Pengungsi Nduga Perlu Makan

Anak-anak pengungsi asal Nduga, Kab. Jayawijaya menyebar di Wamena, korban konflik berkepanjangan antara TNI/Polri dan kelompok bersenjata.

BANTUAN pangan mendesak dibutuhkan sekitar 5.000 pengungsi asal Kab. Nduga, Papua yang tersebar di 36 lokasi ibukota Kab. Jayawijaya, Wamena akibat konflik antara TNI/Polri dan kelompok besenjata.

Tim Solidaritas untuk Nduga mencatat, minimal 168 orang tewas, 139 diantaranya pengungsi, warga, kelompok bersenjata, anggota TNI/Polri karena kelaparan, gizi buruk, sakit atau tertembak sejak Desember lalu.

Sedangkan peneliti Marthinus Academy, Hipolitus Wangge yang dikutip CNN Indonesia (19/7) menuturkan, sejak awal sampai 16 Juli tercatat tiga pengungsi meninggal dalam proses pengungsian dari Nduga ke Wamena.

Wangge yang juga anggota Tim Solidaritas mengatakan, sekitar 5.000 warga Nduga mengungsi ke Wamena karena konflik antara kelompok bersenjata dengan aparat TNI/Polri sejak akhir tahun lalu.

Sejumlah pengungsi terserang penyakit ISPA akibat asap pembakaran kayu yang terhisap pengungsi, sedangkan anemia dan diare dipicu faktor makanan dan infeksi cacing.

“Para pengungsi makan seadanya. Mereka kekurangan asupan makanan,” kata Hipo, menerangkan kondisi pengungsi di Wamena yang memprihatinkan karena minim bantuan.

Dia tak menampik ada bantuan dari pemda setempat, namun dalam dua bulan terakhir bantuan semakin jarang disalurkan karena konflik yang terus terjadi di Nduga dan sekitarnya.

Masalah lain yang membuat bantuan sulit tersalurkan, menurut Hipo adalah sikap pemerintah yang sejauh ini meniai, yang terjadi di Nduga adalah kasus kriminal, bukan konflik bersenjata.

“Jadi perlu diakui dulu status konflik di Nduga ini apa. Pemerintah tak bisa menutup mata bahwa ada aspek perjuangan politik dalam konflik bersenjata ini,” katanya.

Keberadaan pengungsi menurut Hipo dapat ditangani dengan baik jika status konflik di Nduga telah jelas, yakni konflik antara pemerintah dengan kelompok pro kemerdekaan.

Segera Kirim Pangan
Sementara Pastor John Jonga Pr, penggiat HAM dan peraih Yap Thiam Hien Award 2009 mendesak agar penyediaan pangan bagi para pengungsi dijadikan prioritas pemerintah. “Emosi pengungsi tersulut akibat kelaparan, “ ujarnya.

Senada dengan Pastor Jonga, relawan gereja Kingmi Weneroma, Wene Tabuni juga menilai, kebutuhan mendesak kini adalah makanan bagi pengungsi terutama anak-anak, walau bangunan sekolah yang berada di area gereja rusak berat juga perlu direnovasi.

Ia mengaku nyaris dianiaya para pengungsi di Distrik Napua, Selasa lalu (23/7) oleh pengungsi yang kepalaran, padahal tim relawan tidak memiliki bahan pangan yang tersisa untuk dibagikan.

Sementara Kemensos meminta Dinas Sosial Pemprov Papua segera mendistribusikan 50 ton Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dan kebutuhan lain yang sudah disalurkan pemerintah pusat bagi korban konflik Nduga.

Kami mendesak agar bantuan logistik segera disalurkan dengan berkoordinasi dengan pihak aparat keamanan,” kata Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos Harry Hikmat di Jakarta, Sabtu (20/7).

Namun Harry mengakui, bantuan sejauh ini masih tersimpan di gudang Dinsos Provinsi Papua karena yang akan menyerahkan bersama dengan bantuan dari Pemprov Papua melalui gubernur.

Bantuan yang akan disalurkan berupa 50 ton Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dengan rincian 10 ton lewat Jayapura, 10 ton ke Distrik Mbua, Distrik Yal, Distrik Mbulmu Yalma dan 30 ton melalui Kabupaten Wamena.

Pemerintah pusat dan daerah seharusnya mengesampingkan segala hambatan yang memperlambat pengiriman bantuan.

Perut tidak dapat menunggu (lebih lama lagi)!

Advertisement