“PD” di Ajang Olimpiade

Pasangan ganda bulu tangkis puteri Indonesia yang berhasil menyabet medali juara di Olimpiade Tokyo Grecia Polii dan Apriyani Rahayu , satu-satunya medali emas untuk kontingen RI.

MEDALI di ajang olimpiade bagi seorang atlit adalah pembuktian prestasi tertinggi dalam helat olahraga amatir terakbar sedunia itu yang selain membanggakan dirinya, juga mengharumkan bangsa dan negara.

Di pentas Olimpiade 2020 yang masih berlangsung di Tokyo saat ini, Indonesia menorehkan lima medali yakni satu emas diraih pemain ganda puteri Greycia Polii dan Apriyani Rahayu.

Lalu satu perunggu dari bulutangkis tunggal petera Anthoni Sinisuka Ginting, satu perak dari lifter putera (kelas 61 Kg) Eko Yuli Irawan dan perunggu dari lifter puteri (49 Kg)  Windi Chantika dan lifter putera (73 Kg) Rahmat Abdullah.

Tentu bangsa Indonesia berterima kasih atas perjuangan tak kenal lelah mereka sehingga berhasil mengukir prestasi tertinggi olimpiade yang bersemboyankan yang terkuat, tertinggi dan tercepat (Fortius, Altius dan Citius) itu.

Selain sontak menjadi pesohor, hadiah pun bertaburan diterima Grecia dan Apriyani berupa tunai dari pemerintah, perorangan dan korporasi,  apartemen, rumah, sapi, bahkan gerai bakso atau makan-minum gratis seumur hidup oleh pemilik café.

Sayangnya, dari 28 anggota kontingen RI di delapan cabor (angkat besi, atletik, bulu tangkis, dayung, menembak, panahan, renang dan  selancar) di Olimpiade Tokyo, hanya enam atlit cabor bulu tangkis dan angkat besi yang mempersembahkan medali.

Perolehan medali kontingen Indonesia, negara berpenduduk 270 juta jiwa yang berada pada klasemen ke-35 atau di bawah Kuba (15), Uzbekistan (38) atau Kossovo (20)  rasanya juga masih jauh dari harapan.

Dari sisi talenta, Indonesia dengan ragam etnis memiliki stok potensi atlit berlimpah, misalnya cabor olahraga keras seperti tinju dari Maluku dan Papua, lari atau marathon dari wilayah dengan padang kering seperti NTT dan NTB atau etnis Tionghoa yang berkiprah di bulu tangkis atau tenis.

Mengambil contoh Kuba misalnya, negara miskin di Laut Karibia, atlit-atlit cabor kerasnya seperti tinju atau gulat cukup moncerdi ajang int’l  seperti olimpiade. Di Tokyo, Kuba sampai hari ini sudah mengoleksi empat emas, tiga perak dan empat perunggu.

Prestasi olahraga bagi atlit Kuba juga menjadi salah satu cara untuk mengentaskannya dari kemiskinan dan memperoleh berbagai privilege, sehingga mereka pun mati-matian mengejarnya.

Disiplin Bangsa

Disiplin adalah salah satu faktor penting yang berkontribusi bagi presatasi olahraga suatu bangsa, tidak hanya cerminan para atlitnya, tetapi juga  pelatih dan seluruh stakeholders lainnya, bahkan juga para politisi, pemimpin dan masyarakatnya.

Namun di tengah ketatnya persaingan olahraga, disiplin dan telenta saja juga tidak cukup, dituntut pula pemenuhan berbagai faktor mulai dari gizi dan nutrisi bagi atlit, kemampuan menghirup oksigen (Vo-Max), pembentukan otot  atau persyaratan lainnya untuk membuat mental dan fisik mereka istimewa.

Disiplin, telenta, gizi dan nutrisi, juga  kebugaran fisik dan psikis, ditengah ketatnya persaingan, masih menuntut faktor lainnya seperti  pencarian bakat dan pembinaan serta kompetensi berjenjang mulai tingkat kelurahan dan juga kelompok umur.

Sudahkah semua dilakukan? Tentu jawabannya, “masih jauh “panggang dari api”.

Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI)   yang memiliki perwakilan di provinsi dan kabupaten/kota, apakah sudah proaktif melakukan “talent scouting” untuk mencari bibit-bibit atlit?. Apakah anggaran yang ada sudah optimal dimanfaatkan untuk pembinaan olahraga?

Bagaimana dengan para pimpinan daerah, mulai dari lurah sampai  gubernur. Apa greget atau kontribusi mereka bagi pengembangan olahraga di wilayahnya?

Helat empat tahunan PON misalnya, acap kali hanya dipandang sebagai proyek oleh Pemrov yang menjadi tuan rumah atau bagi para pemenang proyek, mengingat  besarnya alokasi dana pembangunan sarana, prasarana dan fasilitas yang diperlukan.

Akibatnya, venue-venue yang sudah dibangun mangkrak dan mubazir setelah helat usai . Selayaknya, calon tuan rumah PON harus diberi target prestasi bagi atlitnya dan juga pengembangan selanjutnya dengan  memanfaatkan fasilitas yang sudah dibangun.

Agaknya perjalanan masih amat jauh untuk menjadikan RI sebagai negara papan atas prestasi olahraga di level regional, apalagi global.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement