Secercah Asa Damai di Semenanjung Korea

Perang Korea yang pecah pada 1950 sampai 1953 yang menelan jutaan korban tewas semoga tidak terulang kembali.

PENDUDUK di Semenanjung Korea agaknya bisa sejenak menghirup nafas lega setelah pihak-pihak berseteru yakni Amerika Serikat bersama Korea Selatan dan lawan mereka, Korea Utara saling merespons untuk membuka dialog.

Korut menerima tawaran dialog setelah AS dan Korsel bersedia menunda latihan militer gabungan yang sudah direncanakan sebelumnya paling tidak hingga berakhirnya Olimpiade Musim Dingin yang akan digelar di kota PyeoungChang, Korsel, Februari depan.

Menteri Pertahanan AS Jim Mattis setuju latgab ditunda sampai 18 Maret, sementara Korsel dengan alasan akan fokus bagi penyelenggaraan olimpiade musim dingin juga menyampaikan usulan sama.
Seperti yang ditawarkan Korsel sebelumnya, jika jadi terlaksana, perundingan mengambil tempat di zona demiliterisasi (DMZ) di Desa Panmunjom antara petinggi dua bangsa serumpun itu merupakan yang pertama kali sejak akhir 2015.

Topik bahasan dialog terkait Olimpiade Musim Dingin dimana Korut seperti yang disampaikan pemimpin tertingginya, Kim Jong Un dalam pidato tutup tahun 2017 menyatakan niat untuk mengirimkan kontingen negaranya.

Dalam pertemuan tingkat tinggi itu, tidak mustahil pula bila dirembug isu politik yang lebih sensitif terkait hubungan bilateral kedua negara yang secara teknis hingga kini masih berstatus perang.

Namun demikian, secara tersirat, Jubir Kementerian Unifikasi Korsel Baek Tae-hyung menegaskan lagi sikap negaranya yang tetap tidak berubah untuk mengupayakan perlucutan program pengembangan senjata nuklir Korut.

Selama ini, rezim Kim Jong Un bergeming atas seruan dan embargo internasional dan terus melakukan tes bom nuklir dan peluncuran rudal-rudal balistik dengan alasan hal itu dilakukan demi melindungi negaranya dari ancaman musuh.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump yang selama ini “rajin” meladeni ujaran
kebencian yang dilontarkan Jong Un di media, menyambut baik rencana dialog dan mengaku ia juga berkontribusi bagi wacana tersebut.

“Dialog mustahil diwujudkan jika saya tidak tegas serta menunjukkan komitmen untuk menghadapi Korut dengan kekuatan, “ kilahnya. Kelompok oposisi misalnya Partai Kebebasan Korsel juga mengingatkan agar pemerintah berhati-hati membuat kesepakatan dengan Korut dan menganggap dialog terkait olimpiade tidak ada artinya jika isu perlucutan senjata tidak dibahas.

Namun di pihak lain, Jepang yang selama ini juga ikut terancam karena berada dalam jarak jangkau rudal-rudal balistik Korut juga tidak begitu saja mempercayai langkah Korut yang selama ini dinilai tidak konsisten.

Menhan Jepang Itsunori Onodera mengingatkan, tidak hanya baru kali ini Korut menyatakan ingin berdialog, namun faktanya tetap saja melakukan provokasi dengan meluncurkan rudal-rudalnya.

Laporan intelijen AS juga memperkuat kecemasan Menhan Jepang itu. Dari citra satelit pada 25 Desember tampak ada benda (berupa bangunan) dipindahkan dari lokasi peluncuran rudal Korut di Sohae, Propinsi Pyongan, mengindikasikan aktivitas penyiapan mesin roket.

Niat tulus pimpinan kedua Korea untuk mewujudkan perdamaian dinanti-nanti terutama oleh bangsa serumpun Korea yang lelah dan menderita menjadi korban perang dan juga masyarakat dunia. (Reutres/AP/AFP/ns)

Advertisement