
SAMPAH selain menjadi sumber penyakit dan merusak pemandangan, berpotensi kebakaran dan juga merendahkan citra bangsa, apalagi jika menumpuk di kawasan ibukota yang seharusnya menjadi etalase suatu negara.
“The clean is Dutch”, suatu stigma atau julukan positif yang terbentuk terhadap Belanda yang pernah menjajah Indonesia selama ratusan tahun, mencerminkan tingginya perhatian dan kepedulian mereka tehadap kebersihan, tentunya termasuk pula penanganan sampah.
Sebaliknya, media menyebutkan pekan ini Pemrpov DKI Jakarta sedang disibukkan menangani “gunung” sampah rumah tangga hampir sepanjang 600 meter di kolong jalan tol Ir. Wijoto Wijono, di Gang Warakas 1, Kel. Papanggai, Tg. Priok, Jakarta Utara.
Cukup lama, warga yang tinggal di lingkungan sekitarnya telah membuang sampah di lokasi tersebut sejak 18 tahun lalu saat ruas jalan tol Tanjung Priok mulai difungsikan sehingga membentuk tumpukan sampah setinggi antara satu hingga satu setengah meter.
Ratusan petugas kebersihan DKI Jakarta yang dikerahkan sejak pekan lalu (17/4) dperkirakan baru bisa membersihkan seluruh tumpukan sampah yang didominasi limbah rumah tangga itu dalam waktu sebulan.
Bisa dibayangkan, sampai hari ketiga pembersihan saja, sudah terangkut 150 ton sampah, padahal sampah yang tersisa masih menggunung, karena jumlah yang sudah diangkut baru sekitar sepuluh persen.
Dinas Kebersihan DKI Jakarta mencatat 7.000 ton sampah dihasilkan setiap hari di ibu kota dari wilayah permukiman, kali, sungai, pasar sampai perkantoran. Untuk menanganinya, dioperasikan 1.200 unit truk sampah.
Pemandangan berupa tumpukan atau serakan sampah termasuk juga bedeng-bedeng liar juga mudah ditemui di sejumlah sisi kawasan sepanjang rel jalur kereta komuter di wilayah Jabotabek.
Berbeeda dengan di negara-negara maju, dari atas KA selayaknya penumpang bisa menyaksikan pemandangan atau panorama yang khas dan menarik, bukan lautan sampah atau kekumuhan lainnya yang membuat enggan wisatawan berkunjung.
Tidak hanya di daratan, Pemprov DKI Jakarta sejak 15 April juga disibukkan untuk memerangi serangan sampah yang dikhawatirkan merusak ekosistem kawasan tanaman mangrove di pesisir Marunda, Jakarta Utara.
Tidak kurang 1.000 anggota pasukan kebersihan dikerahkan untuk membersihkan pantai dari 300 ton sampah yang mencemari dan menganggu pemandangan di kawasan tersebut.
Dalam pilkada serentak dan pilpres mendatang, bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang bersih, tidak sebatas dalam artian anti rasuah atau grafitasi, tetapi juga yang peduli dan memiliki greget membersihkan wilayah yang dipimpinnya dari tumpukan sampah.




