
JIKA “digathuk-gathukke” atau dipaspaskan, situasi yang terjadi di Indonesia saat ini mirip-mirip dengan Zaman Kalabendu yang pernah diramalkan Prabu Jayabaya dan pujangga besar Jawa R. Ngabehi Ranggawarsita.
Zaman Kalabendu dimaknai sebagai era penuh kegelapan dan kekacauan . Fitnah dan hoaks menyebar dimana-mana, keluarga terpecah belah, kehidupan susah, KKN merajalela dan para pemimpin kehilangan wibawa.
Prabu Jayabaya menyebut ciri zaman Kalabendu a.l. kehidupan yang sulit, semua serba mahal, banyak pengkhianat, orang yang bicara ngawur berkuasa, cuma bermodalkan suara lantang, orang jahat bisa berkuasa, rakyat kecil kian terpinggirkan dan para pemimpin mengangkat kawan-kawan sendiri.
Sementara dalam Serat Centini, Ranggawarsita menyebut Zaman Kalabendu sebagai masa dimana para pemimpinnya jahil. Kalau berbicaranya ngawur, tidak bisa dipercaya.
Banyak konflik yang melibatkan para penjahat, kejahatan pun makin menjadi-jadi dan para pencuri malang-melintang. Alam pun rusak, sehingga memicu bencana, gunung meletus, banjir atau longsor.
Terjadi prahara besar dan salah musim, banyak terjadi kerusuhan, tidak ada rasa ketenteraman dan negara kehilangan wibawa , semua tata tertib, keamanan, dan aturan telah ditinggalkan.
Para penjahat dan sebagian pemimpin tidak sadar apa yang diperbuatnya, bahkan cuma menimbulkan masalah dan kesulitan, semua berjalan seperti tak terjadi apa-apa.
Tidak semua yang disebut oleh Jayabaya dan Ranggwarsita terjadi saat ini, tetapi paling tidak, sebagian ada benarnya juga.
Perilaku buruk dipertontonkan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo yang tertangkap OTT KPK, karena diduga terlibat penyalahgunaan wewenang untuk memperkaya diri dan kelompoknya.
Edhy yang diamanatkan negara menjaga kelestarian biota laut, dengan mudah mencabut peraruran menteri sebelumnya, Susi Pudjiastuti, membuka kembali ekspor benih lobster dan mengangkat rekan-rekan separtai dan kelompoknya jadi eskportir dadakan.
Banyak kejanggalan yang dilakukannya, termasuk penunjukan hanya satu perusahaan kargo untuk mengekspor benur dan pengirimannya ke LN hanya dari satu pintu keluar yakni Bandara Soekarno-Hatta, padahal peraturan menyebutkan, bisa dilakukan di enam bandara yang dekat sentra penangkapan atau budidaya benur.
Yang lebih tak bermoral lagi, bagaimana bersama sang isteri, belanja barang-barang mewah seperti jam Rolex, koper Tumi dan sepeda Specialized S-Works yang seluruhnya bernilai Rp750 juta, uang dari pemberian (rasuah) rekanan.
Berfikirkah dia, jutaan orang sedang bergulat bertahan hidup, hutang kesana-kemari akibat terkena PHK atau kegiatan usahanya lesu, bahkan gulung tikar akibat pandemi Covid-19.
Baru saja media diviralkan isu penangkapan Edhy (25/10), menyusul berita dicokoknya Menteri Sosial Yuliari P Batubara oleh KPK (Minggu, 6/12) dan tak tanggung tanggung, yang ditilapnya adalah paket bansos yang sedianya digunakan untuk membantu warga yang terkena dampak Covid-19.
Juliari diduga menerima rasuah Rp17 Milyar dari Rp21 dari vendor pengadaan barang dan jasa bansos, sisanya untuk pejabat di bawahnya. Bisa dibayangkan, vendor tentunya tidak mau rugi, dengan mengganti barang yang lebih rendah mutunya atau mengurangi jumlahnya.
Di panggung politik, hingar bingar terus terjadi sejak kepulangan Ulama Besar FPI Habieb Rizieq Shihab dari Tanah Suci (10/11) yang membuat pemerintah terkesan gamang atas aksi-aksi provokasi dan caci-maki dia yang didukung puluhan ribu pengikutnya.
Tentu tidak hanya HRS dan pengikutnya yang membuat gamang pemerintah, tetapi barisan sakit hati, petualang politik dan unsur Orba dan juga sejumlah politisi tertentu yang dikenal nyinyir menyerang pemerintah berada di belakangnya.
Nyali aparat keamanan diuji, saat dua kali pemanggilan oleh polisi, HRS mangkir, dan Senin ini (7/12) dijadwalkan akan dipanggil paksa jika menolak hadir, bahkan terang-teranga ia mengancam akan menduduki istana jika “kriminalisasi” terhadap dirinya tidak dihentikan.
Sejumlah peristiwa yang diramalkan Jayabaya dan Ranggawarsita agaknya benar-benar terjadi di negeri ini kini.




