SURIAH – Mohamad Katoub, seorang dokter dan pejabat di American Medical Society Suriah, yang membantu menjalankan beberapa rumah sakit di Ghouta, mengatakan saat ini terdapat 68 kasus malnutrisi parah di rumah sakit di wilayah tersebut.
Jumlah sebenarnya mungkin lebih tinggi karena kesulitan mengumpulkan data dari semua fasilitas medis di daerah yang dilanda perang. Dia mengatakan kematian di antara pasien ini biasanya akibat malnutrisi yang melemahkan sistem kekebalan tubuh mereka, yang kemudian gagal menangkal infeksi.
Yahya Abu Yahya, seorang dokter di wilayah tersebut, mengatakan kepada AFP bahwa dari 9.700 anak yang diperiksa dalam beberapa bulan terakhir, 80 orang menderita kekurangan gizi paling parah, 200 menderita malnutrisi akut sedang dan 4.000 mengalami kekurangan gizi.
“Hari ini Ghouta timur menderita kriminalitas terburuk,” kata aktivis Raed Srewel. “Ribuan anak berada dalam bahaya, dan jika tidak ada gerakan internasional atau sebuah inisiatif PBB untuk menyelesaikan ini, konsekuensinya akan sangat berbahaya dan Ghouta akan menjadi malapetaka kemanusiaan.” ungkapnya.
Ghouta Timur adalah salah satu dari beberapa zona “de-eskalasi” yang dibuat berdasarkan kesepakatan yang ditengahi oleh Rusia dan Turki untuk mengurangi kekerasan di Suriah. Namun pemerintah terus memaksakan pengepungan di wilayah tersebut, sehingga menimbulkan kekhawatiran yang meningkat atas penderitaan warga sipil.
Pejabat bantuan mengatakan bahwa keluarga dipaksa untuk menjual suplemen makanan untuk membeli makanan pokok yang lebih penting seperti gula atau roti, yang menyebabkan kasus malnutrisi akut.
Pemerintah telah membatasi bantuan yang diberikan ke wilayah-wilayah tersebut oleh organisasi internasional dan PBB, dan pertarungan baru-baru ini antara pemberontak membuat lebih sulit untuk mengirim bantuan.
Kekurangan ini telah memunculkan pasar gelap lokal yang dikendalikan oleh pedagang yang tidak bermoral, yang telah memperburuk penderitaan warga sipil dan membuat makanan pokok sangat mahal harganya. Kebanyakan keluarga hidup dari roti yang terbuat dari jelai, buah zaitun dan tanaman rebus.
Diberitakan sebelumnya jika seorang bayi berusia satu bulan, Sahar Doofda meninggal akibat kelaparan, karena sang ibu tak dapat menyusuinya, dimana ibunya saja tidak mendapat cukup gizi. Hal ini membuktikan jika penderitaan warga Suriah masih terus berlanjut hingga kini.




