing. Pasang rumput dan wifi kini sedang dikerjakan.” Jawab patih Danurwenda sambil menghatur sembah.
“He, di hutan kita berburu hewan, bukan nonton Youtube tahu!” sergah Prabu Parikesit.
Tapi begitulah, jaringan wifi tetap dipasang. Sebab patih Danurwenda tahu, prajurit pengawal raja akan menjadi jenuh jika tanpa hiburan. Maka di luar tugas pengawalan raja, mereka bisa istirahat main medsos. Komentar ini itu, tak peduli resikonya masuk penjara jika bikin postingan SARA dan mengandung ujaran kebencian.
Padahal rekan mereka pernah disel dan kemudian dipecat, karena tanpa sengaja mengucapkan selamat datang pada Begawan Dewa Nglengkara yang baru pulang dari negeri Ngatasangin. Dan setelah diancam pecat oleh Patih Danurwenda sepertinya kini para paskukan pengawal Prabu Parikesit sudah lurus-lurus tak berpikiran macam-macam.
“Kalian adalah pasukan pengawal raja, tak boleh mendukung pihak lain yang memusuhi raja. Camkan itu..!”
“Siap Boss, siaaaap!” jawab pasukan kompak, tapi di barisan belakang ada yang menjawab seperti lagaknya penyandang LGBT.
Demikianlah, seperti dijanjikan patih Danurwenda, 2 minggu kemudian pesanggrahan “Mara Seneng” siap dipakai. Prabu Kresnadipayana beserta para pengawal berangkat ke alas Krendawahana untuk mesanggrah (istirahat) barang beberapa hari sebelum hari perburuan dimulai. Semua peralatan dan logistik telah disiapkan dengan sempurna.
Tapi rupanya di malam hari Prabu Kresnadipayana tak bisa tidur, sehingga diam-diam dia berangkat sendirian menyelusuri hutan nan gelap itu. Prabu Parikesit terus berjalan dan tanpa terasa telah sampai ke Gunung Lodra tempat bertapanya seorang begawan yang gentur ing tapa (khusyuk sekali). Dia berdiri tegak sambil bersidakep seperti orang salat, tapi tanpa menghadap kiblat. Ditanya berulang kali tak juga menjawab, seperti orang bisu.
“Sombong kali kau, ditanya diam saja. Apa kau sudah dapat uang diam?” sergah Prabu Kresnadipayana.
“Enak saja, memangnya gua oknum pejabat Kemensos?” jawab sang begawan, yang rupanya sangat sensitip atas tuduhan korupsi.
Prabu Parikesit yang sudah kadung emosi, segera menghajar petapa misterius itu. Tapi baru 10 kali tempeleng, tiba-tiba begawan berjubah itu berubah wujud menjadi seorang dewa dari kahyangan Jonggring Salaka. Dia langsung memperkenalkan nama.
“Nama saya Sanghyang Basuki NIP 30303030….”, kata Sanghyang Basuki.
“Apa kakeknya Ahok Basuki Komut Pertamina?” Prabu Parikesit bertanya.
Sanghyang Basuki tentu saja membantah sambil klarifikasi. Kemudian atas penugasan Betara Guru, Prabu Parikesit diberi wajangan kilat tentang kejujuran. Raja harus jujur, tidak boleh menipu rakyatnya. Jika ada bansos seharga Rp 300.000,- untuk rakyat, ya utuh Rp 300.000,- sampai di tangan rakyat, jangan ditilep meski hanya Rp 10.000,- kali…… ”
Habis diwejang Parikesit diberi nama baru Prabu Yudiswara. Sanghyang Basuki kembali ke kahyangan, Prabu Kresnadipayana melanjutkan perjalanan di malam buta. Kembali dia menemukan seseorang naik sapi tengah malam. Tapi sapi itu dibiarkan nedak atau makan tetumbuhan milik para petani. Marahlah Prabu Parikesit. Tanpa ba bi bu lagi penggembala itu ditimpuknya pakai batu segede endhas maling (kepala pencuri). Tepat kena kepala, penggembala itu ambruk tapi kemudian menjelma jadi Sanghyang Betara Gana yang hidungya mirip belalai gajah.
“Apa pukulun pemilik saham pabrik ban Gajah Tunggal?” Prabu Parikesit bertanya dengan takzim.
“Ya bukanlah. Mana ada dewa golongan II-a bisa main saham?”
Betara Gana kemudian juga atas perintah dewa, diminta menyampaikan ilmu tentang kesabaran kepada Prabu Parikesit. Intinya jadi raja jangan mudah emosi. Jika dihina rakyatnya yang kurang ajar, lebih baik diam sebagaimana ajaran agama. Jika terpaksa bicara, berkomentarlah pendek: aku rapapa!”
Menjelang subuh Prabu Parikesit bertemu seseorang yang dikejar ular besar. Dipanahlah ular itu sampai kemudian menjelma sebagai Betara Sambu, sedangkan orang yang ditolongnya entah pergi ke mana. Tak pamitan tidak pula mengucapkan terima kasih.
“Kamu ulun beri nama tambahan Prabu Darmasarana.” Ujar Betara Sambu.
“Kok seperti nama bis malam dari Temanggung, pukulun?” Prabu Parikesit protes.
“Itu kan Safari Dharma Raya.”
Prabu Parikesit kemudian diwejang tentang keberanian. Asal benar dan membela kebenaran harus berani. Tapi jangan pula hanya berani dan maju tak gentar lantaran membela yang bayar. Itu sih oknum alpukat. (Ki Guna Watoncarita)



