
RAKYAT Turki yang memimpikan perubahan terpaksa gigit jari karena Presiden petahana Recep Tayyip Erdogan dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) untuk sementara memenangi putaran kedua pilpres yang digelar, Minggu (28/5).
Sampai berita ini diturunkan, menurut catatan Dewan Pemilu Turki, Erdogan sudah berhasil mengungguli lawannya dengan perolehan 54,5 persen suara, sedangkan Kemal Kilicdaroglu dari Partai Rakyat Republik (CHP) meraih 45,5 persen.
Sementara kantor berita Resmi Anadolu mencatat, dari 97 persen suara yang masuk dari total 64 juta pemilih, Erdogan mengumpulkan 52,2 persen suara, sedangkan Kilicdaroglu 47,8 persen, sedangkan menurut Kantor Berita Indepeden, Angka, Erdogan meraih 50,06 persen suara dan Kilicdaoglu 49,4 persen.
Pada putaran pertama pilpres yang digelar 16 Mei, Erdogan juga memenanginya dengan 49,4 persen suara dibanding Kirlicdaroglu 44,9 persen, sedangkan di pemilu legislatif, dari total 600 kursi di parlemen, AKP mendapatkan 266 kursi, sementara CHP hanya 169 kursi.
Erdogan yang akan menjabat presiden untuk ketiga kalinya dan sebelumnya pernah menjabat perdana menteri dua kali, dinilai memerintah dengan tangan besi terutama setelah aksi kudeta 2016 2016 yang gagal terhadap dirinya oleh tokoh pembangkang Fetullah Gulen yang bermukim di AS.
Erdogan agaknya berhasil mempertahankan dukungan dari para pemilih konservatif yang setia dari kelompok Islam mau pun sekuler serta meningkatkan peran Turki di kancah int’l walau pun ia banyak dikritik terkait kebijakan ekonomi berupa tingginya inflasi dan melonjaknya biaya hidup.
Sebaliknya, Kirlicdaroglu (74) yang berpenampilan halus dalam kampanyenya bertekad memulihkan demokrasi dan berupaya mengakomodasi aspirasi kelompok nasionalis yang menginginkan pemulangan jutaan pengungsi Suriah di Turki yang membebani ekonomi negara itu.
Turki sebagai anggota Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) tentunya juga ikut terseret dalam persoalan geopolitik terkait invasi Rusia di Ukraina yang belum ada solusinya. (AP/AFP/Reuters/ns)




