
DELEGASI dari sejumlah negara termasuk Indonesia berkumpul di Astana, ibukota Kazakhstan guna mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerjasama Islam (KTT OKI) yang digelar 10 dan 11 September untuk membahas pengembangan dan penerapan teknologi.
Selain kerjasama bilateral antara RI dan tuan rumah, implementasi program-program yang diusung oleh para anggota OKI di bidang iptek juga dibahas pada pertemuan empat mata antara Wapres Jusuf Kalla dan PM Kazakhstan Bakytzhan Sagintayev di Astana, Sabtu (10/11).
Diakui Wapres, OKI sudah terlalu sering menggelar diskusi, seminar atau konvensi, namun minim implementasi, sehingga pertemuan kali ini fokus pada program  penerapan dan pengembangan teknologi bagi kemajuan bersama.
Selain Kazakhstan yang dulu bernaung di bawah Uni Soviet, menurut Jusuf Kalla, negara-negara berpenduduk mayoritas Islam seperti Turki, Iran atau Pakistan cukup maju dalam teknologi untuk diaplikasikan di negara-negara  OKI.
Ajakan RI untuk memajukan dan mengimplementasikan teknologi di kalangan OKI sangat relevan dan kontekstual mengingat kenyataan saat ini, dunia dikuasai oleh negara-negara yang memiliki tradisi dan kemajuan teknologi.
Di Asia, lihat saja Jepang dengan ekspor produk otomotifnya yang bahkan mengungguli AS dan negara-negara Uni Eropa dan produk-produk mesin dan peralatan elektronika dan lainnya yang membanjiri pasar dunia termasuk Indonesia, begitu pula Taiwan dan Korea Selatan.
Sebaliknya, negara-negara kaya di Timur Tengah berkat berkah minyak bumi yang melimpah ruah seperti Arab Saudi, UEA atau Qatar, memboroskan devisanya hanya untuk belanja produk-produk teknologi dari AS dan negara-negara Barat lainnya.
Di sektor anggaran militer, Arab Saudi yang bergelimang petro dollar mampu memborong pesawat-pesawat tempur, tank-tank atau radar pertahanan udara canggih dari AS dan negara-negara Barat lainnya.
Anggaran belanja militer Arab Saudi pada 2017 tercatat sebesar 87,2 milyar dollar AS (sekitar Rp1.160 triliun) atau terbesar ketiga di dunia setelah AS dan Rusia. Bandingkan dengan anggaran TNI yang cuma Rp114 triliun pada tahun yang sama.
Dengan jumlah anggaran sebesar itu Arab Saudi memiliki pesawat tempur Thypoon canggih buatan konsorsium Eropa, tank-tank tempur utama M1A2 Abrams dan helicopter serbu AH-64 Apache  buatan AS serta rudal anti kapal induk DF-21 Dongfeng buatan China.
Tentu saja para pemasok alutsista terutama AS dengan tangan terbuka dan senang hati menerima pesanan milyaran dollar karena menguntungkan dan menghidupi ribuan karyawan industri senjata dan jutaan karyawan industri pendukung lainnya.
Namun AS, demi menjaga keseimbangan di kawasan Timur Tengah, akan memenuhi permintaan Arab Saudi sepanjang tidak sampai menganggu keseimbangan dan mengancam keamanan Israel, mitranya di luar negara-negara Arab.
Bukan hanya manfaat ekonomi
Penguasaan teknologi juga keniscayaan, karena bukan sekedar terkait hitung-hitungan ekonomi – mengirit devisa jika diproduksi sendiri atau untuk meraup devisa jika diekspor –tetapi juga demi ketahanan dan pertahanan nasional.
Sejarah mencatat, negara kecil bangsa Yahudi, Israel mampu mengatasi kepungan negara-negara Arab yang jauh lebih besar:Mesir, Suriah dan Jordania, bahkan melumpuhkan kekuatan ketiganya hanya dalam enam hari pada Perang Arab – Israel 1967.
Berbeda dengan perang di era-era sebelumnya yang mengandalkan jumlah manusia, di era milenial saat ini, bisa dikatakan, negara yang menguasai teknologi, hampir bisa dipastikan akan memenangkannya.
Siapa yang memiliki persenjataan dengan jangkauan lebih jauh, lebih akurat dan lebih mematikan atau memiliki sistem pengendus, pengacak dan penjinak senjata lebih baik, akan keluar sebagai pemenangnya. Semuanya hasil teknologi.
Tentu, penguasaan dan penerapan teknologi, baik untuk kepentingan ekonomi mau pun pertahanan, tidak semudah membalik telapak tangan.
Selain pendanaan, dalam jangka panjang, perlu diciptakan prakondisi untuk mewujudkan masyarakat sadar teknologi, melalui pendidikan berjenjang sejak dini dan mendorong kreativitas melalui keterbukaan.
Birokrasi dan politisi yang tertutup dan korup serta masyarakat yang getol menebar hoaks,fitnah dan ujaran kebencian akan menjadi halangan dalam upaya  menumbuhkembangkan kesadaran teknologi.
Semoga tekad pertemuan OKI di Astana untuk mengembangkan dan mengaplikasikan teknologi tidak sekedar berujung dalam deklarasi atau penandatanganan MOU, kemudian terlupakan.



