Lebanon-Pengungsi yang masih berada di Lebanon hampir 70 persen hidup di bawah garis kemiskinan.
Hal tersebut didapat dari survei yang disiarkan oleh PBB pada Senin (19/9).
“Sebanyak 70,5 persen pengungsi Suriah di Lebanon masih hidup di bawah garis kemiskinan,” kata survei tersebut, sebagaimana dikutip Xinhua Selasa (20/9) pagi.
Jumlah tersebut naik dibandingkan tahun 2015.
Menurut survei itu, pengungsi Suriah tersebut tetap “sangat rentan terhadap guncangan luar dan sangat mengandalkan bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup”.
Survei yang dikenal dengan nama Vulnerability Assessment of Syrian Refugees, dilakukan setiap tahun di Lebanon oleh Progam Pangan Dunia, Komisariat Tinggi PBB Urusa Pengungsi (UNHCR) dan Dana Anak PBB (UNICEF).
“Nasib buruk ekonomi pengungsi Suriah tidak bertambah buruk separah kondisinya tahun lalu, tapi kami mengetahui bahwa ini terjadi berkat bantuan luar. Situasi bahkan akan bertambah parah tanpa bantuan yang diterima setakat ini,” kata Mireille Girard, Wakil UNHCR di Lebanon.
Berdasarkan Rencana Tanggap Krisis Lebanon, 726 juta dolar AS telah disuntikkan ke dalam negeri tersebut pada 2016 guna membantu mencegah makin banyak pengungsi jatuh ke bawah garis kemiskinan, kata survei tersebut.
Selain itu, dalam penelitian tersebut juga tercatat 34 persen keluarga pengungsi di Lebanon menghadapi kondisi rawan pangan, naik dari 23 persen pada 2015.
“Ada peningkatan 11 persen jumlah rumah tangga yang mengurangi pengeluaran mereka untuk membeli makanan dan penurunan tujuh persen mereka yang membeli makanan secara kredit,” katanya.
“Temuan itu adalah pengingat buat kita semua bahwa banyak keluarga Suriah di Lebanon melakukan apa saja yang dapat mereka kerjakan dengan sarana terbatas untuk mempertahankan keselamatan dan kesehatan anak mereka,” kata Wakil UNICEF di Lebanon Tanya Chapuisat.





