Ingin sekolah gratis lengkap dengan fasilitasnya, mungkin hal itu nyaris sulit didapat. Namun, di tangan wanita berusia 46 tahun ini hal tersebut dapat terwujud.
Bahkan, bukan hanya gratis biaya pendidikan, siswa juga mendapat fasilitas kesehatan, dan biaya untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat berikutnya.
Inilah kerja mulia Ade Pujiati yang telah mendirikan SMP Ibu Pertiwi, sekolah gratis bagi anak tak mampu.
Jangan bayangkan sekolah yang terletak di Komplek Perdatam, Pancoran, Jakarta Selatan ini seperti sekolah pada umumnya; ada bangunan fisik, ruang kelas, laboratorium, dan sebagainya.
Sekolah gratis besutan Ade Pujiati ini hanyalah sebuah rumah tinggal yang ia sulap menjadi tempat belajar. Ruang belajarnya pun menggunakan teras dan ruangan lainnya yang ada di dalam rumah.
Ide ini bermula dari rasa kecewa terhadap kebijakan pemerintah soal biaya sekolah yang masih mahal untuk orang tidak mampu. “Saya sering bertanya kepada pihak sekolah tempat anak asuh saya belajar, mengapa banyak pungutan,”katanya.
Pungutan itu,katanya, melalui program pengadaan buku, pengadaan perlengkapan sekolah dan lain-lain.
Sikap kritis Ade terhadap pihak sekolah justru berimbas kepada anak-anak asuhnya di sebuah SD negeri mendapat perlakuan kurang adil. Sejak itu, wanita yang pernah kuliah di Universitas Indonesia ini bertekad membuat sekolah gratis.
Selama dua tahun, wanita yang pernah menjadi guru piano itu mencari informasi konsep pendidikan gratis, dari teman, saudara, juga murid les pianonya. Bahkan, ia juga mencoba cari tahu konsep pendidikan di Jepang dan Amerika melalui adik dan kakaknya yang tinggal di negara tersebut.
Banyak teman dan keluarganya menganggap Ade tidak waras lantaran menampung anak anak miskin. “Teman saya mengatakan ini ide gila, karena mengumpulkan orang miskin dan yang bodoh pula. Selain itu, ditanggung semuanya lagi,” kata Ade.
Ide “gila” ini berhasil Ade wujudkan. Awal September 2007 Tempat Kegiatan Belajar Mandiri (TKBM) SMP Gratis Ibu Pertiwi tersebut berhasil berdiri dan mendapat izin dari Suku Dinas Pendidikan Dasar Jakarta Selatan. Bahkan, sekolah ini tergolong sekolah formal yang setara dengan sekolah umum.
“Sekolah ini menginduk pada SMP Negeri di Jakarta Selatan. Jadi, ijazahnya yang mengeluarkan SMP itu,” ujar Ade.
Saat ini siswa di SMP Ibu Pertiwi berjumlah 25 orang, yang aktif sebanyak 18 orang.
Sekolah gratis dengan konsep yang diterapkan Ade ini menurutnya hanya ada satu di Jakarta, bahkan di Indonesia. “Sekolah disini gratis dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dapat susu, dapat biaya kesehatan lengkap gratis, semua kebutuhan sekolah ditanggung , itu yang membedakan dibanding sekolah lain,” kata wanita yang pernah bekerja sebagai wartawan media cetak ibukota.
Dana Urunan
Menurut Ade, murid-murid yang lulus dari SMP Ibu Pertiwi dengan akhlak baik akan mendapat bantuan dana untuk biaya melanjutkan sekolah, serta biaya hidup perbulan. Ade mencontohkan, ada seorang muridnya yang sampai kini masih dibiayai, baik dari sekolahnya maupun kebutuhan hidupnya. “Tiap tahun kita mengevaluasi, sampai sekarang tinggal dua anak. Kita akan memberhentikan bantuan itu jika ada anak yang ketahuan merokok, pacaran, dan berkeluyuran malam-malam, karena itu akan membuat sekolah jadi terganggu,” ujar Ade yang telah membiayai anak kurang dari 10 orang.
Meski harus menanggung biaya pendidikan dan kebutuhan murid-muridnya, Ade paling anti membuat proposal dan mengemis pada orang lain. Donatur hanya dari keluarga, saudara, teman dekat, dan 11 orang guru yang mengajar di sekolah tersebut. Jadi, bukannya dibayar, guru di sekolah SMP Ibu Pertiwi justru ikut menyumbang dana.
Memang, kata Ade, bantuan dari pemerintah ada, namun itu sifatnya hanya untuk operasional kegiatan sekolah bukan untuk membelikan kebutuhan anak. Alasan lain yang membuat Ade tidak mau meminta bantuan kepada lembaga-lembaga, karena SMP Gratis Ibu Pertiwi ini belum berbentuk yayasan. Ade bercerita, pernah suatu saat kekurangan uang untuk memenuhi kebutuhan muridnya. Terpaksa Ade dan anak didiknya membuat kue untuk kemudian dijual.
“Donatur kita sedikit tetapi istiqamah. Saya memang tidak berniat membuat sekolah ini menjadi besar. Saya ingin sekolah ini biasa, tapi hasilnya luar biasa,” pungkas Ade.




