Pasca kematian Yahya Sinwar

Pimpinan Hamas Yahya Sinwar yang dituduh Israel mengarsiteki serangan yang memicu Perang di Gaza pada 7 Okt. tahun lalu dan masih terus berlangsung sampai hari ini dikonfirmasi oleh pihak Israel dan Hamas tewas (17/10).

SELAIN  membombardir Gaza dan Lebanon dari darat dan udara untuk menumpas milisi Hamas, Palestina  dan Hizbullah dukungan Iran, Israel juga terus memburu pimpinan kedua kelompok itu.

Pemimpin Hamas Yahya Sinwar, sosok paling dicari oleh Israel yang dianggap dalang serangan kelompok tersebut yang menewaskan 1.200-an penduduk sipil dan tentara negara Yahudi itu (IDF) dan membawa 240-an sandera dinyatakan tewas.

Menlu Israel, Israel Katz, mengkonfirmasi laporan tentang kematian Sinwar, Kamis (17/10) dalam sebuah pesan yang dikirim ke mitra-mitra negara Yahudi itu  ke seluruh dunia.

Dilansir Guardian, PM Israel Benjamin Netanyahu dengan nada tinggi, mengeluarkan pernyataan yang disiarkan di televisi setempat.

“Hari ini kita telah menuntaskan masalah”, ujarnya menyebut  kematian Sinwar sebagai “awal dari akhir” seraya menambahkan, “semua pihak yang mencoba menyakiti rakyat, itu lah yang terjadi atas mereka.

“Kekuatan kebaikan selalu dapat mengalahkan kekuatan kejahatan dan kegelapan. Perang masih berlangsung, dan itu mahal, ” ujarnya.

Sejauh ini tidak diketahui nasib dari sebagian sandera yang masih ada di tangan Hamas, dari seluruhnya 240 orang, sebagian sudah dibebaskan saat gencatan senjata singkat beberapa bulan lalu, sebagian diduga tewas di lorong-lorong bawah tanah di wilayah Gaza dan sebagian lagi di diperkirakan masih hidup.

Sebelumnya, IDF melaporkan, mereka sedang memeriksa apakah Sinwar adalah salah satu dari tiga anggota Hamas yang terbunuh dalam sebuah patroli, namun identitasnya belum dikonfirmasi.

Konfirmasi, dilaporkan dilakukan di Tel Sultan, kota paling selatan di Gaza, Rafah, Rabu (16/10) di mana sejumlah mayat ditemukan oleh satuan IDF dan dibawa ke Israel untuk menjalani tes DNA dan rekam gigi.

Kebetulan

Radio Kan Israel melaporkan, Sinwar terbunuh secara kebetulan, dan bukan dari hasil pengumpulan informasi intelijen dan juga mengungkapkan, mayat-mayat tersebut ditemukan dengan uang tunai dan kartu identitas palsu.

Yahya Sinwar tewas dalam serangan tank Israel di Gaza Selatan,  Rabu (17/10) waktu setempat dan menurut situs berita Israel N12, ia tampaknya tak sengaja tertembak dalam suatu pertempuran.

N12 menyebutkan, tentara Israel saat itu sedang melacak sekelompok anggota Hamas di sebuah gedung, lalu tentara Israel menyerang mereka dengan tembakan dari sebuah tank.

Peluru yang dilesakkan tank menyebabkan gedung tersebut runtuh dan saat dilakukan pemeriksaan, tentara Israel menemukan tiga anggota Hamas tewas, salah satu rupanya mirip Yahya Sinwar.

Untuk memastikan korban serangan adalah Yahya Sinwar, tentara Israel kemudian melakukan tes DNA. Israel memiliki rekaman DNA Sinwar lantaran pemimpin Hamas itu pernah mendekam di penjara Israel.

Setelah melakukan tes DNA dan rekam medis lain, militer Israel antara Kamis (17/10) petang atau Jumat (18/10) dini hari WIB, memastikan Sinwar tewas.

Sementara itu, militer Israel melaporkan, Sinwar tewas dalam baku tembak setelah terlacak “bergerak dari rumah ke rumah” dan berusaha keras untuk menghindari deteksi di Gaza selatan.

Israel memuji kematian pemimpin Hamas berusia 61 tahun itu sebagai salah satu pukulan paling penting yang telah diberikan kepada Hamas sejak perang Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023.

Dalam sebuah pernyataan selanjutnya, Jubir Militer Israel, Laksamana Muda Daniel Hagari mengatakan,  Sinwar terbunuh setelah terlihat bersama dua anggota Hamas lainnya di distrik Rafah.

AFP melaporkan, rekaman drone yang dirilis oleh militer menunjukkan Sinwar sendirian di sebuah apartemen yang diledakkan dengan satu tangan terluka parah dan kepala ditutupi syal, melemparkan tongkat ke arah drone yang mendekat pada saat-saat terakhirnya.

“Kami mengidentifikasi dia sebagai ancaman di dalam gedung dan kami menembak ke dalam gedung dan masuk untuk memindai area tersebut. Kami menemukannya dengan sebuah pistol dan 40 ribu shekel. Dia dalam pelarian dan pasukan kami melumpuhkannya,” klaim Hagari.

Israel menuduh Sinwar sebagai dalang serangan 7 Oktober bersama dengan kepala militer Hamas Mohammed Deif yang dilaporkan tewas dalam sebuah serangan awal tahun ini.

Sinwar pada Agustus lalu menggantikan mantan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh yang terbunuh saat menghadiri pelantikan Presiden Iran di Teheran pada 31 Juli.

Selain Hamas yang kehilangan, kematian Haniyeh di apartemen khusus untuk tamu-tamu negara di ibu kota Iran, Teheran yang dijaga ekstra ketat juga mempermalukan Iran karena begitu rapuhnya sistem keamanannya sehingga tidak terlacak sudah dipasangi bom sejak beberapa bulan sebelumnya.

Sementara pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah tewas dalam serangan Israel yang menargetkan markas besar kelompok binaan atau proksi Iran tersebut di di pinggiran selatan Beirut, Lebanon (27/9).

Nasrallah juga pernah dikabarkan terbunuh selama perang antara Israel dan Hizbullah pada 2006 namun usai kabar tersebut tersiar, ia segera muncul ke hadapan publik tanpa cedera apa pun di tubuhnya

Daftar panjang

Kematian Hassan Nasrallah yang telah memimpin Hizbullah selama 32 tahun menambah panjang daftar pemimpin Hizbullah dan Hamas yang tewas dalam serangan Israel.

Hizbullah mengonfirmasi kematian Nasrallah dan berjanji akan terus berjuang melawan Israel, dikutip dari Al Jazeera.

Sementara Ibrahim Qubaisi, seorang komandan sekaligus tokoh terkemuka divisi roket Hizbullah, dikonfirmasi tewas dalam serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut pada 24 September lalu.

Qubaisi yang juga dikenal sebagai “Hajj Abu Musa” ini telah memimpin sejumlah unit rudal dan roket Hizbullah, serta bertanggung jawab dalam serangan pada 2000 silam.

Sedangkan Komandan operasi militer Hizbullah, Ibrahim Aqil yang menggunakan nama samara Tahsin Abdelqader tewas dalam serangan Israel pada 20 Sept lalu.

AS menurut laporan Reuters menuduhnya terlibat dalam dua pengeboman mematikan di Lebanon yang menghantam Kedutaan Besar (Kedubes) AS pada April 1983.

Ahmed Wahabi yang diangkat sebagai komandan tinggi yang mengawasi operasi militer pasukan khusus Radwan dalam perang Gaza hingga awal 2024 terbunuh dalam serangan Israel yang menyaar beberapa komandan tinggi, termasuk Ibrahim Aqil pada 20 Sept.

Sementara serangan Israel di pinggiran selatan ibu kota Lebanon pada Selasa (30/7)  menewaskan komandan utama Hizbullah, Fuad Shukr yang diidentifikasi Israel sebagai tangan kanan Nasrallah, dan juga salah satu tokoh militer penting Hizbullah.

Shukr bergabung dengan Hizbullah sejak didirikan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran lebih dari 40 tahun yang lalu, sementara  AS menuduhnya memainkan peran utama dalam pengeboman barak marinir AS di Beirut pada 1983.

 Muhammad Naser

Salah satu pemimpin senior Hizbullah, Muhammad Naser tewas dalam serangan udara Israel di Tyre, Lebanon, 3 Juli lalu. Israel mengaku bertanggung jawab atas kematian Nasser yang  menuduhnya sebagai dalang di balik penembakan ke Israel.

Nasser, yang dikenal sebagai Haj Abu Nimah juga dilaporkan bertanggung jawab atas sebagian operasi Hizbullah di perbatasan dengan Israel.

Sementara Komandan lapangan senior Hizbullah, Taleb Abdallah meninggal dunia dalam serangan Israel pada 12 juni lalu.

Sumber keamanan di Lebanon mengatakan, ia adalah komandan Hizbullah untuk wilayah tengah, perbatasan Selatan. Kedudukan Abdallah di militer Hizbullah sama pentingnya dengan Nasser.

Kematiannya pun mendorong kelompok Hizbullah  meluncurkan  roket besar-besaran melintasi perbatasan ke wilayah Israel.

Serangan pesawat tak berawak Israel di Dahiyeh, Beirut, Lebanon juga menewaskan Wakil Kepala Hamas Saleh al-Arouri yang menjabat sebagai pendiri sayap militer Hamas, Brigade Qassam.

Kematian Yahya Sinwar diprediksi sejumlah pengamat diharapkan mendorong dibukanya negosiasi dengan pihak Israel, walau pengamat lain juga memperkirakan, Hamas dan Hizbullah akan terus bertempur walau banyak kehilangan pimpinan dan anggotanya akibat bombardemen masif Israel.

Satu per satu petinggi Hamas dan Hizbullah menjadi martir perjuangan rakyat Palestina melawan hegemoni Israel di kawasan Timur Tengah, dan terciptanya kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Palestina agaknya masih jauh dari kenyataan. (berbagai sumber/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here