PEMIMPIN itu tak ada sekolahnya, karena pemimpin lahir oleh tantangan dalam masyarakat sekitarnya, begitu kata pahlawan nasional M. Natsir. Namun pemimpin yang berkarakter, hanya bisa diperoleh lewat pembelajaran sejarah. Sedangkan yang ada dan kebanyakan, hanyalah pejabat yang sekedar mencari nikmat. Tapi nanti bila sudah tak menjabat, kerjanya mengeluh melulu demi kepentingan sesaat.
Boediono saat menjadi Wapres pernah mengingatkan, seorang pemimpin harus punya wawasan. Sedangkan wawasan bisa diperoleh lewat sejarah, khususnya membaca biografi para pemimpin dunia. Sayangnya, generasi muda sekarang kurang menyukai sejarah. Jangankan membaca sejarah, membaca buku-buku saja umumnya ogah. Mereka baru mau baca sepanjang ada hubungan mata pelajaran atau mata kulihanya.
Fisika dan matematika memang lebih menantang dan merangsang untuk kesejahteran. Sedangkan menggumuli sejarah hanya akan akrab dengan dokumen usang berdebu, artefak dan sebangsanya yang tidak menjanjikan secara ekonomi. Maka tak mengherankan ada praktisi kesejarahan yang nampak kurus seperti kurang gizi.
Fisika dan matematika itu memang hanya milik orang-orang cerdas. Tapi pemimpin tak bisa hanya mengandalkan kecerdasan. Dengan pembelajaran sejarah masa lalu, khususnya tentang biografi pemimpin dunia, calon pemimpin bisa bertambah wawasannya. Dia akan tahu misalnya, bagaimana tekad mahapatih Gajahmada yang bersumpah takkan makan buah palapa sebelum nusantara bersatu.
Dengan membaca sejarah, seorang pemimpin bisa memiliki karakter. Bahkan Gus Solahudin Wahid bilang, dengan membaca cerita silat seseorang bisa memiliki karakter, bagaimana misalnya harus cinta tanah air, cinta kebenaran, kesetiaan, Atau jika merujuk pemikiran Ki Hajar Dewantoro, seorang pemimpin haruslah bisa bersikap ing ngarsa sung tulada (di depan memberi contoh), ing madya mangun karsa (di tengah memberikan kesempatan) dan tut wuri handayani (di belakang mengawasi dan menyemangati).
Bung Karno pernah menyindir orang kepercayaannya, Ruslan Abdulgani, bekas Menlu dan Mempennya. Sebagai orang Surabaya kok tidak mengerti wayang. Memang tidak salah sih, tapi kata Bung Karno, “Pemimpin atau pejabat yang tidak mengerti filosofi wayang bisa salah dalam membuat kebijakan.”
Betul kata Bung Karno. Kisah wayang memang bisa menginspirasi pemimpin/pejabat dalam mengambil kebijakan. Kisah Adipati Karno, Kumbokarno, Patih Suwanda (Sumantri); adalah kisah keteladanan dalam “Serat Tripama” yang dikupas mendalam oleh suwargi Mangkunagoro ke-IV. Bisa juga kisah Begawan Bagaspati, yang rela mengorbankan nyawa demi kebahagiaan putrinya, Dewi Pujawati yang kasmaran pada Raden Narasoma (Prabu Salyo).
Pemimpin itu kebanyakan mendapat pengakuan bukan dari lembaga atau institusi, tapi dari masyarakat lingkungannya. Penampilannya juga low profile, tidak harus berjas dan berdasi, apa lagi pakai baju safari. Tapi segala tindakannya bisa menjadi acuan dan tuntunan. Dia akan dipatuhi oleh kelompok dan pengikutnya. Karena ya itu tadi, dia berprinsip pada sikap: ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani tersebut.
Bagaimana dengan pejabat sekarang pada umumnya? Berbalik 180 drajat. Meski lebih banyak yang pakai baju putih dan berbatik, tapi perilakunya tak jauh beda dengan pejabat yang bersafari. Dia bekerja selalu hanya berdasarkan petunjuk, baik petunjuk atasan di institusi atau partainya. Dia tak mampu mengembangkan kebijakan itu kecuali yang sudah termaktub dalam permen dan UU.
Bukan lagi ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, tapi: Di depan ambil duluan, di tengah main sikut kanan kiri, di belakang menggerutu bila tak kebagian atau diberi kesempatan! Paling celaka, setelah tidak menjabat terkena post powersyndrome, kerjanya curhat melulu dan menempatkan diri sebagai korban. (Cantrik Metaram).





