SUDAN SELATAN (KBK) – Komisi HAM PBB menenggarai sedang terjadi pembersihan etnis di Sudan Selatan dengan cara membantai, memblokir pangan supaya kelaparan, pemerkosaan dan perusakan desa.
Perempuan dan anak-anak menjadi target dalam perang saudara di Sudan Selatan.
Pada hari Rabu, 930/11/2016), tiga anggota komisi HAM PBB baru saja menyelesaikan perjalanan selama 10 hari ke Sudan Selatan, mereka mengamati 64 kelompok etnis sampai ke pedalaman.
“Ditemukan proses pembersihan etnis berlangsung di beberapa daerah Sudan Selatan yang menggunakan kelaparan, pemerkosaan dan pembakaran desa-desa,” kata Ketua Komisi Yasmin Sooka dalam konferensi pers.
“Tahap ini adalah kejadian berulang seperti di Rwanda, masyarakat internasional berkewajiban untuk mencegahnya,” tambahnya.
Pembersihan etnis diduga setelah hampir tiga tahun pertempuran antara pasukan pemerintah dan tentara pemberontak tak kunjung usai. Sebuah perpecahan politik antara Presiden Salva Kiir dan mantan wakilnya Riek Machar meningkat menjadi konflik militer sejak Desember tahun 2013.
Konflik itu telah menewaskan puluhan ribu, menyebabkan kelaparan meluas dan memaksa tiga juta orang lari dari rumah mereka. Mereka diadu dengan kelompok Dinka etnis dari Kiir melawan Nuer kelompok etnis dari Machar dan juga melibatkan kelompok lain yang mendukung pemberontak.
“Anda mendapatkan begitu banyak kelompok bersenjata yang berbeda, termasuk militer,” kata Sooka kepada reporter Al Jazeera dalam wawancara terpisah.





