WALAU masih jauh “panggang dari api”, hawa perdamaian kian semilir bertiup di Semenanjung Korea, dan paling tidak, ujaran kebencian, permusuhan dan saling hujat, pupus sementara dari diksi pemimpin dan media kedua negara serumpun yang bersteru.
Sejak Perang Korea yang berkecamuk pada 1951 – 1953, Korsel dan Korut secara teknis masih dalam status berperang, belum ada kesepakatan damai, kecuali gencatan senjata sementara.
Sekitar lima juta orang tewas, lebih separuhnya warga sipil dalam Perang Korea yang menyeret koalisi internasional negara-negara Barat dipimpin AS yang berada di kubu Korsel, melawan Korut yang didukung Rusia dan China.
Di tapal batas keduanya, dengan pengeras-pengeras suara berukuran jumbo, pihak Korut menyiarkan propaganda dan mengumandangkan mars perjuangan, sementara pihak Korsel menyetel lagu-lagu K-pop yang diam-diam juga digemari warga Korut.
Korut di tengah kecaman dan sanksi embargo internasional dan himpitan ekonomi, terus melakukan uji-uji coba rudal balistik dan senjata nuklir, sementara Korsel, didukung mitranya, AS secara rutin menggelar latihan perang-perangan.
Ketegangan mereda ketika Korut mengirim delegasi tingkat tinggi dan kontingen atlit dan kesenian dipimpin Kim Jo Yong, adik perempuan Presiden Kim Jong Un di ajang Olimpiade Musim Dingin di PyeungChang Februari lalu, dibalas kunjungan pejabat tinggi Korsel dan grup musik K-pop ke Korut.
Menjelang tatap muka antara Presiden Korsel Moon Jae-In dan Presiden Korut Km Jong Un, kemungkinan akhir April atau awal Mei, hubungan kedua pemimpin tampak semakin mesra, ditandai dengan terpasangnya jaringan telpon langsung (hotline) antara mereka.
Melalui sambungan itu, baik Jong Un mau pun Jae-in dapat sewaktu-waktu mengangkat telpon untuk berbicara langsung dengan mitranya.
Sebelumnya, di bawah Presiden Korut Kim Jong il (ayah Jong Un) dan Korsel di bawah Presiden Kim Dae-Jung juga pernah dibuka hotline di wilayah keamanan bersama (DMZ) di Panmunjon, pada tahun 2000, namun “putus-nyambung-putus-nyambung”.
Perang mulut antara Presiden AS Donald Trump dan Jong Un juga ikut mereda, bahkan lebih maju lagi, kedua pemimpin sepakat melangkah ke pertemuan guna membahas isu perlucutan program nuklir Korut, Mei atau Juni nanti.
Rakyat kedua negara, kawasan dan dunia tentu saja menyambut gembira beraraknya awan perdamaian di Semenanjung Korea.
(FP/Reuters/NS)





