JAKARTA – Sebuah gerobak mie ayam berwarna biru berhenti tepat dibawah papan neon box Mini Market yang juga berwrna biru di Jalan Lingkar Selatan no 99, Salakan, Trihanggo, Gamping, Sleman, DIY.
Dipukulnya kentong tanda ia telah tiba. Tak berselang lama, perlahan para pembeli mendekat pada dirinya. Sudah setahun terakhir tempat tersebut telah menjadi pangkalan favorit Sunardi (49)menjajakan mie ayam.
“Sek yo nunggu umup (nanti ya nunggu mendidih),” ujar Sunardi sembari menyiapkan tikar kepada pelanggannya seperti dilansir Tribun Jogja, Senin (07/11/16)
Kendati berprofesi sebagai penjual mie ayam, namun dalam urusan bersyukur Sunardi patut diacungi jempol. Di gerobak kesayangannya tersebut, Sunardi tidak hanya membawa mi ayam untuk para pelanggannya. Namun ia juga membawa suatu benda yang sudah menjadi langganan hatinya.
Terletak di laci paling atas gerobaknya, sebuah buku kumpulan Surat-surat Alquran bersanding rapi dengan pecis dan tasbih.
Berbeda dengan kebanyakan pedagang yang melakukan aktivitas seperti mendengarkan musik atau bermain smarthphone saat menunggu pelanggan, Sunardi justru sering melafalkan Ayat-ayat Alquran disela-sela kekosongan waktunya.
Menurutnya dengan membaca Alquran hati menjadi adem dan tentram.
“Membaca ayat-ayat Alquran agar gangguan tidak ada baik jin maupun manusia. Dunia akhirat dan rezeki juga lancar,” ujarnya.
Pria yang tinggal di Rt 1 Rw 30 Nambungan, Tlogoadi, Mlati, Sleman tersebut menuturkan membaca Ayat-ayat Alquran baginya sudah merupakan kebutuhan rohani. Jika suatu hari ia tidak membacanya, serasa ada yang kurang di dalam hatinya.
“Kalau sudah biasa, tidak dilakukan kaya ada yang kurang,” kata Sunardi.
Dengan harga Rp 7 ribu per mangkok, setiap harinya Sunardi mampu menjual hingga 80 mangkok mie ayam. Dari hasil berdagang mie ayam Sunardi mengaku mampu menghidupi istri dan kedua anaknya yang telah lulus SMK dan yang masih berusia 4,5 tahun.




