
SELAIN cuma menang amat tipis dalam pemungutan suara di Knesset atau parlemen Israel, Minggu lalu (13/6), pemerintah koalisi “gado-gado” pimpinan PM baru Naftali Bennet cukup rentan.
Dengan dukungan delapan fraksi koalisi di Knesset yang memperoleh 60 suara, sementara kubu lawannya, petahana PM Benyamin Netanyahu dari Partai Likud yang sudah berkuasa 12 tahun dengan 59 suara, Bennet yang memimpin Partai Yamina berhasil membentuk pemerintahan.
Aliran kubu pengusung koalisi Bennett dari delapan parpol, benar-benar beragam, mulai dari kelompok ultra kanan (Israel Beitinu, Yamina), Yesh Atid dan Kachol Lavan (liberal), Partai Buruh (Sosial Demokrat), Meretz dan New Hope (kiri) dan untuk pertama kali, Partai Arab United List (Ra’am) juga terwakili.
Selain berupa kubu yang warna-warni, rentan pembelotan dan dengan selisih suara amat tipis, mantan PM Netanyahu pun yang kini berada dalam kubu oposisi berjanji akan menjatuhkan rezim pemerintah baru secepatnya.
Hari ini, Selasa (15/6) akan menghadapi ujian pertama sehubungan dengan pawai bendera tiap tahun yang akan digelar oleh kelompok ekstrimis Yahudi untuk memperingati jatuhnya wilayah Jerusalem Timur ke tangan Israel pada Perang Enam Hari, Juni 1967.
Pimpinan Ra’am, Mansour Abbas seperti dikutip Jerusalem Post sudah menyatakan, pihaknya yang bukan tergabung dalam kubu Zionist, tidak akan ragu menyampaikan sikapnya terhadap pawai tersebut.
Pasalnya, jika Ra’am dengan empat suara yang tergabung dalam koalisi delapan fraksi pengusung PM Bennett memutuskan mundur karena menentang pawai tersebut, berarti pemerintah langsung ambruk, karena kursi di parlemen tinggal 56, atau di bawah oposisi dengan 59 suara.
Penyelenggaraan pawai bendera itu sendiri yang menjadi salah satu isu paling panas pasca konflik Gaza, menurut sejumlah pengamat, dianggap bagian manuver mantan PM Netanyahu untuk menumbangkan pemerintah Bennett.
Sedianya, pawai akan digelar 10 Mei lalu, tetapi ditunda sampai 10 Juni akibat pengeboman yang dilancarkann Israel terhadap Gaza, Palestina, Mei lalu, kemudian ditunda lagi sampai hari ini (15/6).
Sementara itu, Palestina sendiri seperti disampaikan oleh PM Mohammad Shtayyeh, melihat pemerintah Israel baru di bawah Bennett bakal sama buruknya seperti rezim Netanyahu.
“Kami tidak melihat pemerintah baru Israel lebih baik dari sebelumnya, yang mendukung permukiman Yahudi di atas tanah Palestina. Kami mengecamnya, “ tandas PM Shtayyeh.
Gunjang-ganjing politik di Israel yang terjadi sejak Pemilu April lalu karena Partai Likud pimpinan Netanyahu yang menang tidak berhasil membentuk pemerintaham, agaknya bakal terus berlanjut . (AP/AFP/Reuters/ns)




