PBB: Situasi di Yaman Seperti ‘Kiamat’

Ilustrasi Serangan di Pasar di Yaman/ AFP

YAMAN – Kepala kemanusiaan PBB mengatakan orang-orang di Yaman yang dilanda perang menghadapi situasi yang “mirip dengan Apocalypse”, dan memperingatkan bahwa negara tersebut dapat menjadi bencana kemanusiaan terburuk dalam setengah abad.

Negara termiskin di dunia Arab telah mengalami hampir tiga tahun perang antara pemberontak Houthi dan pasukan yang didukung Saudi yang setia kepada Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi yang diasingkan.

Konflik ini memiliki dampak yang menghancurkan, menyebabkan kelangkaan pangan dan wabah kolera besar serta membuat jutaan orang membutuhkan bantuan kemanusiaan.

“Situasi di Yaman sekarang, bagi penduduk negara  terlihat seperti kiamat,” kata Mark Lowcock, sekretaris jenderal PBB untuk koordinasi kemanusiaan dan koordinator bantuan darurat PBB, Jumat (6/1/2018).

“Wabah kolera mungkin adalah yang terburuk yang pernah dialami dunia dengan satu juta kasus yang dicurigai sampai akhir 2017.” tambahnya.

Lowcock mengatakan epidemi baru yang mengerikan yakni  difteri, penyakit bakteri yang harus benar-benar dapat dicegah dengan imunisasi, telah menyerang hingga 500 orang dengan puluhan dan puluhan kematian  dalam beberapa minggu terakhir.

“Itu akan menyebar seperti api,” tambahnya.

“Jika situasinya tidak berubah, kita akan mengalami bencana kemanusiaan terburuk di dunia selama 50 tahun”.

Komentar Lowcock muncul saat Dana Darurat PBB (CERF) mengalokasikan $ 50 juta untuk mendukung usaha bantuan kemanusiaan di Yaman, di mana lebih dari delapan juta orang berada di ambang kelaparan.

Jumlah tersebut merupakan alokasi terbesar yang pernah dilakukan oleh CERF dan mencerminkan situasi mengerikan di Yaman, yang telah menjadi salah satu negara termiskin di dunia Arab sebelum dimulainya perang pada tahun 2015.

Lowcock mengatakan bahwa uang tersebut akan membantu mempersiapkan bantuan yang diperlukan untuk tahun depan.

“Fakta bahwa saya harus melakukan itu jelas bukan tindakan yang berhasil, itu adalah tanda betapa putus asa situasinya,” katanya kepada Al Jazeera.

Advertisement