Pasukan Rusia Tertahan di Luar Kiev

Invasi Rusia ke Ukraina yang dilancarkan sejak 24 Feb. lalu telah, menghancurkan dan menduduki sejumlah kota, namun sampai 19/3 masih belum berhasil menguasai ibu kota, Kiev akibat perlawanan sengit dari tentara Ukraina.

PASUKAN beruang merah Rusia yang menginvasi Ukraina melalui Operasi Militer Khusus yang digelar Presiden Vladimir Putin sejak 24 Februari lalu, sampai hari ini belum berhasil memasuki ibukota, Kiev.

Mesin perang raksasa, terdiri dari sekitar 150.000 pasukan, ratusan tank, artileri, pesat tempurĀ  dan rudal yang menghantam Ukraina dari tiga penjuru, utara, timur dan selatan masih menghadapi perlawanan berat dari Ukraina.

Menurut laporan pihak Barat, tidak kurang 1.080 buah rudal sudah diluncurkan Rusia ke wilayah Ukraina yang mengakibatkan kerusakan berat pada infrastruktur di sejumlah kota seperti Chernihil, Kharkiv, Mariupol, ibu kota Kiev dan lainnya.

Tak hanya menyasar pangkalan udara, situs-situsĀ  dan prasarana militer lainnya, rudal-rudal, peluncur roket multi laras dan artileri berat Rusia juga menghantam apartemen-apartemen sipil sehingga porak poranda.

Bahkan Gedung teater drama di kota Mariupol, hancur terkena hantaman rudal jelajah, sementara nasib sekitar 1.000 orang warga yang berlindung di bangunan tersebut tidak diketahui.

Sementara pasukan Rusia yang sudah mengepug dan hanya belasan Km dari ibu kota, Kiev, masih terhalang perlawanan tentara Ukraina yang agaknya cukup optimal menerapkan taktik perang kota.

Sadar akan kekurangannya, baik dalam jumlah mau pun persenjataan,Ā  untuk melawan kekuatan mesin perang raksasa Rusia, pasukan UKraina cukup efektif menggunakan rudal-rudal anti tank Javelin (AS) dan NLAW (Inggeris-Swedia) untuk menghambat laju tank-tank Rusia.

Di tayangan video, tampak pihak Ukraina meluncurkan rudal ke arah tank Rusia dari balik bangunan tinggi, sehingga terbakar, dan awaknya berusaha keluar menyelamatkan diri.

Pasokan Persenjataan

Walau pun, tidak terjun langsung, AS bersama negara-negara NATO yang mendukung Ukraina, terus mengalirkan persenjataan mereka untuk digunakan mengimbangi Rusia.

AS juga sudah menyiapkan 800 juta dollar ASĀ  lagi (sekitar Rp11 triliun bantuan militer pada Ukrana berupa berbagai persenjataan yang diperlukan.

Tidak hanya AS, Inggeris, Jerman dan negara-negara Eropa Barat lainnya yang menggelontorkan persenjataan mereka pada Ukraina, tetapi juga misalnya Slowakia yang akan mengirimkan sistemĀ  rudal pertahanan udara S-300 buatan eks-Soviet miliknya.

Namun di pihak lain, China yang merupakan pendatang baru negara produsen persenjataan globalĀ  kabarnya juga siap mengirimkan persenjataanya untuk mendukung Rusia.

Rusia sendiri, walau unggul secara militer dalam perang melawan Ukraina, diperkirakan bakal kewalahan menghadapi tekanan dan embargo ekonomi int’l terutama dari negara AS dan Barat.

Energi (migas dan batubara) yang merupakan ekspor utama Rusia ke Uni Eropah terhenti, begitu pula pembekuan sistem pembayaran transaksi perbankan melalui mekanisme komunikasi int’l (SWIFT) yang membuat Rusia terkuncilkan.

Belum bisa dipastikan sampai kapan konflik Ukraina akan berakhir, tergantung ketahanan masing-masing pihak dari sisi kekuatan militer mau pun ketahanan ekonomi.

Sejauh ini tercatat 860 warga sipil tewas, 1.300-an luka-luka, tidak tercatat korban militer kedua belah pihak dan lebih 3,2 juta mengungsi, sebagian besar (1,8 juta) ke Polandia, selebihnya tersebar di Moldova, Slovenia, Rumania, Ceko dan Slavia.

Waktu nantinya akan membuktikan, siapa pemenangnya, Ukraina didukung AS dan negara-negara Barat atau Rusia? (AFP/Reuters/NS)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement