“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS Hud: ayat 15-16)
JAKARTA – Sedekah atau wakaf dapat dilakukan secara terbuka maupun diam-diam. Namun, sedekah secara sembunyi-sembunyi lebih dianjurkan karena dapat menghindarkan seseorang dari sikap riya atau pamer.
Meski riya merupakan persoalan hati yang tidak bisa dinilai oleh manusia, penting untuk saling mengingatkan agar amal sedekah tidak sia-sia di mata Allah.
1. Sedekah untuk Pencitraan
Sedekah yang bertujuan untuk mendapatkan pujian atau membangun citra positif hanya akan mendapat balasan di dunia berupa penghormatan dari manusia.
Namun, di sisi Allah, sedekah semacam ini kemungkinan besar tidak mendapatkan pahala. Jika niat sedekah bukan karena Allah, mengapa Allah harus memberikan ganjaran?
2. Bahaya Menipu Diri Sendiri
Sedekah pencitraan bisa membuat seseorang merasa dirinya dermawan, padahal itu hanya ilusi. Orang yang benar-benar dermawan tidak memerlukan ucapan terima kasih atau sanjungan dari manusia. Sedekah dengan niat untuk dilihat manusia menandakan bahwa niatnya bukan untuk Allah.
3. Dampak Menularnya Sedekah Pencitraan
Ketika seseorang menunjukkan sedekahnya di depan publik, orang lain mungkin menirunya. Misalnya, ada dermawan yang sengaja mengundang media untuk meliput kegiatannya memberi santunan atau membangun fasilitas umum. Meski bisa memotivasi orang lain untuk bersedekah, tindakan ini kurang baik jika hanya untuk pencitraan.
Riya, yang bersumber dari hati, sering kali tidak terasa atau tidak terlihat. Namun, kita harus berhati-hati agar tidak tergelincir ke dalamnya. Berikut adalah kisah dari hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh beberapa ulama tentang bahaya riya di akhirat.
Kisah Orang-Orang yang Riya di Akhirat
- Pejuang yang Masuk Neraka
Seorang pria yang gugur di medan perang menghadap Allah dan mengklaim bahwa ia berperang demi Allah. Namun, Allah membantahnya dengan mengatakan bahwa ia berperang agar dikenal sebagai pemberani. Akibatnya, ia diseret ke neraka.
- Ulama yang Masuk Neraka
Seorang ulama yang mengajarkan Al-Qur’an juga dipanggil. Ia mengaku melakukannya demi Allah. Namun, Allah menyatakan bahwa ulama tersebut hanya ingin disebut alim dan qari. Ia pun dihukum dengan dilempar ke neneraka.
- Dermawan yang Masuk Neraka
Seorang dermawan kaya mengklaim bahwa ia bersedekah karena Allah. Namun, Allah mengungkap bahwa ia bersedekah untuk disebut dermawan. Akhirnya, ia juga dihukum ke neraka.
Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa riya adalah penyakit hati yang berbahaya. Semoga Allah melindungi kita dari sifat riya dan menjadikan amalan kita murni hanya untuk-Nya. Na’udzubillah min dzalik.





